Home  / 
PTN Sudah Terpapar Paham Radikal
* Program Deradikalisasi Dinilai Lemah
Minggu, 27 Mei 2018 | 09:44:36
SIB/CNN Indonesia
Cendekiawan Muslim yang mantan Rektor UIN Jakarta Azyumardi Azra (kiri) dalam suatu diskusi di Jakarta, Jumat (25/5).
Jakarta (SIB)- Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Hamli mengatakan hampir semua perguruan tinggi negeri (PTN) sudah terpapar paham radikalisme. 

"PTN itu menurut saya sudah hampir kena semua (paham radikalisme), dari Jakarta ke Jawa Timur itu sudah hampir kena semua, tapi tebal-tipisnya bervariasi," kata Hamli dalam suatu diskusi di bilangan Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (25/5).

BNPT membeberkan, Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Insitut Teknologi Surabaya (ITS), Universitas Airlangga (Unair) dan Universitas Brawijaya (UB) sudah disusupi paham radikal.

Dia menjelaskan, pola penyebaran paham radikalisme yang berkembang di lingkungan lembaga pendidikan saat ini sudah berubah. Awalnya penyebaran paham tersebut dilakukan di lingkungan pesantren. Namun saat ini, kampus negeri maupun swasta menjadi sasaran baru dan empuk bagi penyebar radikalisme.
"PTN dan PTS yang banyak kena itu di fakultas eksakta dan kedokteran," ungkap Hamli.

Cendekiawan muslim Azyumardi Azra punya cerita serupa. Mantan rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta bahkan menyebut kampus sebagai tempat bersarang paham radikal.

"Sarang terorisme itu justru di perguruan tinggi umum. Kalau kita lihat gejalanya memang menganut paham radikalisme," ucap Azyumardi di tempat yang sama.
Azyumardi juga menceritakan pengalaman putrinya di UI yang kerap diajak bergabung oleh kelompok mahasiswa yang ia duga berpaham radikal.
"Putri saya gagal direkrut karena sering kontak bapaknya," ucap sang profesor dengan sedikit bercanda.

Azyumardi meminta pemerintah membenahi lingkungan kampus. Salah satu cara yang ia usulkan adalah melatih kembali tenaga pengajar soal nilai kebangsaan.

Dinilai Lemah
Sementara itu, Peneliti Lembaga Kajian Terorisme dan Konflik Sosial UI Solahudin menilai program deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) masih lemah. Selain itu, BNPT dinilai belum maksimal melaksanakan program kontraradikalisme.

"Saat ini BNPT masih lemah dalam deradikalisasi dan kontraradikalisme. Kenapa? Program deradikalisasi semua ditujukan pada yang sudah tidak radikal. Mau diintervensi maupun tidak diintervensi, mereka sudah meninggalkan kekerasan yang sebelumnya mereka lakukan," ujar Solahudin dalam diskusi bertema pemberantasan terorisme di Warung Daun, Jalan Cikini Raya, Jakarta, Sabtu (26/5).

Solahudin mengatakan, saat ini BNPT tidak melakukan intervensi terhadap para napi terorisme yang nonkooperatif di lembaga pemasyarakatan. Para napi terorisme tidak mau ikut program pembinaan yang dilakukan BNPT.

"Tidak ada program intervensi yang ditujukan kepada napi yang nonkooperatif dan tidak ada program intervensi kepada eks napiter yang nonkooperatif. Nonkooperatif itu adalah tidak mau ikut program pembinaan. Kalau di lapas, mereka (napi teroris) tidak ikut pembebasan bersyarat. Kalau ajukan bebas bersyarat atau justice collaborator dan setia NKRI, mereka dianggap sudah keluar dari Islam," ujar Solahudin.

Karena itu, menurut dia, saat ini masyarakat membantu BNPT untuk melaksanakan deradikalisasi dan kontraradikalisme. Sebab, BNPT akan menghadapi tantangan para napi terorisme yang tidak ingin ikut program pembinaan.

"Fokus BNPT sekarang ditujukan pada napi atau keluarga napi. Karena ke depan dia (BNPT) akan menghadapi situasi, suka atau tidak suka, terlibat orang yang radikal. Sejak 2015, mayoritas para tersangka ditangkap orang berafiliasi ISIS dan rata-rata teroris adalah mereka nonkooperatif. Menurut saya, penting membantu BNPT," tutur dia.

Sebelumnya, Kepala BNPT Komjen Suhardi Alius mengatakan program deradikalisasi terhadap napi teroris berhasil 100 persen. Program itu juga dilakukan terhadap mantan napi teroris.

"Kalau yang sudah deradikalisasi 100 persen. Yang kita kasih program deradikalisasi itu adalah orang-orang yang berstatus narapidana dan mantan narapidana beserta keluarganya," kata Suhardi saat ditemui di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (22/5). (CNNI/detikcom/h)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Pemerkosa Turis Prancis di Labuan Bajo Terancam 12 Tahun Penjara
Golok Menancap di Dada, Dadan Tewas Diduga Dibunuh
Saat Silaturahmi, Pencuri di Rumah Kosong Dibekuk
2 Penjahat Jalanan Babak Belur Dimassa di Medan Labuhan
Polisi Tangkap 3 Tersangka Jaringan Narkoba
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU