Home  / 
Sekjen PPGTB dan Ketua Umum Generasi Muda Malau Indonesia Pardomuan Malau:
Menista Suku Batak Sama dengan Menista Bangsa Sendiri
Sabtu, 7 Juli 2018 | 10:05:59
Pardomuan Malau
Medan (SIB)- Pasca penistaan terhadap suku Batak dengan bahasa atau kalimat kasar dan kotor melalui sarana komunikasi seluler oleh seorang yang bernama Faisal Abdi pada Jumat (29/6) pekan lalu, sejumlah pihak dari berbagai komunitas Batak dan kalangan simpatisan Batak di daerah ini bereaksi beragam, khususnya setelah kasus ini dilaporkan secara resmi ke Polda Sumut pada Sabtu (30/6), yang disusul dengan 'kunjungan delegasi' Forum Bangso Batak ke Mapoldasu pada Rabu (4/7) kemarin.

Sekjen rumpun marga Pomparan Punguan Guru Tatea Bulan (PPGTB) yang juga ketua umum Generasi Muda Malau se-Indonesia, Pardomuan Malau, menegaskan siapa saja yang menista suku atau kaum Batak sama artinya menista bangsa sendiri, yaitu bangsa Indonesia, karena Batak adalah bagian dari keutuhan Bangsa Indonesia bahkan punya peran dan andil besar dalam sejarah perjuangan dan kemerdekaan Indonesia.

"Sebagai rakyat Indonesia atau bagian dari 'Bangso Batak' yang beradab, kami sudah menyerahkan sepenuhnya kasus penistaan Batak oleh Faisal Abdi itu ke ranah dan proses hukum. Kami percaya Kapolda Sumut hingga Kapolri akan bertindak cepat mengusut ini. Kendati banyak orang bilang orang Batak itu keras dan kasar terlebih bila diperlakukan dengan tindak penistaan seperti ini, kami orang Batak itu juga sebenarnya bisa arif dan bijak, sehingga sepakat untuk tidak berdemo atau unjuk rasa pada Rabu kemarin itu, padahal sudah sempat ada rencana di hari Senin-nya. Orang Batak itu juga intelektual kok," ujar Pardomuan Malau kepada SIB di Medan, Kamis (5/7) kemarin.

Secara khusus, dia memaparkan kaum atau orang Batak pada dasarnya tidak mudah terpancing atas satu isu atau tindakan orang lain walaupun sudah masuk kategori rawan dan sensitif. Dia mencontohkan situasi marak dan heboh ketika salinan WA tentang rekaman penistaan atau ujaran kebencian tersebut sejak Sabtu pekan lalu (29/6), justru kebanyakan warga Batak di daerah ini, khususnya di Medan, untuk saling menyabarkan walau banyak yang sempat emosi dan gusar.

Hal ini, ujar Pardomuan yang juga pemerhati budaya Batak dan pariwisata daerah ini, juga sekaligus menunjukkan kalangan orang Batak itu semakin sadar hukum, walaupun program sadar hukum nasional melalui keluarga dan masyarakat sadar hukum (Kadarkum) secara nasional, telah lama vakum di negeri ini.

"Apalagi kasus penistaan ini hanya bermula dari masalah kalah menang-nya seorang kandidat di Pilkada. Jadi, terlalu sepele dan sederhana kalau hal-hal berbau politik itu kita sikapi dengan tindakan anarkis. Kalau di daerah lain tak bisa kita bayangkan apa yang terjadi sebagai reaksi yang bersifat SARA ini. Tapi itulah hebatnya Sumut yang memiliki warga atau rakyat Bangso Batak ini. Daerah ini tetap bisa kondusif dengan dasar pekerti yang plural dan sadar hukum, cinta sesama, plus peduli keutuhan bangsa. Raja Sisingamangaraja I hingga XII sebagai Raja Batak yang dulunya terkenal tegas dan keras itu memang telah tiada, tapi kami atau kita para keturunannya adalah para pewaris etos kerja yang berlandaskan Habonaran do Bona atau haholongan di bagas sada roha (kebenaran atau hukum yang utama, kasih sayang dengan sehati sepikir)," papar Pardomuan dengan mengutip beberapa amanat (poda) dari pustaka budaya Batak. (A04/f)


Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Diskusi Gugat Kongres, Mengurai Kusutnya Konstitusi IPPAT
Erry Nuradi dan Bobby Nasution Ramaikan Gerakan #2019 Kita Tetap Bersaudara dan Selamanya
Aksi Iriana Jokowi Gendong Bocah Papua di Punggung Curi Perhatian
Trump: Kesimpulan CIA Soal Pembunuhan Khashoggi Terlalu Prematur
Upacara Keagamaan di India Diguncang Bom, 3 Orang Tewas
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU