Home  / 
AS Ancam Kembali Bombardir Suriah Bila Ada Serangan Kimia Lagi
* PBB Tolak Kutuk Serangan AS ke Suriah
Senin, 16 April 2018 | 12:15:26
New York (SIB)- Amerika Serikat mengancam akan kembali menyerang Suriah apabila serangan senjata kimia kembali dilakukan oleh rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad. Ini menyusul serangan AS bersama sekutunya, Inggris dan Prancis. "Kami yakin bahwa kami telah melumpuhkan program senjata kimia Suriah. Kami siap untuk mempertahankan tekanan ini, jika rezim Suriah cukup bodoh untuk menguji keinginan kami," ujar Duta Besar AS Nikki Haley dalam sidang Keamanan PBB di New York, Sabtu (14/4).

Haley menegaskan pihaknya tak main-main dalam ancaman ini. Serangan AS pada Sabtu (14/4) dini hari ditujukan ke senjata kimia yang diduga dimiliki rezim Presiden Assad. "Jika rezim Suriah menggunakan gas racun ini lagi, Amerika Serikat sudah mengunci (titik serangan) dan memuat (senjata untuk menyerang)," sebut Haley.

Hal senada juga disampaikan oleh Wakil Presiden AS Mike Pence. Dia mengingatkan kepada Suriah, ada harga yang harus dibayar jika militernya melakukan serangan senjata kimia lainnya. Hal tersebut dikatakan Pence di sela menghadiri pertemuan Amerika Latin di Lima, Peru. Dia menyebut, Presiden AS Donald Trump telah menegaskan Amerika Serikat siap mempertahankan upaya untuk membangun kerangka pencegahan yang ada. "Agar rezim Suriah dan patronnya tahu akan ada harga yang harus dibayar jika senjata kimia digunakan lagi untuk pria, wanita dan anak-anak," tutur Pence, masih dilansir Reuters.

Serangan udara AS, Inggris dan Prancis pada Sabtu (14/4) dini hari, menargetkan sejumlah fasilitas senjata kimia milik Suriah. Serangan itu bertujuan menghukum rezim Assad yang diyakini mendalangi serangan kimia di Douma, pekan lalu. Rezim Assad telah membantah tudingan itu.

Militer AS disebut mengerahkan kapal perang dan pesawat pengebom dalam serangan itu. Sedangkan Inggris mengerahkan empat jet tempur Tornado yang menembakkan sejumlah rudal Storm Shadow ke target-target di Suriah. Militer Prancis mengerahkan kapal perang jenis frigate dan jet tempur Rafale yang mampu menembakkan rudal jelajah ke target, tanpa memasuki wilayah Suriah. Total ada 115 rudal dan misal yang digunakan dalam serangan itu. 

Serangan AS dan sekutunya terhadap Suriah mendapat dukungan dari Pemerintah Arab Saudi. Pemerintah Saudi mengatakan, serangan udara tersebut merupakan respons terhadap kejahatan rezim Bashar al-Assad terhadap warga sipil. "Arab Saudi mendukung penuh serangan yang dilakukan AS, Perancis, dan Inggris terhadap Suriah karena mereka merespons kejahatan rezim (Assad)," demikian pernyataan Kemenlu Arab Saudi.

Dukungan juga datang dari Turki yang menyebut serangan AS dan sekutunya merupakan "respons tepat" terhadap perilaku rezim Suriah. "Kami menyambut baik operasi ini yang memperlihatkan kesadaran rasa kemanusiaan terkait serangan di Douma yang patut diduga dilakukan rezim Suriah," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Turki. 

"Turki menilai operasi yang dilakukan pagi ini merupakan respons yang tepat terhadap serangan senjata kimia yang menewaskan warga sipil di Douma pada 7 April lalu," lanjut Kemenlu Turki. Sementara itu, Wakil PM Turki Bekir Bozdag menegaskan, serangan terhadap Suriah itu tidak dilakukan dari pangkalan AU Incirlik. "Turki sudah mendapatkan informasi soal rencana serangan. Namun, Incirlik tidak digunakan untuk serangan tersebut," kata Bozdag. Turki merupakan penentang rezim Presiden Bashar al-Assad dan mendukung kelompok pemberontak yang berusaha mendongkel sang presiden. 

Sisa dari Serangan AS ke Suriah
Serangan Amerika Serikat beserta sekutunya, masih menyisakan asap di Distrik Barzah, Damaskus, Suriah. Serangan itu menyisakan puing-puing bangunan yang luluh lantak akibat rudal. Kondisi di sisa-sisa kompleks penelitian Suriah di Distrik Barzah masih menyisakan bau dan asap 10 jam setelah serangan Fasilitas penelitian ini merupakan program rahasia senjata kimia pemerintah Suriah.

Serangan AS Cs salah satunya menyasar Pusat Penelitian ilmiah Suriah ini. Kompleks penelitian tersebut terletak di atas perbukitan yang curam dan kering. Lokasinya berada di timur laut pusat kota Damaskus. AS Cs menyerang sejumlah lokasi di Suriah karena tudingan atas serangan kimia beracun oleh rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad ke wilayah Ghouta, daerah yang merupakan benteng terbesar pemberontak melawan Assad. Dipercayai, rezim Assad yang didukung oleh Rusia melepas senjata kimia sehingga membuat sejumlah nyawa warga Ghouta melayang beberapa waktu lalu. Inilah yang memicu AS bersama Inggris dan Prancis melakukan serangan.

Pusat penelitian Ilmiah di Barzah tak jauh dari Ghouta Timur, tempat terjadinya serangan kimia. Pihak pemerintah Suriah mengajak sejumlah media melihat sisa-sisa fasilitas penelitian ilmiah yang sudah diserang itu. Kepala Departemen Polimer Pusat Suriah, Saeid Saeid mengatakan gedung-gedung itu sebelumnya digunakan untuk meneliti dan membuat komponen obat yang tidak dapat diimpor. Dia mengklaim, salah satu yang tengah diteliti dalam program rahasia Rusia itu adalah obat untuk kanker dan anti-racun. Amerika Serikat sendiri menuding pusat penelitian ilmiah di Barzah tengah melakukan pengembangan, produksi dan pengujian senjata kimia serta bilogi. AS mengatakan, 76 dari 115 total rudal telah ditembakkan ke lokasi ini.

Sebagian besar bangunan telah hancur menjadi puing-puing. Beberapa masih dengan sudut yang tegak. Kemudian ada juga lempengan beton yang dulunya atap atau lantai, tergantung pada sudut yang aneh. Terlihat sebuah bus yang diparkir di dekat bangunan hanya tinggal kerangka. Jendela-jendelanya pecah. Pohon-pohon palem tampak compang camping, seolah telah kehilangan banyak daunnya.

Di tengah-tengah puing di tepi kompleks itu terlihat buku-buku hangus, masker dan sarung tangan laboratorium, arsip, meja, paket kardus yang ditandai dengan nama obat-obatan, kursi-kursi, dan lembaran kertas yang ditiup angin. Ada pula potongan-potongan jas lab hijau dan putih tergantung di dahan-dahan pohon. Jas-jas tersebut terhempas oleh ledakan dan kemudian terbawa angin. 

Tolak Kutuk Serangan AS
Dewan Keamanan PBB menolak permintaan Rusia untuk mengutuk serangan udara yang dilancarkan Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis ke Suriah. Hanya China dan Bolivia yang mendukung rancangan resolusi yang diajukan Rusia. Dewan Keamanan PBB yang beranggotakan 15 negara bertemu pada hari Sabtu, 14 April 2018. Tatap muka itu dilakukan atas desakan Moskow pasca-serangan udara ke Suriah.

"Mengapa Anda (Barat) tidak menunggu hasil investigasi yang Anda minta?," tanya Duta Besar Rusia untuk PBB Vassily Nebenzia usai pemungutan suara dilakukan di Dewan Keamanan PBB. Diplomat Rusia itu menuduh, Amerika Serikat, Prancis, dan Inggris 'menunjukkan ketidakpatuhan terhadap hukum internasional'. Ia menambahkan, "Saya berharap kepala yang panas akan menjadi dingin".

Penyidik internasional dari pengawas senjata kimia global tengah berada di Suriah untuk melaksanakan tugas mereka. Sementara itu, Suriah dan Rusia menegaskan, tidak ada bukti bahwa serangan senjata kimia telah terjadi.

Selama tatap muka Dewan Keamanan PBB, Amerika Serikat, Prancis, dan Inggris membela kebijakan mereka untuk menyerang Suriah. Mereka menyebutnya legal. "Kami yakin bahwa kami telah melumpuhkan program senjata kimia Suriah. Kami siap untuk mempertahankan tekanan ini jika rezim Suriah cukup bodoh untuk menguji tekad kami," terang Duta Besar Amerika Serikat untuk PBB, Nikki Haley. (Detikcom/CNNI/c)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
DPRDSU Tegaskan Hentikan Pembersihan Lahan PTPN II
Wapres JK: Kerajinan Tangan Harus Bersaing dengan Robot
Peringatan Hari Air Sedunia dan Hari Bumi di Sibolangit Ditandai Tanam Bibit Pohon
Jokowi Bertemu PA 212 Jalin Persatuan
Papua Geram MA Hapus Pajak Air Freeport Rp 3,9 Triliun
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU