Home  / 
KPK Telusuri Kedekatan Anak Chairuman dan Irvanto di Klub Vespa
* Novanto Minta Cicil Uang Pengganti USD 7,3 Juta
Jumat, 25 Mei 2018 | 09:32:09
Jakarta (SIB) -KPK menelusuri benang merah antara anak Chairuman Harahap, Ache Harahap (Diatce Gunungan Harahap) dengan Irvanto Hendra Pambudi Cahyo. Dalam pemeriksaan kemarin, penyidik mencecar Ache soal relasinya dengan Irvanto di klub vespa.

"Didalami terkait hubungannya dengan tersangka IHP (Irvanto Hendra Pambudi Cahyo) di klub vespa," ujar Kabiro Humas KPK Febri Diansyah, Kamis (24/5).

Menurut KPK, Ache tergabung dalam klub vespa yang sama dengan keponakan Setya Novanto itu. Namun, KPK tidak menyebut nama klub vespa dimaksud.

"Bagaimana interaksi IHP dan saksi di klub tersebut tentu perlu kita dalami, sepanjang relevan dengan perkara e-KTP ini," kata Febri.

Dalam kasus megakorupsi e-KTP, nama Chairuman Harahap kerap disebut menerima aliran dana korupsi. Chairuman juga bolak-balik dimintai keterangan KPK terkait kasus e-KTP, baik di penyidikan maupun di persidangan.

Namun, baru kali ini nama Ache Harahap mencuat dalam penyidikan korupsi yang merugikan negara hingga Rp 2,3 miliar ini.

Terakhir kali, dalam sidang e-KTP dengan terdakwa Anang Sugiana Sudihardjo Senin (21/5) lalu, Irvanto menyebut nama Chairuman Harahap sebagai salah satu penerima duit e-KTP.

Menurutnya, Chairuman menerima duit USD 1 juta. Penyerahan uang diakuinya dilakukan bersama Made Oka. Selain itu, Irvanto mengaku sudah melaporkan penyerahan uang itu kepada pamannya, Novanto.

Usai pemberian keterangan di sidang tersebut, Irvanto diperiksa Selasa (22/5) keesokan harinya. Irvanto juga telah mengajukan justice collaborator (JC, saksi pelaku yang bekerja sama) dan siap buka-bukaan soal penerima aliran duit e-KTP.

Novanto Minta Cicil
Sementara itu, koruptor kasus e-KTP, Setya Novanto, belum melunasi uang pengganti USD 7,3 juta. Novanto menyatakan sanggup membayar tetapi dengan cara dicicil.

"Uang pengganti Setya Novanto belum lunas sampai dengan saat ini. Namun yang bersangkutan telah menyatakan kesanggupan membayar dengan cara mencicil," ungkap Febri Diansyah.

Sebenarnya, besaran uang pengganti itu sudah dikurangi Rp 5 miliar yang telah dititipkan ke KPK saat masih menjalani persidangan. Namun untuk sisanya, Novanto ingin mencicilnya. Terkait dengan permintaan Novanto itu, KPK masih membahas teknis pembayaran tersebut.

"Kami sedang bahas hal ini teknisnya bagaimana. Tapi pada prinsipnya upaya asset recovery melalui uang pengganti akan dilakukan semaksimal mungkin," tutur Febri.

Sesuai ketentuan Pasal 18 UU No 31 Tahun 1999, Novanto memiliki waktu 30 hari sejak vonisnya inkrah, untuk melunasinya. Jika Novanto tidak mampu membayar, aset terpidana akan dilelang sebagai gantinya.

Pasal 18 ayat (2) UU No 31 Tahun 1999 memuat:

Jika terpidana tidak membayar uang pengganti sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b paling lama dalam waktu 1 (satu) bulan sesudah putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, maka harta bendanya dapat disita oleh jaksa dan dilelang untuk menutupi uang pengganti tersebut.

Sebelumnya, Novanto dinyatakan bersalah dalam kasus korupsi e-KTP dan divonis 15 tahun penjara serta denda Rp 500 juta subsider 6 bulan kurungan. Novanto juga dihukum membayar uang pengganti USD 7,3 juta dikurangi uang Rp 5 miliar yang dikembalikan ke KPK.

Duit ini terkait penerimaan Novanto dari proyek pengadaan e-KTP. Selain itu, hak politik mantan Ketua DPR tersebut dicabut selama 5 tahun. Novanto dieksekusi ke Lapas Sukamiskin, Bandung pada 4 Mei lalu. (detikcom/h)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Kepergok Mencuri, Seorang Pria Dimassa Warga di Pematangsiantar
Simpan Sabu di Tempat Beras, IRT Dituntut 1 Tahun Suaminya 7 Tahun di PN Simalungun
Polrestabes Medan Ringkus Pelaku Penggelapan di Tangerang
Jual Sabu Tanpa Hak Dituntut 10 Tahun di PN Simalungun
Memperkosa Gadis Tetangga, Suratman Divonis 6 Tahun Penjara
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU