Home  / 
Pilpres 2019
Dua Kali Absen Deklarasi, Prabowo Ragu Nyapres ?
Rabu, 14 Maret 2018 | 12:15:28
Jakarta (SIB) -Kalangan internal Gerindra dari daerah sampai pusat mendorong Ketum Prabowo Subianto segera mendeklarasikan diri sebagai capres 2019.
Namun, saat didaulat lewat deklarasi, Prabowo justru tak hadir. Kenapa?

Pada Minggu (11/3), DPD Gerindra DKI Jakarta mendeklarasikan Prabowo Subianto jadi capres Gerindra. Deklarasi ini dibacakan Ketua DPD Gerindra DKI Jakarta Muhammad Taufik di Lapangan Arcici, Rawasari, Jakarta Pusat.

Namun sang jagoan tak datang ke acara ini, diwakili Sekjen Gerindra Ahmad Muzani. Sehari kemudian, pada Senin (12/3), giliran pengurus 34 DPD Gerindra mendeklarasikan Prabowo sebagai capres di Hotel DoubleTree Cikini, Jakarta Pusat. Lagi-lagi tak ada Prabowo di deklarasi ini, hanya ada pengurus DPD Gerindra dan beberapa pengurus DPP, seperti Wasekjen Andre Rosiade, Ketua DPP Habiburokhman, serta Ketua Bidang Organisasi, Keanggotaan, dan Kaderisasi Gerindra Prasetyo Hadi.

Kenapa sampai dua kali acara deklarasi capres tak dihadiri Prabowo? Apakah Prabowo masih ragu atau ada pertimbangan lain sehingga ia tak mau buru-buru mendeklarasikan diri sendiri sebagai capres?

Petinggi Gerindra sendiri melihat Prabowo tengah mencermati sebelum mengambil langkah penting itu. "Pak Prabowo sekarang lagi berkonsentrasi dan merenung. Seperti waktu itu di acara HUT Gerindra, beliau sudah berpidato, bahwa beliau akan melihat betul dukungan masyarakat, parpol koalisi, sebelum menyatakan diri untuk maju," kata Andre kepada wartawan seusai acara deklarasi DPD Gerindra.

Ia meyakini Prabowo sebenarnya sudah yakin nyapres. Hanya perlu waktu sebelum mendeklarasikan diri. "Kalau soal keyakinan, kader Gerindra sudah sangat yakin mendukung Prabowo. Kami yakin, Pak Prabowo juga yakin. Tapi beliau hanya menunggu waktu yang pas untuk mendeklarasikan diri," sebut Andre.

Meski Gerindra meyakini Prabowo 100 persen yakin menatap Pilpres 2019, ketidakhadiran Prabowo dalam dua kali deklarasi capres itu jadi catatan politik menarik. Bahkan Partai Demokrat, yang sedang terlibat saling sindir dengan Gerindra, menyebut cukup berat bagi Prabowo menghadapi Pilpres 2019. Bahkan Wasekjen PD Rachlan Nashidik menyarankan Prabowo jadi cawapres Jokowi saja.

"Jangan takut, saya persilakan bila Pak Prabowo mau jadi cawapres Jokowi. Saya kira itu bagi Pak Prabowo adalah pilihan rasional dan menguntungkan. Dengan segala hormat, adalah fakta Pak Prabowo tidak pernah menang dalam Pilpres," sindir Rachland saat dimintai konfirmasi wartawan.

"Tidak ada jaminan beliau akan menang dalam Pemilu 2019. Menjadi cawapres Jokowi adalah kesempatan terakhir beliau. Pak Prabowo makin sepuh. Kami mengalah saja," imbuh orang dekat Agus Harimurti Yudhoyono saat Pilgub DKI 2017 itu.

Sindiran yang terkesan meremehkan Prabowo tak hanya datang datang dari PD. Mantan Kepala Staf Kostrad Mayjen (Purn) Kivlan Zen, yang mendukung mantan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo maju sebagai capres, menyebut modal logistik Prabowo kalah.

"Perkiraan saya, nggak usah disebutkanlah, Gatot uangnya banyak, melebihi uang Prabowo," ujar Kivlan setelah menghadiri acara silaturahmi tokoh nasional menuju Pilpres 2019 di Hotel Sultan, Jakarta Pusat, Kamis (8/3).

"Saya tahu (Gatot punya banyak uang), kalau Gatot dipilih bagus juga, sudah terang dia ke mana orientasinya," sambung Kivlan menegaskan dukungan ke Gatot.
Lantas akankah Prabowo menjawab suara miring itu dengan deklarasi capres? Atau Prabowo malah jadi king maker memunculkan capres alternatif penantang Jokowi? (detikcom/l)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Tim SAR Temukan 2 Titik Objek di Kedalaman 490 Meter Danau Toba
Kabar Terbaru: Posisi KM Sinar Bangun Berhasil Diidentifikasi
Pemerkosa Turis Prancis di Labuan Bajo Terancam 12 Tahun Penjara
Golok Menancap di Dada, Dadan Tewas Diduga Dibunuh
Saat Silaturahmi, Pencuri di Rumah Kosong Dibekuk
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU