Home  / 
Survei Unair: 78,2 Persen Pemilih Muslim Puas Terhadap Kinerja Jokowi
* 3 Tantangan Berat Jokowi Menuju Pilpres 2019
Kamis, 12 Juli 2018 | 10:37:55
Jakarta (SIB) -Pusat Kajian Pembangunan dan Pengelolaan Konflik (Puspek) FISIP Universitas Airlangga (Unair) merilis hasil survei nasional menjelang Pemilu 2019. Dalam survei itu, sosok Presiden Jokowi dinilai mampu meningkatkan ekonomi.

"Tingkat kepuasan pemilih muslim terhadap kinerja Joko Widodo cukup tinggi, 78,2%, pada skala 1-100. Jokowi dianggap sebagai tokoh yang paling mampu meningkatkan ekonomi Indonesia, meskipun saat ini kinerja bidang ekonomi mendapat penilaian rendah," kata peneliti Puspek FISIP Unair, Novri Susan, di Paradigma Cafe, Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (10/7).

Novri juga membeberkan kekurangan Jokowi. Jokowi dipandang masih lemah dalam bidang ekonomi, terutama dalam hal penuntasan kemiskinan, peningkatan lapangan kerja, tingginya kesenjangan, dan stabilitas harga pokok. Dalam survei itu, adanya sosok cawapres yang bagus menjadi penentu menangnya Jokowi di Pilpres 2019.

Survei itu dilakukan pada 12-26 Juni 2018 di 29 provinsi dengan jumlah responden 1.200 orang. Metode yang dilakukan adalah interview face to face dengan tingkat margin of error 2,83 persen.

"Pemilih muslim menilai kinerja paling rendah pemerintah Jokowi-Jusuf Kalla ada pada bidang ekonomi, namun secara umun kepuasan publik cukup tinggi mencapai 78,2 persen," imbuhnya.

Melihat citra kandidat capres saat ini, survei tersebut menilai Jokowi sebagai tokoh yang mampu meningkatkan ekonomi. Sedangkan Ketum PKB Muhaimin Iskandar (Cak Imin) dianggap sebagai representasi tokoh Islam. Adapun Ketum Partai Gerindra Prabowo Subianto dilihat sebagai tokoh yang mampu menjalin stabilitas keamanan.

Jika hasil survei ini masih berlaku hingga 6 bulan ke depan, dikatakan Novri, tidak tertutup kemungkinan akan ada 2-3 poros di Pilpres 2019. Dalam poros itu, akan ada tokoh-tokoh dengan latar belakang ekonomi dan keislaman.

Keislaman yang dimaksud ialah tokoh yang paling populer di kalangan pemilih muslim dari survei itu. Tokoh yang populer itu adalah Jokowi, Prabowo, Jusuf Kalla, Anies Baswedan, dan Agus Harimurti Yudhoyono.

"Poros tergantung situasi yang terbentuk karena banyak perubahan-perubahan. Yang harus dicatat ada pergeseran ekspektasi masyarakat tentang figur keislaman. Kemungkinan 2 atau 3 poros prediksi di awal. Saya pikir 2019 itu kalau survei ini masih konsisten 6 bulan ke depan ada isu keislaman dengan ekonomi," kata Novri.

Tantangan Berat
Presiden Jokowi punya tantangan berat jelang Pilpres 2019. Apa saja tantangan yang harus dihadapi Jokowi itu?
LSI Denny JA melakukan survei elektabilitas pasangan capres dan cawapres setelah Pilkada Serentak 2018. Hasilnya ada kenaikan elektabilitas Jokowi, meski tak banyak.

Survei tersebut dilakukan pada 28 Juni hingga 5 Juli 2018 terhadap 1.200 responden dengan wawancara tatap muka. Metode yang digunakan adalah multistage random sampling dilengkapi FGD atau focus group discussion dan analisis media serta in depth interview. Margin of error survei tersebut +/- 2,9 persen.

Meskipun Jokowi teratas, ternyata ada tiga catatan penting yang didapat dari hasil survei ini. Catatan tersebutlah yang jadi tantangan bagi Jokowi.

Tantangan pertama adalah soal pemilih loyak Jokowi, yang ternyata hanya sekitar 40%. Elektabilitas Jokowi berdasarkan survei terbaru itu adalah 49,30%. Untuk tokoh lain hasilnya adalah 46%.

Berikut pembagian pemilih Jokowi dari 49,3%:

Strong Supporters (pemilih militan) 32%

Soft Supporters 17,3%
Tantangan kedua adalah soal pemilih loyal lawan Jokowi yang hasilnya adalah 30,5%, tak terpaut jauh dari pemilih militan Jokowi. Dari hasil 46% (lawan Jokowi), berikut pembagian pemilihnya:

Strong Supporters (pemilih militan) 30,5%

Soft Supporters 14,7%
"Lawannya Jokowi belum final dan belum melakukan kampanye. Namun sudah ada 30,5% yang akan memilih capres lawannya Jokowi," demikian keterangan LSI Denny JA.

Pesan ketiga yang harus diketahui Jokowi adalah soal kampanye ganti presiden yang makin populer dan disukai. Pamor #2019GantiPresiden setelah Pilkada Serentak 2018 semakin naik, hasilnya adalah:

Mei 50,80%

Juli 60,50%

Tak hanya itu, kampanye ganti presiden juga makin disukai/diterima di masyarakat. Berikut hasilnya:

Mei 49,80%

Juli 54,40%. (detikcom/l/c)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Penumbangan Plang Organisasi Picu Bentrokan Dua Kelompok Pemuda di Percut Seituan
Anggaran Revitalisasi Pendopo dan Gudang di Lapangan Merdeka Ditolak Anggota Pansus DPRD Medan
Perbaikan FM IPA Sibolangit Ganggu Distribusi Air di 33 Kawasan
DPRD Dorong Pemko Medan Perpendek Birokrasi Pengurusan Izin
Politisi Gerindra Minta Pengaspalan Gang Harus Diikuti Jalan Utama
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU