Home  / 
Palestina Kutuk Kunjungan Yahya Staquf ke Israel
* Jokowi Diseret Gerindra, Istana: Ah Payah !
Kamis, 14 Juni 2018 | 10:36:06
Jakarta (SIB) -Palestina melalui Kementerian Luar Negeri mengutuk kunjungan Sekjen PBNU Yahya Staquf Cholil ke Israel. Mereka merasa terpukul.

"Kementerian Luar Negeri dan Ekspatriat Palestina mengutuk partisipasi delegasi ulama Indonesia dari organisasi Nahdlatul Ulama yang diwakili oleh Mr Yahya Staquf, Sekjen PBNU di AJC Global Forum di Yerusalem pada 10-13 Juni 2018," bunyi keterangan resmi Kemlu Palestina, seperti dikutip, Rabu (13/6).

"Partisipasi dalam acara seperti itu merupakan pukulan bagi Palestina dan Yerusalem, serta RI sebagai negara Islam terbesar di dunia yang menyelenggarakan KTT OKI Luar Biasa ke-5 tentang Palestina dan Al-Quds Al-Sharif pada 2016 dan Konferensi Internasional tentang masalah Yerusalem pada 2015 dan yang selalu membela Yerusalem dan isu-isu Palestina," imbuh Kemlu Palestina.

Menurut Kemlu Palestina, kehadiran Yahya di acara Israel bertentangan dengan posisi pemerintah Indonesia terhadap konflik Israel-Palestina. Palestina menduga kedatangan Yahya ke Israel merupakan bagian kampanye Israel yang sesat.

"Pihak Palestina menganggap peristiwa ini sebagai bagian dari kampanye Israel menyesatkan yang ditujukan untuk tampil dengan wajah yang beradab dan budaya yang menyerukan perdamaian, konvergensi dan dialog antaragama pada saat Israel telah bertahan selama beberapa dekade dengan pelanggaran dan kejahatan terjadap rakyat Palestina Muslim dan Kristen dan kesuciannya di Yerusalem," sebut Kemlu Palestina.

Yahya berbicara di Israel pada Minggu (10/6) waktu setempat. Dia menjadi pembicara dalam diskusi yang moderatornya Direktur Forum Global AJC Rabi David Rosen. Acara itu dihadiri 2.400 orang.

Yahya berbicara dalam acara diskusi yang diadakan organisasi Yahudi Amerika. Dia juga telah menegaskan alasan kehadirannya di Israel.

"Saya berdiri di sini untuk Palestina. Saya berdiri di sini atas dasar bahwa kita semua harus menghormati kedaulatan Palestina sebagai negara merdeka," kata Yahya setelah menjadi pembicara dalam forum yang diprakarsai American Jewish Committee (AJC) di Israel itu sebagaimana dilansir NU Online, Senin (11/6). 

RI Diminta Lobi Palestina
Kehadiran Katib Aam PBNU KH Yahya Cholil Staquf di Israel menuai kontroversi. Guru Besar Hukum Internasional UI Hikmahanto Juwana mengatakan, untuk meredam kontroversi itu, harus ada upaya Indonesia melobi Palestina menjelaskan bahwa Yahya Staquf hadir atas nama pribadi.

"Kita harus melobi juga dari pihak Palestina, menyampaikan sebenarnya Pak Yahya ini tidak merepresentasi negara Indonesia," katanya, Selasa (12/6) malam.

Hikmahanto menyayangkan hadirnya Yahya ke Israel mengikuti seminar tersebut. Sebab, menurutnya, hal itu bisa melemahkan Indonesia apabila ada forum yang membicarakan Palestina.

"Saya sayangkan karena harusnya dia sadar, dia itu pejabat sebagai anggota Wantimpres itu kan pejabat, jadi harus hati-hati dalam menerima tawaran seperti itu meskipun dia di sananya atas nama pribadi," ujarnya.

"Tapi kan dari pihak Palestina menganggap ini kok Indonesia tidak konsisten, itu yang kemudian memperlemah posisi Indonesia kalau bicara mengenai Palestina, seolah-olah kita ini tidak memperjuangkan kepentingan Palestina," imbuhnya.

Jokowi Diseret Gerindra 
Gerindra melalui Wakil Ketua Umum Ferry Juliantono menyeret Presiden Joko Widodo terkait polemik kunjungan Yahya. Istana menyebut Ferry payah.

"Ah Ferry nggak ikut perkembangan sih, Ferry payah itu. Iya kalau Gus Yahya, Gus Yahya, kenapa mesti ke pemerintah, kepada presiden? Kalau Yahya, ngomong dong dengan Gus Yahya-nya, toh nggak usah ke presiden dan pemerintahnya," kata Tenaga Ahli Utama Kedeputian IV Kantor Staf Presiden (KSP) Ali Mochtar Ngabalin, Rabu (13/6).

Ngabalin menegaskan, Jokowi sangat mendukung upaya kemerdekaan Palestina. Ngabalin menyebut pernyataan Ferry jadi tak relevan.

"Emang Ferry nggak ikuti perkembangan? Coba lihat itu, prioritas yang diberikan Presiden Joko Widodo kepada Menteri Luar Negeri itu memprioritaskan semua event event internasional itu terkait dengan Palestina," katanya.

"Masa sih Ferry nggak tahu kalau presiden mengatakan bahwa, bilang apa coba. Coba buka itu jejak digital kembali. Lihat pernyataan presiden yang luar biasa itu," imbuh politikus Golkar itu.

Ngabalin meminta Ferry tak menyeret Jokowi di polemik Yahya Staquf. Sebaiknya, kata Ngabalin, Ferry langsung mengklarifikasi ke Yahya terkait isu ini.

"Kalau umpama Gus Yahya tidak... eh, Kiai Staquf tidak ngobrol mengenai Palestina, kenapa mesti seret presiden? Lucu!" ucapnya.

Sebelumnya, Ferry mengkritisi undangan Israel kepada Yahya Staquf. Dia lalu menyeret Jokowi.

"Yahya Staquf dan Jokowi sama-sama ngibul tentang undangan ke Israel," ujar Ferry.

Golkar : Jokowi Perlu Panggil Yahya 
Partai Golkar meminta Presiden Joko Widodo segera memanggil Yahya.

"Presiden perlu memanggil Yahya, yang walaupun ke sana atas nama pribadi, akan tetapi posisinya sebagai Wantimpres, bisa menimbulkan polemik tidak produktif di masyarakat," ujar Kabid Pemenangan Pemilu Golkar PP Sumatera IV (Sumsel, Babel, Lampung) Bobby Adhityo Rizaldi, Rabu (13/6).

Bobby meminta Yahya lebih 'melek' terhadap sikap RI atas hak kemerdekaan Palestina. Bobby lalu menyinggung RI yang baru saja resmi menjadi anggota Dewan Keamanan PBB tidak tetap.

"Hendaknya Pak Yahya perlu peka terhadap kondisi masyarakat muslim saat ini yang memprotes keras pendudukan Israel di Palestina dan pembukaan kedubes AS di sana. Dan penunjukan RI dalam DK-PBB, utamanya memperjuangkan kemerdekaan Palestina di sana. Apalagi bila ternyata tidak membahas sama sekali soal Palestina di sana," kritik Bobby.

PKB : Bela Palestina di Israel
Sekjen PKB Abdul Kadir Karding mengatakan, Yahya, dalam forum itu, menyampaikan cara dakwah yang tak biasa. Namun, isinya, menurut Karding, tetap membela Palestina.

"Jadi itu kan model dakwah yang disampaikan itu kan general ya. Artinya dia mengimbau misalnya agar orang-orang mengagungkan rahmat, kasih sayang, untuk tak saling mendendam, untuk tidak saling membenci, untuk tidak saling menyerang, melupakan masa lalu yang penyebab-penyebab perang di Israel-Palestina, itu," kata Karding, Rabu (13/6).

"Itu saya kira memang harus begitu karena itu di forum Israel, perlu disampaikan bahasa-bahasa yang bisa dipahami bahwa itu adalah bahasa-bahasa 'kami tidak setuju dengan apa yang dilakukan Israel', bahwa cara-cara mereka selama ini menyelesaikan masalah, berperang, itu tidak benar. Itu yang saya baca dari transkrip presentasi Gus Yahya," imbuh dia.

Karding mengatakan, Yahya sama sekali tak menunjukkan dukungan ke Israel. Malah, jika diselami, pesan yang ingin disampaikan Yahya disebut Karding ialah pembelaan terhadap Palestina. Karding lalu menonjolkan isi pembicaraan Yahya terkait Rahmah.

"Artinya dia tidak bilang mendukung Israel, dia sebenarnya secara tersirat dia bilang bahwa apa yang dilakukan Israel selama ini itu salah. Kan prinsip perdamaian itu prinsip umum ya. Tidak boleh suatu negara suatu bangsa menyerang bangsa lain. Rahmah dalam konteks itu kan artinya yang harus dilakukan itu kan kerja sama," ucap Karding.

Ini Kata Muhammadiyah
"Yang diharapkan oleh kita, siapapun yang berkunjung ke Israel, hendaknya fokus pada penyelesaian masalah Palestina terutama kekerasan di Gaza sekarang ini. Harapan kami," ujar Ketua PP Muhammadiyah Dadang Kahmad kepada wartawan, Selasa (12/6) malam.

Dadang menegaskan isu Palestina harus digaungkan masyarakat RI yang berkunjung ke Israel. Dia sangat mengharapkannya.

"Jadi, ya itu mungkin, siapapun yang berkunjung ke Israel atau yang bertemu dengan Israel, yang jadi isu pokok, yang memang yang kita harapkan adalah menyelesaikan masalah Palestina," tegas Dadang.

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengatakan, Yahya memenuhi undangan tersebut atas nama pribadi dan tak ada kaitannya dengan PBNU. Apa yang dilakukan Yahya di Israel ditegaskan Said Aqil sangat bersifat pribadi.

"Menyikapi kehadiran Kiai Yahya Staquf ke seminar yang diadakan oleh Yahudi Amerika di Yerusalem atau di Israel, kami PBNU menyatakan bahwa kehadiran Kiai Yahya Staquf atas nama pribadi, sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama," kata Said Aqil. (detikcom/f)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Defia Rosmaniar Sumbang Emas Pertama Indonesia
Gunung Anak Krakatau Erupsi 576 Kali Sehari
20 Penumpang Sudah Dievakuasi, 6 Tewas
KPAI Desak Usut Inisiator Karnaval Anak TK Bercadar dan Bersenjata
102 Ribu Napi Dapat Remisi 17 Agustus, 2.220 Orang Langsung Bebas
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU