Home  / 
5 Nama Bakal Jadi Penantang Jokowi
* Sekjen PDIP: Pencalonan Jokowi di Tangan Megawati
Minggu, 18 Februari 2018 | 13:23:02
Jakarta (SIB) - Analis politik dari Exposit Strategic Arif Susanto mengemukakan, dalam berbagai survei, nama Jokowi dan Prabowo diunggulkan sebagai calon presiden 2019. Sebagai politikus senior yang pernah berhadap-hadapan pada Pilpres 2014, keduanya memiliki jaringan dukungan meluas, di kalangan elite maupun massa.

"Dengan posisi sebagai presiden, Jokowi terlibat pengambilan kebijakan dan memperoleh ekspose media lebih besar dibandingkan Prabowo. Namun, dengan posisi sebagai Ketum Gerindra, Prabowo mampu membawa diri sebagai pemimpin oposan," kata Arif di Jakarta, Sabtu (17/2).

Ia menjelaskan, meski keduanya unggul, terdapat kemungkinan munculnya nama-nama lain, yang patut diperhitungkan sebagai 'kuda hitam'. Misalnya, Anies Baswedan, Gatot Nurmantyo, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), atau Ahmad Heryawan.

Anies adalah politikus muda yang mengesankan diri santun, representasi kelompok muslim, dan terdidik. Dengan posisi terkini sebagai Gubernur Jakarta, Anies dapat merebut perhatian publik di kancah politik nasional. Tidak berasal dari partai tertentu, Anies harus bekerja lebih keras untuk meyakinkan dukungan mereka. Dia juga butuh dukungan massa yang lebih meluas.

Sementara itu, Gatot bergema pada akhir masa jabatannya sebagai Panglima TNI. Dengan pengalaman teritorialnya, Gatot memahami lebih baik karakteristik umum masyarakat. Pun dengan ancaman tertib sosial yang kini menguat, Gatot bisa mengajukan diri sebagai pemimpin alternatif. Namun, usai purnawira, Gatot tampak hilang dari radar, apalagi dia tidak bergabung dengan partai tertentu.

AHY adalah nama populer dengan pengalaman politik paling minim. Leverage politik yang dimilikinya hanya dua yaitu dia putra SBY dan pernah bertarung memperebutkan posisi Gubernur Jakarta. Sulit mendapatkan dukungan di luar lingkaran politiknya yang masih terbatas, AHY membutuhkan terobosan politik seperti dilakukannya pada Pilkada Jakarta 2017.

Sebagai Gubernur Jawa Barat selama dua periode, Ahmad Heryawan (Aher) cukup populer di Jawa. Mendapat dukungan PKS dan cukup lentur berelasi dengan partai lain, Aher bisa mencuat secara nasional. Namun, terbatasnya ekspose dan basis dukungan dapat mempersulitnya.

"Untuk Jokowi, meskipun dia seorang petahana, masih ada beberapa hambatan yang dihadapinya. Prioritas pembangunan infrastruktur, misalnya, tidak otomatis mendongkrak dukungan terhadapnya karena dampak pembangunan yang berjangka panjang, sementara beban utang ditanggung dalam jangka berkelanjutan," jelas Arif.

Dia menambahkan, problem ancaman intoleransi dan penegakan hukum serta persoalan Hak Asasi Manusia (HAM) menjadi bagian dari catatan serius yang harus diperbaiki. Di luar itu, Jokowi harus menemukan pasangan yang tepat sebagai Cawapres dan komitmen lebih kuat dari partai-partai pendukungnya.

Pencalonan Jokowi
Dukungan partai politik kepada petahana Presiden Joko Widodo pada Pilpres 2019 setidaknya sudah lebih dari cukup. Dukungan datang dari Partai Golkar, PPP, Partai Nasdem, Partai Hanura dan PKPI.

Sementara partainya Jokowi, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) hingga kini belum memutuskan untuk mendukung siapa di Pilpres tahun depan.

Meski PDIP belum mendeklarasikan dukungannya termasuk kepada mantan Gubernur Jakarta itu, Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto mengungkapkan partainya tidak akan segan-segan untuk memberikan kesempatan kedua bagi kader yang dapat memberikan kinerja yang baik.

"Kami yang mencalonkan pertama kali Bapak Jokowi saat itu sebelum pemilu legislatif (2014). Dan juga tradisi, jangankan untuk Presiden untuk kepala daerah pun kami selalu memberikan kesempatan dua kali bagi yang bekinerja baik," ujar Hasto.

Hasto juga mengatakan, penilaian masyarakat melalui survei menyatakan puas terhadap kinerja Jokowi, mengingat selama ini kepemimpinan Jokowi menunjukkan sikap yang pancasilais.

"Kepemimpinan yang memperjuangkan bagaimana nilai ketuhanan, kemanusian, dan persatuan sosial itu diterapkan," tambahnya.

Meski demikian, Hasto mengungkapkan penetapan Jokowi sebagai calon presiden dari PDIP, tetap ada di tangan Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri.

"Tentu saja bagi kami ini merupakan satu kesatuan kepemimpinan negara Bapak Presiden dengan calonnya, jadi tunggu aja. Yang penting kami memberikan dukungan faktual yang berada di tengah rakyat, tapi juga melalui kebijakan di pemerintah," tutupnya. (SP/rmol/d)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
KPK Telusuri Properti Bupati Rita ke Legal Manager Agung Podomoro
DPP N4J Rayakan HUT ke-57 Presiden Jokowi di Medan
Besok Kampanye Akbar Djoss Dihadiri Ketum PDIP Megawati
Arus Balik Gunakan KA dan Pesawat Naik Signifikan, Bus Normal
Bercanda Bom di Bandara Komodo, WN Portugal Dibawa ke Kantor Polisi
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU