Home  / 
Aksi Intoleransi Terjadi di Lombok
Diserang Warga, Jemaah Ahmadiyah Lari ke Hutan
* GP Ansor Mengutuk Keras * SETARA: Bisa Jadi Terorisme
Senin, 21 Mei 2018 | 09:58:32
SIB/detikcom
DISERANG: Rumah warga penganut ajaran Ahmadiyah di Lombok Timur NTB rusak parah diserang sekelompok warga, Sabtu (19/5) siang.
Dompu (SIB) -Penganut ajaran Ahmadiyah di Lombok Timur, NTB, diserang oleh sekelompok warga. 6 unit rumah rusak parah hingga rata dengan tanah.
Tak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Jemaah Ahmadiyah saat ini tengah dievakuasi ke Mapolres Selong Lotim.

Aksi penyerangan itu berlangsung pada Sabtu (19/5) sekitar pukul 12.00 Wita, di Desa Greneng, Kecamatan Sakra Timur, Lombok Timur.

Informasi yang dihimpun, aksi penyerangan itu berlangsung cepat. Sekelompok warga merusak rumah-rumah milik jemaah Ahmadiyah. Sehingga jemaah kocar kacir hingga lari ke dalam hutan.

Warga hanya merusak rumah dan tidak melukai para jemaah. Sehingga tidak ada satu pun jemaah yang terluka.

"Enam rumah rusak parah. Tidak ada korban jiwa maupun luka dalam penyerangan ini," kata Kabid Humas Polda Nusa Tenggara Barat (NTB) AKBP I Komang Suartana saat dihubungi, Minggu (20/5).

Untuk mengamankan situasi dan keadaan, Kapolda NTB langsung turun bersama dengan pemuka agama NTB dan langsung mengambil tindakan preventif.

"Kapolda sudah turun ke lokasi kejadian. Sekarang situasinya sudah aman dan kondusif, para jemaah itu sudah dievakuasi di Polres Lotim," ungkapnya.

Terkait motif penyerangan, Komang mengatakan, aliran Ahmadiyah dianggap sesat oleh warga.

"Motifnya aliran agama ini dianggap sesat oleh warga," kata Komang.

12 Orang Diperiksa
Polisi telah memeriksa sejumlah saksi berkaitan dengan adanya peristiwa pengrusakan rumah warga Ahmadiyah tersebut.

"Sudah 12 orang kami periksa sebagai saksi," kata Kapolres Lombok Timur AKBP Eka Faturahman.

Saat ini, warga Ahmadiyah tersebut diamankan di Polres Lombok Timur. Mereka akan dipindahkan ke Kota Selong, Senin (21/5) hari ini.

"Kami tindakan pertama mengamankan warga jamaah Ahmadiyah di Polres. Besok kami pindahkan ke LLK ( loka latihan kerja) di Kota Selong," kata
Eka menyampaikan, persoalan ini bukan terjadi saat ini saja. Persoalan ini dipicu masalah ajaran yang berbeda.

"Kalau kita bicara ke belakang semuanya ini masalah paham, ideologi," katanya.

Ia menambahkan, dalam mengatasi permasalahan ini polisi tidak bisa berdiri sendiri. Polisi bersama dengan pemerintah setempat bekerja sama agar peristiwa serupa tidak kembali terulang.

Ingin Ratakan
Berkaca dari kejadian tersebut, Ahmadiyah meminta pemerintah menjamin hak beribadah para jemaahnya.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Ahmadiyah melalui akun Twitter @AhmadiyahID seperti dilihat Minggu (20/5). Akun itu mengunggah beberapa cuitan terkait insiden yang terjadi pada Sabtu (29/5).

Ahmadiyah menyatakan ada 7 Kepala Keluarga (KK) atau 24 orang penduduk Dusun Grepek, Sakra Timur yang diserang warga. Kejadian itu menyebabkan sejumlah rumah beserta peralatan rumah lainnya rusak.

Menurut Ahmadiyah, penyerang rumah penganutnya berasal dari daerah yang sama. Ahmadiyah menyebut penyerang memiliki sikap benci terhadap pemahaman agama yang berbeda.

"Kelompok massa yang berasal dari daerah yang sama, melakukan penyerangan dan perusakan karena sikap kebencian dan intoleransi pada paham keagamaan yang berbeda Sabtu, 19 Mei 2018 jam 13.00 WITA 24 Orang penduduk yang rumahnya diamuk masa, dievakuasi oleh polisi ke kantor Polres Lombok Timur," tulis akun tersebut.

Ahmadiyah juga menduga sekelompok warga itu ingin rumah para penganut Ahmadiyah hancur. Peristiwa itu disebut telah terjadi sejak Maret 2018.

"Target penyerang adalah meratakan seluruh rumah penduduk komunitas Muslim Ahmadiyah dan mengusirnya dari Lombok Timur. Aksi kejadian amuk masa ini sejatinya sudah terindikasi mulai bulan Maret 2018 dan dipertegas oleh kejadian pada tanggal 9 Mei 2018 di desa yang berbeda," tulisnya.

"Namun masih di Kabupaten Lombok Timur dengan motif yang sama, yaitu sikap kebencian dan intoleran pada paham keagamaan yang berbeda yang berujung pada pemaksaan untuk keluar dari komunitas Muslim Ahmadiyah atau ancaman pengusiran," sambungnya.

Karena itu, Ahmadiyah meminta pemerintah untuk menjamin lima haknya sebagai warga negara. Berikut ini lima hak tersebut:

1. Jaminan keamanan dari pihak kepolisian di manapun Komunitas Muslim Ahmadiyah berada

2. Jaminan dari Pemerintah Pusat dan Daerah untuk tinggal di rumah yang kami miliki secara sah yang dijamin UUD 1945

3. Jaminan dari Pemerintah Pusat dan Daerah untuk melaksanakan ibadah sesuai keyakinannya masing masing yang dijamin UUD 1945

4. Penegakan hukum yang adil atas para pelaku teror dan kriminal yang melakukan penyerangan, perusakan dan pengusiran

5. Solusi dari pemerintah atas hilang dan rusaknya rumah dan harta benda akibat teror perusakan tersebut.

TGB: Hormati Hak Hidup
Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Muhammad Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang (TGB) meminta warga untuk menghentikan kekerasan terkait adanya penyerangan terhadap warga Ahmadiyah di Lombok Timur. TGB meminta warga untuk menghormati bulan suci Ramadan.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh TGB di akun Twitter-nya @tgbID seperti dilihat pada Minggu (20/5). Dia meminta warga untuk saling menghormati satu sama lain.

"Hentikan semua perbuatan permusuhan apalagi kekerasan, hormati Ramadan, hormati hak setiap orang untuk hidup dengan aman dan damai sesuai keyakinannya," tulis TGB.

TGB juga mengatakan situasi telah kembali kondusif pasca penyerangan tersebut. Kata dia, sebagaian warga Ahmadiyah telah diungsikan di Mapolres Lombok Timur.

"Perangkat Pemda bersama TNI dan Polri sudah memulihkan situasi. Sebagian warga Ahmadiyah di lokasi diamankan di Mapolres Lotim, sebagian mengungsi ke tempat keluarga mereka," ujarnya.

Dia menerangkan upaya mediasi juga akan segera dilakukan. Tak lupa, TGB pun mendorong polisi untuk mengusut tuntas pelaku penyerangan tersebut.

GP ANSOR MENGUTUK
Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda (GP) Ansor mengutuk keras penyerangan terhadap jemaah Ahmadiyah di Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Aparat diminta mengusut kasus itu.

"Kami mengutuk keras tindakan teror, perusakan, dan pengusiran kepada warga Ahmadiyah. Apalagi dilakukan di tengah suasana bulan suci Ramadan. Bulan Ramadan tak hanya menahan lapar, haus dan mengisinya dengan ibadah, tapi juga menjaga harmoni kehidupan. Ramadan mesti penuh dengan cinta kasih kepada sesama, jauh dari perilaku destruktif dan kebencian," kata Sekretaris Jenderal PP GP Ansor Adung Abdul Rochman.

Menurut Adung, aksi intoleransi semacam ini tidak bisa dibiarkan. Para pelaku harus ditindak tegas sesuai hukum yang berlaku.

"Kami meminta aparat kepolisian mengusut kasus ini. Aparat harus dapat memberikan jaminan keamanan kepada seluruh warga negara, termasuk kepada jemaah Ahmadiyah untuk melaksanakan ibadah sesuai keyakinannya masing-masing seperti amanat UUD 1945," kata Adung.

Adung mengatakan jika aparat tidak bertindak tegas, maka sikap kebencian dan intoleransi pada sesama warga negara Indonesia karena perbedaan paham keagamaan akan semakin tumbuh subur.

"Jika dibiarkan justru akan menjadi pembenaran aksi kelompok radikal tersebut," ujarnya.

Bisa Jadi Terorisme
SETARA Institute mengutuk aksi persekusi yang menimpa jemaah Ahmadiyah di Dusun Grepek Tanak Eat, Desa Greneng, Kecamatan Sakra Timur, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Dia menyebut aksi yang dilakukan oleh massa dari desa setempat itu didasari sikap kebencian dan intoleransi.

Ketua SETARA Institute Hendardi mengatakan kebencian dan intoleransi yang tumbuh di masyarakat harus ditangani sebagai tantangan dan potensi ancaman keamanan nyata. Sebab, menurutnya, intoleransi adalah tangga pertama menuju terorisme.

"Sedangkan terorisme adalah puncak intoleransi. Oleh karena itu, energi pemberantasan terorisme harus dimulai dari hulu, yakni intoleransi sebagaimana yang terjadi di Lombok Timur ini. Jika dibiarkan, aspirasi politik kebencian dan intoleransi dapat berinkubasi menjadi aksi-aksi terorisme," kata Hendardi dalam keterangan tertulisnya. (detikcom/l)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Eramas Gelar Kampanye Dialogis dan Doa Bersama 23 Juni
Seribuan Warga Hadiri Halal Bi Halal Masyarakat Simalungun Bersama Djarot Saiful Hidayat di Perdagangan
FKI 1 Sumut Komit Dukung Paslon Bupati Dairi Nomor Urut 2
Warga Pinggiran Rel Berharap Pada Djoss Ada Pemondokan Layak
BEM se-Jabar Kirim Surat Protes ke Kemendagri Terkait Komjen Iriawan
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU