Home  / 
KRP HKBP Pdt Dr Robinson Butarbutar:
Era Revolusi Industri ke-4, Gereja Jangan Sampai Kehilangan Aset Rohani
Minggu, 15 Juli 2018 | 10:16:20
Pdt Robinson Butarbutar
Pematangsiantar (SIB) -Saat ini gereja-gereja di dunia, tidak terkecuali di Indonesia tengah hidup menghadapi era revolusi industri ke-4. Di mana gereja sebelumnya tidak memprediksi perkembangan revolusi industri yang begitu pesat mempengaruhi dan merubah totalitas sendi-sendi kehidupan manusia dan warga gereja. Hal ini dikatakan  Ketua Rapat Pendeta HKBP Pdt Dr Robinson Butarbutar di kediamannya, di Pematangsiantar, Sabtu, (6/7).

Hal ini dikatakan sehubungan maraknya pemakaian produk industri teknologi di bidang komunikasi dan digitalisasi dalam berbagai lini kehidupan manusia. Gereja dan warga gereja tidak boleh  menutup mata. Sebab bagaimanapun ekses negatifnya haruslah dicermati pula agar gereja tidak diperbudak tetapi harus mencerminkan nilai-nilai kemanusiaan dan peradaban manusia secara konstruktif dan produktif.

Revolusi industri ke-4 adalah revolusi digital yang dibangun di atas industri yang ketiga. Dampak dari revolusi ke-4 ini kelihatan dalam kecepatannya, skope yang dijangkaunya dan dampaknya yang sangat luar biasa. Perkembangannya pun tidak dalam skope linear (garis lurus), melainkan eksponensial (penguasaan). Karakter revolusi digital adalah adanya suatu fusi dari beraneka teknologi yang mengaburkan garis-garis di antara ruang fisik, digital dan biologis. Revolusi teknologi akan menghapus cara kita hidup, bekerja dan berinteraksi satu sama lain. Skala, skope dan kompleksitas transformasinya tidak terbayangkan pada masa kini. Sungguh luar biasa dan menakjubkan kita.

Dampak perkembangan revolusi Industri di Indonesia jangan seperti di dunia Barat atau negara maju yang telah terlebih dahulu mengalami kemajuan itu. Jangan sampai terjadi penyakit kekristenan seperti yang dialami negara maju dan warga gereja serta gereja di Barat. Di mana, pada satu sisi kita hidup dalam kemajuan industri tetapi warga gereja dan gereja mengalami dampak negatif membuat warga justru tercecer dan dicecerkan  revolusi tersebut.

Masalahnya, menurut Pdt Robin dengan mengutip penelitian dari Schwab,  dengan tingginya kualitas teknologi digital menimbulkan dinamika yang tidak terkontrol dari pembagian dan penyebaran informasi informasi oleh lebih 30 % pengguna media sosial. Hal ini tidak hanya menciptakan kesempatan untuk pemahaman dan kesatuan lintas budaya, tetapi juga dapat menjadi sarana penyebaran ideologi ekstrim. Lebih jauh akan menyebabkan manusia kehilangan asset penting, yaitu waktu untuk beristirahat, waktu untuk berefleksi, waktu untuk berinteraksi dalam percakapan dengan yang lain yang lebih berarti dalam membangun hubungan. Dia mengharapkan Gereja bisa memberi pencerahan dengan solusi yang seimbang untuk menyikapi penggunaan media digitalisasi secara positip dan konstruktif. (Rel/R4/c)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Bacaleg DPRD SU Jan Rismen Saragih Suarakan Pemekaran Kabupaten Simalungun
Kapolres Tes Urine Mendadak Personil Satres Narkoba Polres Simalungun
Partai Golkar Simalungun Gelar Rapat Koordinasi Atur Strategi Perolehan Suara di Pileg dan Pilpres 2019
Seratusan Pengemudi Angkutan Online Unjukrasa ke Kantor DPRD P Siantar
Kelompok Tani di Sumut Dapat Bantuan Hibah Sapi dan Kambing
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU