Home  / 
MUI Minta Isi Khotbah Salat Id Tak Bernuansa Politik
Rabu, 13 Juni 2018 | 09:59:46
SIB/INT
ilustrasi
Jakarta (SIB)- Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta khatib salat Idul Fitri tidak menyampaikan khotbah yang berbau politik praktis. Para khatib diminta menyiarkan khotbah yang sejuk.

"Tahun ini dekat dengan tahun politik nasional pilkada, pilpres, pileg, dan kami harapkan perbedaan aspirasi politik jangan sampai penyebab terjadi permusuhan dan kami minta para khatib menjauhi tema khotbah yang bernuansa politik praktis yang bisa menimbulkan perpecahan umat Islam," ujar Ketum MUI KH Ma'ruf Amin saat jumpa pers di kantornya, Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat, Selasa (12/6).

MUI mengimbau khatib menyampaikan khotbah yang bertujuan meningkatkan ketakwaan. Ma'ruf juga meminta khatib memberikan pesan kepada jemaah untuk mewaspadai bahaya terorisme hingga perbuatan asusila.

"Mengimbau kepada para khatib salat Idul Fitri menyampaikan pesan peningkatan dan ketakwaan, persaudaraan, dan kedamaian kepada para jemaah juga meningkatkan kewaspadaan terhadap bahaya terorisme, narkoba, minuman keras, LGBT, dan segala bentuk perbuatan munkar lainnya," jelas Ma'ruf.

Saat salat id nanti, Ma'ruf meminta umat Islam memanjatkan doa untuk saudara yang terkena musibah, seperti di Palestina dan Rohingya. Yang terakhir, Ma'ruf mengingatkan masyarakat tidak menyebarluaskan segala informasi hoax dan bersifat ujaran kebencian.

"Kami mengingatkan kepada masyarakat, khususnya saat menggunakan media sosial, nanti untuk tidak menyebarkan informasi yang berisi kebohongan atau hoax, gibah (membicarakan orang lain), fitnah, namimah (adu domba), membuka aib, ujaran kebencian, dan hal sejenis lainnya," pungkasnya. 

Tak Disisipi Atribut Partai
Menyikapi Pilkada Serentak 2018 pada 27 Juni mendatang, MUI juga meminta kepada para pasangan calon agar tetap menjaga kesantunan dan tidak menjatuhkan kompetitornya agar tercipta pesta demokrasi yang damai. Ia menyebut peran aktif ulama dan tokoh masyarakat ikut andil dalam menciptakan perdamaian di pemilu.

"Saya kira di lapangan itu harus santun, jangan menjelekkan lawan politik tapi gimana dia menjual dirinya dan programnya sehingga nggak menimbulkan ketegangan. Oleh karena itu, harus bisa nahan emosi untuk tidak menyerang kompetitornya," ujar Ma'ruf Amin.

Selain menahan emosi, ia juga meminta kepada para paslon untuk siap menerima kekalahan dan menjalankan kesepakatan pilkada damai. Itu sesuai dengan kesepakatan yang dibuat pasangan calon.

"Kedua harus bisa nerima kalah ataupun menang, menang atau kalah kita harus siap untuk ajak pendukungnya agar bisa terima. Kesepakatan pemilu damainya dipegang. Saya minta para tokoh masyarakat dan ulama ikut menjaga perdamaian ini, jangan malah kiai ikut memanas-manaskan, kiai harus tetap dingin, jangan ikut panas," ucap Ma'ruf.

Selain itu, Ma'ruf pun mengimbau kepada partai politik dan paslon pilkada agar tidak memberikan sedekah berupa zakat yang membawa atribut-atribut politik kepada masyarakat di daerahnya masing-masing.

"Imbauannya zakat itu jangan dikaitkan soal pilkada apakah itu masuk dikaitkan pilkada atau nggak itu Bawaslu yang mengatur, jangan sampai nanti ada zakat yang disematkan stiker atau atribut yang berbau politis, saya kira itu," tuturnya.

Seperti diketahui, Pilkada Serentak akan digelar pada 27 Juni 2018 di 171 daerah. Dari 171 pilkada itu, 17 di antaranya adalah pemilihan gubernur (Pilgub). (detikcom/h)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Istana Tepis Prabowo Soal Mark Up LRT: Ada Penghematan Rp13 T
Bawaslu: Ada Patroli 24 Jam Antisipasi "Serangan Fajar" Pilkada
Kemenhub Bagi 5.000 Life Jacket ke Operator Kapal Danau Toba
Tragedi KM Sinar Bangun, Poldasu Tetapkan Empat Tersangka
KM Sinar Bangun Terdeteksi
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU