Home  / 
Imam Besar Istiqlal: Indonesia Selamatkan Wajah Dunia Islam
* Pusat Kepemimpinan Islam Bukan Lagi di Timteng atau Arab
Senin, 12 Maret 2018 | 11:01:28
Nasaruddin Umar
Bantul (SIB)- Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta KH Nasaruddin Umar mengatakan Indonesia menyelamatkan wajah Islam di dunia. Keramahan umat Islam Indonesia dapat menepis anggapan kekerasan seperti konflik yang terjadi di Timur Tengah.

"Untung ada Indonesia, seandainya tidak ada Indonesia maka muka Islam ini mau dibawa ke mana. Pasti akan ada kesimpulan agama Islam adalah agama teroris, agama kekerasan," kata Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta Nasaruddin Umar, dalam dialog nasional di UMY, Minggu (11/3).

Umar menerangkan, saat ini Indonesia dianggap sebagai kebanggaan bagi negara-negara Islam. Sebagai negara berpenduduk mayoritas muslim, Indonesia dikenal sebagai negara demokrasi yang memberikan kemerdekaan penuh kepada warganya dalam beribadah.

"Dunia tidak bisa mengatakan Islam itu agama teroris. Buktinya ada satu negara yang namanya Indonesia, peringkat demokrasinya itu tidak kalah dengan yang lain. Jadi ini suatu bukti bahwa Islam itu bisa paralel dengan prinsip demokrasi, paralel dengan sistem keuangan modern," paparnya.

Kemudian, lanjutnya, Indonesia juga pararel dengan kesetaraan gender. Kaum perempuan juga bisa aktif berkegiatan dalam kehidupan sehari-hari.
"Jadi beruntunglah para perempuan di Indonesia. Kalau kita bandingkan dengan Timur-Tengah, yang mengisi pasar tradisional itu adalah laki-laki. Tapi sebaliknya di Indonesia pasar tradisional itu didominasi perempuan," lanjutnya.

Merujuk kenyataan ini, lanjut Umar, dapat disimpulkan bahwa meski bukan negara Islam tetapi umat muslim di Indonesia diberikan kebebasan, keamanan, kenyamanan dan ketentraman. Terutama bagi kalangan muslimah yang diberikan kebebasan lebih di ruang-ruang publik.

"Yang paling penting lagi bahwa dunia Islam sekarang ini mencontoh banyak sekali apa yang ada di Indonesia. Kita memang bukan negara Islam, negara Pancasila. Tapi sekarang menjadi contoh negara negara Islam. Jadi ini suatu pertanda bahwa kiblat peradaban Islam ini memang sudah bergeser," tuturnya.

Pusat Kepemimpinan Islam
Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta Nasaruddin Umar juga mengatakan, saat ini pusat kepemimpinan Islam tidak berada di Timur-Tengah atau di negara-negara Arab. Melainkan, saat ini pusat Islam ada di Indonesia.

"Sekarang ini dunia hampir sepakat, bahwa sekarang ini kepemimpinan Islam itu ada di Asia Tenggara dalam hal ini adalah Indonesia," kata Umar.
Umar menjelaskan, pendapatnya ini merujuk sebuah indeks yang menyebutkan bahwa negara paling merdeka menjalankan syariat Islam adalah Indonesia. Bukan di negara-negara Timur-Tengah atau negara Arab.

"Yang paling sering pergi salat tarawih, pergi dari masjid ke masjid, perempuan di Indonesia bisa kuliah dari ujung ke ujung hanya di Indonesia. Jadi seolah-olah kiblat peradaban Islam sekarang ini berada di Indonesia," sebutnya.

Selanjutnya, Umar menerangkan satu riwayat hadis yang isinya menyebutkan bahwa Rasulullah rindu terhadap kekasihnya. Kekasihnya itu bukan para sahabat, melainkan umat muslim yang hidup jauh setelah masa beliau.

"Kekasihku (Rasulullah) ialah mereka yang akan hidup jauh dari tempat kelahiranku di sini dan mereka akan hidup jauh dari waktu aku sekarang (hidup)," ucap Umar membacakan hadis.

"Nah, yang paling jauh dari tanah Arab itu Indonesia. Jangan-jangan yang dirindukan nabi adalah kita. Bangsa yang paling mencintai Rasulullah insya Allah Indonesia," lanjutnya.

Di tanah Nusantara ini, sambung Umar, hampir 24 jam salawatan berupa puji-pujian terhadap Rasulullah didengungkan. Di tanah ini pula semua muslim dan muslimah diberikan kemerdekaan beribadah.

"Ada pakar yang mengatakan bahwa Saudi Arabia atau tanah Arab itu tugasnya memang melahirkan Islam. Tetapi estafet kepemimpinan berikutnya sejarah membuktikan bergeser. Islam lahir di Mekah, terus pindah ke Madinah," terangnya.

"Selesai Khulafa'ur Rasidin itu pindah lagi ke Syiria yaitu Bani Umayyah. Setelah itu pindah lagi ke Baghdad setelah kekuasaan diambil alih oleh Abbasiyah. Setelah itu ke Turki Usmani. Nah saat ini Indonesia," tutupnya. (detikcom/l)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
#2019KitaTetapBersaudara, Pilihan Boleh Beda Persatuan Indonesia yang Paling Utama
Mahir Melukis, Narapidana Bebas dari Penjara
Kakek 83 Tahun Lawan Perampok Bersenjata
Pegawai Supermarket Dipecat Gara-gara Jual 15.000 Apel
Gara-gara Badai Florence, 3,4 Juta Ayam dan 5.500 Babi Mati
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU