Home  / 
Kroasia Buat Kejutan, Lolos ke Final
Prancis Lebih Siap Jadi Sang Juara
Kamis, 12 Juli 2018 | 09:44:44
SIB/Darren Staples/Reuters
CETAK GOL: Penyerang Kroasia Mario Mandzukic mencetak gol memanfaatkan sundulan rekannya yang gagal diantisipasi kiper Inggris Pickford pada pertandingan semi final Piala Dunia 2018 di Luzhniki Stadium, Moskow, Kamis (12/7). Kroasia menang 2-1.
Moskow (SIB) -Prancis kini berada paling depan dalam trek perburuan gelar juara dunia 2018 menyusul hasil positif yang diraih tim asuhan Didier Deschamps itu. Terakhir yang dijuluki, 'Ayam Jantan' ini mengubur impian generasi emas Belgia dengan skor 1-0 di babak semi final. Itu menjadi satu-satunya kekalahan pertama bagi Belgia selama ajang tersebut. Belgia pun harus rela bermain dalam perebutan posisi 3 dan 4.

Prancis memang layak ke final. Satu gol dari Samuel Umtiti ke gawang Belgia sudah cukup untuk meletakkan satu langkah Prancis mengejar trofi yang terakhir mereka raih 20 tahun silam, tepatnya 1998 saat menjadi tuan rumah.

Ada banyak faktor yang membuat penampilan Prancis terus meningkat hingga partai puncak. Didier Deschamps tetap menjadi aktor terdepan di balik sukses Prancis. Bila di partai pembuka Prancis nyaris ditahan Australia meski akhirnya menang 2-1, Deschamps membuat perubahan-perubahan sehingga tim lebih matang.

Deschamps cepat sadar. Bila awalnya menggunakan skema 4-3-3 saat melawan Australia, Prancis bermain dengan 4-2-3-1 di laga selanjutnya. Oliver Giroud yang awalnya berada di bench, terus menjadi starter hingga semi final. Keberadaan Griezmann sebagai penyerang lubang juga luar biasa karena dia bisa berfungsi sebagai playmaker. Tak lupa, ada penyerang muda dalam diri Mbappe yang kerap beroperasi dari sisi kanan. Dia cepat dan mampu menusuk ke kotak penalti.

Pola tersebut pun berjalan mulus. Prancis mampu belajar dari kesalahan yang dibuat. Pogba dan Kante menjadi jaminan kuatnya lini tengah Prancis dengan penuh tenaga. Apalagi Prancis berani memainkan pemain muda di samping Mbappe, seperti Benjamin Pavard dan Lucas Hernandez. Keduanya juga menambah serangan ketika melakukan overlap dari sisi luar.

Lebih dari itu, Deschamps memuji mental bertanding anak asuhnya. Kegagalan di final Piala Eropa 2 tahun silam, akan terus coba diperbaiki. "Saya sangat senang dengan para pemain, kami menunjukkan karakter dan mental yang bagus. Kami bekerja sangat keras," ujar Deschamps dikutip dari Reuters.

Bahkan dikutip dari situs resmi FIFA, Deschamps mengatakan mental timnya untuk bisa ke final seperti saat mendaki gunung. Ini merupakan final keempat Prancis di turnamen utama setelah final Piala Dunia 1998. Pencapaian Prancis ke final kali ini disebut Deschamps sebagai jasa dari semua pihak. 

"Kami akan ke final ini untuk jadi juara, karena kami masih belum melupakan final Piala Eropa (2016)," ujar Deschamps seperti dikutip ESPN.

Penyerang Antoine Griezmann belum mau sesumbar atas hasil di semi final. Baginya partai final akan jadi lebih menguras tenaga.  "Kami tak bisa mencium aroma trofi, hanya [mencium aroma] parfum. Kami harus tetap menginjak bumi. Laga final akan sangat sulit," ucap Griezmann dalam wawancara usai pertandingan dikutip dari Marca.

Pernyataan Griezmann bukan lah sebuah keraguan. Tapi dia paham betul sulitnya partai puncak yang ia rasakan dua tahun silam. Dia tak ingin Prancis melakukan kesalahan lagi.

Sebenarnya Prancis sudah punya modal besar untuk menjuarai pesta sepak bola terbesar dunia ini. Prancis punya materi pemain komplet dibanding Inggris atau pun Kroasia. Mulai dari kiper Lloris yang bermain di Hotspur, bek Umtiti di Barcelona, Pogba maupun Kante adalah dua jangkar hebat di Premiere League, Griezmann maupun Mbappe merupakan penyerang-penyerang terbaik saat ini.

Di bench, ada Nabil Fekir yang menjadi andalan sekaligus kapten tim Lyon. Ada Ousmane Dembele yang mulai bersinar di Barcelona. Semuanya sudah menjadi andalan di tim masing-masing. Bedanya, Inggris diisi beberapa pemain debutan di Piala Dunia. Belum lagi sejauh ini permainan Inggris belum maksimal karena kurangnya sosok playmaker dalam tim. Untuk pengalaman bertanding, jelas Prancis unggul.

Begitu juga bila harus bertemu Kroasia. Pastinya pengalaman bertanding menundukkan Belgia akan menjadi catatan penting. Kroasia punya Modric dan Rakitic, tapi Prancis punya segalanya. Bila bermain terbuka, tentu Prancis akan menyerang dengan cepat. 

Sekali lagi, sepak bola pragmatis Prancis tetap belum terkalahkan. Argentina sudah menjadi korban, bahkan Belgia. Meski harus mendapat tekanan dari lawan, Prancis keluar sebagai pemenang. Kuatnya Pogba dan Kante jadi kunci awal, bagaimana transisi bermain dari bertahan ke menyerang maupun sebaliknya. Keduanya punya tenaga. Sekarang tinggal bagaimana Griezmann, Mbappe maupun Giroud menuntaskan serangan balik menjadi sebuah gol. Proses bukan lagi sebuah kewajiban, tapi hasil akhir menjadi tujuan sebenarnya. Dan Prancis sudah membuktikannya sebelum final di Stadion Luzhniki, Minggu (15/7) Pukul 22.00 WIB. (R21/berbagai sumber/f)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Di Tengah Spekulasi Berdamai, Artis Terkemuka Dunia Bela Brad Pitt dalam Perebutan Anak dengan Angelina Jolie
Joshua Siahaan dan Reza Azhari Ukir Prestasi dengan Lagu dan Puisi
Sule Lajang Lagi Pasca Digugat Cerai Sebab Orang Ketiga
Senat AS Setujui UU Royalti untuk Lagu yang Diciptakan Sebelum Tahun 1972
Menag Nilai Agama Modal Indonesia Rajut Persatuan
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU