Home  / 
Wage Ginting Manik Kini Populer dengan Ambulans Pribadi Gratis di Tanahkaro
Senin, 19 Maret 2018 | 15:18:32
Medan (SIB)- Wage Ginting Manik (29 tahun), seorang pemuda wiraswasta ladang jeruk di Desa Laugendek Kecamatan Dolatrayat (dekat Berastagi) Kabupaten Karo, belakangan ini kian populer di kalangan masyarakat Karo dengan pelayanan mobil ambulans gratis yang telah digelutinya sejak setahun lalu.

"Mulanya dia (Wage) hanya melayani kebutuhan antar jemput pasien atau antar jenazah dengan ambulans gratis pribadinya, di wilayah atau kawasan terdekat desanya saja seperti Tanjungbarus, Tongkeh atau Peceren, Berastagi, Basam, Bukit dan sekitarnya. Tapi belakangan banyak warga yang membutuhkan dari desa lain yang agak jauh, dilayaninya. Dia jadi dikenal melalui mulut ke mulut maupun dari nomor kontak yang dipajang di mobil ambulansnya itu," ujar Pdt Masada Sinukaban STh, Ketua GBKP Klasis Barus Sibayak kepada SIB di Medan, Sabtu pekan lalu (10/3).

Sinukaban menyampaikan hal itu ketika bersama sejumlah rekannya sesama pendeta dan rohaniwan tengah memersiapkan acara parade dan penginjilan bersama untuk pemulihan citra Karo Simalem dalam waktu dekat ini. Dia juga menyinggung banyaknya apresiasi warga di kalangan jemaat gereja atas peran dan partisipasi cepat dari ambulans relawan Wage Ginting Manik belakangan ini.

Wage Ginting Manik memang salah satu jemaatnya di GBKP walau berjemaat di gedung gereja  (runggun) GBKP lain tapi masih di wilayah klasis Barus Sibayak. Wage terus mendapat panggilan untuk melayani keluarga duka. Putra dari Miha Ginting mantan PNS di Medan atau cucu dari seorang purnawirawan kolonel di bagian keuangan Kodam II/BB (kini Kodam I/BB) EK Ginting itu, bukan hanya  populer karena jasa ambulansnya yang serba gratis, tetapi juga karena responnya yang cepat tanggap dan langsung hadir di tempat acara duka walaupun belum tiba masa pemakaman.

"Ini hanya gerakan sosial pribadi dan panggilan pelayanan mandiri. Mulanya dulu ada seorang anak keluarga yang harus diantar berobat ke Puskesmas tapi kemudian harus lanjut ke rumah sakit dan saya jemput pulangnya. Beberapa hari kemudian saya lihat ada satu keluarga yang agak kewalahan untuk proses pemakaman karena ambulans yang dipesannya belum tiba walau acara liturgi jenazah sudah selesai. Lalu saya terpikir untuk memfungsikan mobil saya menjadi ambulans. Ini jadi manfaat ganda bagi saya karena bisa sambil memaparkan sosialisasi bahaya narkoba atau judi kepada saudara-saudara saya di tengah masyarakat, ujar Wage Ginting Manik kepada SIB sambil mengisahkan sejumlah pengalamannya dengan berbagai suka-duka ketika mengantar jenazah dari rumah duka ke pemakaman umum di desa-desa. (A04/c)


Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Jokowi: Korupsi Hingga Perang Dagang AS-China Jadi Ancaman Kita
Kejaksaan dan Pengadilan di Gunungsitoli Dipimpin “Srikandi” Cantik
Ketua Soksi Sumut Kaget Ngogesa Sitepu Dicopot
Jaksa Agung : Aset First Travel Dirampas Negara Merupakan Kesalahan
Dugaan Perjalanan Fiktif di Kesbangpol Sumut, Pj Gubsu Perintahkan Inspektorat Lakukan Pengecekan
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU