Home  / 
Jerman Belajar ‘Cara Halus’ Indonesia Perangi Terorisme
Kamis, 12 Juli 2018 | 10:40:44
SIB/ANT/ Irsan Mulyadi
MENYALAMI: Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Suhardi Alius (tengah) dan pendiri Pesantren Al Hidayah yang merupakan mantan terpidana kasus terorisme, Khairul Ghazali (kiri), mendampingi Wakil Presiden Bundeskriminalamt (BKA) Jerman Michael Kretschmer (kanan), menyalami santri yang merupakan anak mantan teroris saat melakukan kunjungan, di Deli Serdang, Sumatera Utara, Rabu (11/7).
Jakarta (SIB) -Model pendekatan lunak (soft approach) Indonesia dalam penanggulangan terorisme, seperti yang dijalankan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), kembali mendapat apresiasi dari masyarakat internasional. Kali ini dari Jerman.

Ini dibuktikan dengan kunjungan Wakil Presiden Bundeskriminalamt (BKA) atau Badan Antiteror Jerman Michael Kretschmer ke Pondok Pesantren Al Hidayah, Sei Mencirim, Deli Serdang, Sumatera Utara (Sumut), pada Rabu 11 Juli 2018. Pondok pesantren ini diasuh mantan teroris Khairul Ghazali dan sebagian besar santrinya adalah anak-anak mantan teroris.

Kretschmer memberikan apresiasi tinggi terhadap cara BNPT melakukan soft approach. Ia pun menjadi sadar bahwa penanganan terorisme tidak harus dengan cara menanggulangi (hard approach), tapi juga bisa dengan pendekatan lunak dengan mengatasi dari hulu.

"Teroris ada di semua negara, termasuk di Jerman. Makanya saya tertarik dengan program pencegahan yang telah dilakukan BNPT. Hari ini kami datang untuk studi banding sekaligus belajar bagaimana cara mencegah seseorang agar tidak menjadi teroris dan membuat orang yang sudah pernah menjadi teroris agar tidak kembali," ujar Kretschmer, seperti yang disiarkan BNPT.

Ia mengaku terkesan dengan keberadaan Ponpes Al Hidayah dengan boarding school yang dihuni anak-anak mantan teroris. Tempat ini sekaligus menjadi jawaban dan contoh nyata dalam pencegahan terorisme dengan cara-cara yang pintar. Menurutnya, anak-anak ini tidak dilahirkan sebagai teroris sehingga harus diberikan ilmu dan pelajaran yang baik.

"Tempat ini memberikan masa depan lebih baik buat anak eks teroris agar mereka tidak melakukan kejahatan yang sama seperti yang dilakukan orangtuanya. Masa depan anak ini adalah masa depan seluruh masyarakat agar terbebas dari terorisme. Saya sangat menghargai keberadaan Ponpes Al Hidayah dan sangat apresiasi dengan apa yang dilakukan BNPT dan juga ustadz Khoirul Ghazali," terang Kretschmer.

Selain berkeliling meninjau Ponpes Al Hidayah dan segala fasilitasnya, delegasi BKA juga melakukan pertemuan dan diskusi hangat dengan Kepala BNPT, serta pengelola Ponpes Al Hidayah. Diskusi berjalan santai, bahkan mereka (BKA) juga membagikan alat-alat tulis dan permen yang disambut suka cita para peserta didik.

Studi Banding
Kunjungan Kretschmer itu, seperti yang dikabarkan oleh tim humas BNPT, tidak lain adalah untuk melihat langsung sekaligus studi banding BKA yang akan mencontoh program soft approach, yang nantinya akan diterapkan di Jerman. Meski selama ini Jerman memiliki pengalaman dalam menangani terorisme, terutama ekstrem kanan dan kiri, tapi untuk pendekatan lunak, mereka masih awam.

Kedatangan delegasi Jerman hanya berselang sepekan setelah kunjungan Menteri Luar Negeri Belanda Stephanus Abraham Blok ke TPA Baitul Muttaqin dan Yayasan Lingkar Perdamaian di Tenggulun, Lamongan, Jawa Timur. Di tempat ini BNPT merangkul 37 mantan teroris yang telah 'sembuh' dipimpin Ali Fauzi, adik bomber Bom Bali 1,  Amrozi, untuk mengelola boarding school bagi keluarga dan anak mantan teroris.

"Dua tempat ini sekarang telah menjadi ikon dunia dalam penanganan terorisme. Buktinya hari ini Wapres BKA datang langsung belajar dan saling menggali pengalaman. Minggu lalu, Menlu Belanda juga ke Lamongan, dan akhir bulan ini, Badan Antiteror Jepang juga akan berkunjung ke Lamongan," kata Kepala BNPT Komjen Pol Drs Suhardi Alius MH, saat mendampingi kunjungan Kretschmer.

Menurut Komjen Suhardi, di dua tempat itulah, BNPT mencari titik balik supaya para mantan teroris dan keluarganya bisa diterima kembali di masyarakat, sekaligus memberikan kesempatan kedua untuk menjadi manusia bagi nusa dan bangsa. Hasilnya meski belum genap setahun, para santri di Ponpes Al Hidayah ini sudah jauh berbeda dibandingkan di awal-awal program ini dijalankan.

"Lihat saja anak-anak (santri) di sini, dulu saat kali pertama kami datang, mereka seperti takut dan tidak mau berinteraksi, sekarang lihat saja dan tanya mereka cita-citanya, ada yang mau jadi polisi, ustadz, bahkan jadi kepala BNPT. Dulu mereka takut dan jauh dari masyarakat sekitar, sekarang telah bergabung dan terintegrasi," lanjut mantan Kepala Badan Reserse Kriminal Polri itu dalam keterangan pers yang disiarkan BNPT.

Pihaknya juga berencana membangun satu boarding school lagi di Karanganyar, Jawa Tengah, yang juga akan dikelola mantan teroris dan keluarganya. Suhardi berharap cara-cara soft approach ini menjadi contoh baik dalam bersinergi dengan dunia internasional dalam penanganan terorisme. (Viva/f)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
#2019KitaTetapBersaudara, Pilihan Boleh Beda Persatuan Indonesia yang Paling Utama
Mahir Melukis, Narapidana Bebas dari Penjara
Kakek 83 Tahun Lawan Perampok Bersenjata
Pegawai Supermarket Dipecat Gara-gara Jual 15.000 Apel
Gara-gara Badai Florence, 3,4 Juta Ayam dan 5.500 Babi Mati
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU