Home  / 
Pasca Erry Nuradi
Pintu Kantor Gubsu Tertutup Rapat
* PNS dan Wartawan Keberatan * Sekdaprovsu Sabrina: Supaya Tertib
Kamis, 12 Juli 2018 | 09:39:25
SIB/A11
JAGA PINTU MASUK : Dua petugas security melakukan penjagaan pintu masuk ke lobby Kantor Gubsu, Selasa (10/7).
Medan (SIB) -Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu) melakukan pengamanan berlapis di kantor Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) Jalan Diponegoro No. 30 Medan. Pemberlakuan pengamanan itu diterapkan sejak HT Erry Nuradi tidak lagi menjabat sebagai Gubsu. Bahkan pengamanan yang terkesan over ketat itu bukan saja dilakukan di kantor Gubsu tapi juga di kantor-kantor dinas dan badan di lingkungan Pemprovsu. Hal ini pun mengundang kesan yang kurang enak, sampai-sampai sebagian khalayak mengatakan terkesan seperti Lembaga Pemasyarakatan (Lapas), bahkan sebagian lantas mengaitkan seolah-olah untuk menghindari OTT (Operasi Tangkap Tangan), 

Pengamanan berlapis yang dilakukan sekuriti tersebut membuat kalangan masyarakat dan pegawai negeri sipil (PNS) Pemprovsu menjadi kewalahan masuk ke kantor Gubsu. Padahal saat era Erry Nuradi dan Gubsu sebelumnya, tidak pernah melakukan pembatasan berlebihan untuk bertamu ke kantor Gubsu, baik itu dari kalangan masyarakat umum maupun PNS di luar Pemprovsu.

Salah seorang PNS di Pemprovsu yang enggan menyebutkan namanya mengaku sangat keberatan dengan metode pengamanan seperti itu. "Saat masuk dari luar, kita ditanya sekuriti. Mau ke mana? Kita jawab masuklah mau kerja. Saya kan PNS di sini," tuturnya.

Bahkan, sangkin geramnya dirinya ditanya terus, PNS tersebut terpaksa menunjukkan kartu PNS-nya. "Setelah itu kita baru diberikan masuk. Kadang kubilang juga sama penjaga itu, tidak kau lihat saya ini berpakaian PNS. Kok kau tanya-tanya lagi. Mereka hanya menjawab kita dengan senyum, kami hanya disuruh pimpinan pak," tutur PNS tersebut.

Seharusnya, lanjut dia, walaupun dilakukan pengamanan seperti itu, penjaga itu seharusnya bisa melihat, apakah tamu yang datang itu PNS Pemprovsu atau warga biasa. "Kalau PNS Pemprovsu yang masuk ngapain lagi ditanya-tanya. Dari atribut dan baju yang kita pakai seharusnya penjaga itu tahu," keluhnya.
Menurut PNS lainnya, pengamanan seperti itu tidak saja dilakukan di pintu masuk ke kantor Gubsu saja, tapi juga saat mau masuk ke lift dan masing-masing di lantai 2 hingga lantai 10 ada petugas jaga.

"Misalnya, setelah kita masuk di lobby lantai 1 kantor Gubsu, saat kita mau masuk ke lift menuju lantai 2 atau 3 hingga lantai 10 juga dilakukan pengamanan yang sama dan pertanyaan yang sama. Jadi pengamanan yang dilakukan saat ini, kami lihat super berlebihan, seperti ada ketakutan OTT atau ada yang ditutup-tutupi," sindirnya.

Ia pun mengungkapkan, anggaran untuk petugas pengamanan (sekuriti) di APBD 2018 sekira Rp3,5 miliar yang dikelola di Biro Umum Pemprovsu.

Pengamanan berlapis itu juga membuat warga Sumut yang hendak berurusan ke kantor Gubsu merasa keberatan. "Kami lihat kantor Gubsu ini bukan kantor pemerintah lagi, sepertinya LP (Lembaga Pemasyarakatan). Mulai masuk ke kantor Gubsu hingga di lantai 9, kita dicegat masuk oleh sekuriti. Cara petugas menanyakan kita pun tidak ada ramahnya," kata Erwin salah seorang warga Sumut yang bertamu ke lantai 9 kantor Gubsu, Selasa (10/7). 

Yang paling mengesalkan dirinya, kata dia, saat masuk ke kantor Gubsu, para tamu harus menumpuk dulu di luar pintu masuk kantor Gubsu. Setelah banyak atau ada 10 orang, petugas jaga itu baru membuka pintu secara otomatis dari dalam. "Kalau dulu kan, tidak seperti ini. Kita datang, kita melapor ke Satpol PP lalu kemudian diarahkan kita ke mana mau kita bertamu. Kita cukup tinggalkan KTP di bawah. Kalau sekarang ini, mulai KTP kita ditahan, ditulis nama kita dan apa tujuan kita bertemu dan apakah sudah ada janji. Setelah itu, kehadiran kita dikonfirmasi lagi ke atas, apa bisa diberikan izin masuk. Jadi nampaknya kantor Gubsu ini seperti LP saja kami lihat. Saya curiga, pengamanan berlebihan ini untuk menghindari OTT," ujar Erwin kesal.

Menurut petugas jaga yang berpakaian safari hitam, kata Erwin, perintah itu adalah dari Sekdaprovsu sendiri. "Petugas jaga berpakaian safari hitam itu mengaku, kalau mereka bukan Satpol PP. Satpol PP tugasnya bukan menjaga kantor Gubsu lagi, tapi pengamanan Perda. Makanya kita heran, petugas jaga kantor Gubsu sekarang ini kok berpakaian hitam. Seperti kantor swasta aja," katanya.

Saat berita ini dikonfirmasi ke Sekdaprovsu, wartawan juga mengalami kesulitan masuk ke lantai 9 akibat pengamanan berlapis tersebut.

Saat bertemu para wartawan, Sekdaprovsu yang baru dilantik, R Sabrina pun menyampaikan, pengamanan itu dilakukan untuk ketertiban pengunjung di kantor Gubsu. "Ini kita lakukan supaya tertib. Baik itu kepada masyarakat maupun tamu lainnya. Misalnya wartawan, banyak mengaku-ngaku wartawan masuk bebas ke kantor Gubsu. Jadi kita menertibkan itu semua," katanya.

Namun saat wartawan menanyakan, akibat kebijakan pengamanan berlapis itu para tamu dan wartawan unit Pemprovsu terganggu dan sulit untuk konfirmasi berita, namun Sekdaprovsu menjawab, nanti dicari solusinya. "Nanti akan saya sampaikan ke Biro Humas Pemprovsu, bagaimana caranya para kawan wartawan tidak terganggu meliput di kantor Gubsu. Oke ya," katanya. (A11/h)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Pikirkan Sejenak, Apakah Kita Sudah "Dikendalikan" oleh Smartphone?
Said Aqil: Pelaku Bom Bunuh Diri Buang Saja ke Laut
Kekurangan Penduduk, Kota di Jepang Kesulitan Cari Ninja
Gempa 5,5 SR di Padang, 1 Warga Tewas
Ada 1.000 Triliun Ton Berlian Tersembunyi di Bawah Bumi
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU