Home  / 
Penembakan Massal di Sekolah di Florida, 17 Orang Tewas
Sabtu, 17 Februari 2018 | 12:21:51
Florida (SIB)- Penembakan massal terjadi di Marjory Stoneman Douglas High School di Parkland, Florida, Amerika Serikat, Rabu (14/2). Sedikitnya 17 orang tewas dalam peristiwa tersebut. Kejadian ini merupakan salah satu yang mematikan, setelah sedikitnya 20 anak-anak tewas terbunuh dalam aksi penembakan di sebuah sekolah di Connecticut pada tahun 2012 lalu.

Kepolisian setempat mengungkapkan pelaku penembakan bernama Nikolaus Cruz. Cruz merupakan mantan siswa di sekolah tersebut yang telah dikeluarkan dari sekolah karena pemuda berumur 19 tahun itu pernah mengancam teman-teman sekolahnya.

Cruz melakukan aksinya dengan menggunakan senapan semiotomatis AR-15 dan melepaskan tembakan dari luar sekolah menewaskan 3 orang. Dia kemudian masuk ke dalam gedung sekolah dan menewaskan 12 orang lainnya. Sementara itu 2 korban lainnya meninggal setelah dilarikan ke rumah sakit.
Dr Evan Boyar dari Broward Health mengatakan 17 orang telah dilarikan ke rumah sakit daerah. Cruz termasuk yang sempat menjalani perawatan dan langsung ditahan polisi. Evan mengatakan 3 orang dalam kondisi kritis dan tiga lainnya dalam kondisi stabil.

Pelaku diyakini telah mempersiapkan serangan tersebut. Dia juga sengaja menghidupkan alarm kebakaran sehingga murid-murid akan berlarian keluar kelas sehingga dia bisa menembaki membabi-buta. "Penembak memakai masker gas, membawa granat asap dan dia menghidupkan alarm kebakaran sehingga anak-anak akan keluar dari ruangan kelas," kata Senator Bill Nelson usai mendapat keterangan dari FBI.

Belum diketahui motif penembakan tersebut. Namun seorang guru sekolah tersebut mengatakan, pelaku sebelumnya telah dinyatakan sebagai ancaman. Pihak sekolah pernah mengirimkan email berisi peringatan mengenai Cruz.

"Ada masalah dengan dia tahun lalu, dia mengancam murid-murid, dan saya kira dia kemudian diminta meninggalkan sekolah," kata Jim Gard, seorang guru matematika di sekolah. Bahkan murid-murid pernah memperkirakan bahwa Cruz akan menembaki sekolah tersebut. Seorang siswa menuturkan, para siswa di sekolah tersebut telah sejak lama mengira Cruz akan melakukan penembakan.

"Banyak orang yang mengatakan itu. Banyak anak melemparkan candaan bahwa dia akan menjadi orang yang melepas tembakan di sekolah. Ternyata banyak orang memperkirakan begitu. Itu gila," cetus seorang murid kepada stasiun televisi WFOR-TV. "Semua yang dia posting (di media sosial) adalah tentang senjata," imbuhnya.

Presiden Amerika Donald Trump menyampaikan belasungkawa atas peristiwa mengerikan itu. "Doa dan belasungkawa saya untuk keluarga-keluarga para korban penembakan Florida yang mengerikan," demikian disampaikan Trump dalam postingan di Twitter. "Tidak ada anak, guru ataupun orang lain yang boleh merasa tidak aman di sekolah Amerika," imbuh Trump.

Trump juga berkicau di Twitter mengomentari pelaku penembakan yang mempunyai masalah kejiwaan. Bahkan hingga dikeluarkan dari sekolah. "Tetangga dan teman sekelasnya tahu kalau dia adalah biang keonaran. Selalu laporkan jika ada orang seperti dia kepada otoritas!" tutur Trump.

Selain itu, Sekretaris Gedung Putih, Sarah Sanders berujar, Trump bakal memberikan pernyataan publik atas insiden itu. Cruz melakukan aksi penembakan dengan memulainya dari luar sekolah, dan kemudian mulai masuk ke dalam.

Salahkan Kongres AS
Sementara Senator Chris Murphy dari Partai Demokrat bereaksi keras atas penembakan brutal yangdi Florida. Murphy dengan tegas menyatakan Kongres AS bertanggung jawab atas epidemi pembantaian massal di AS.

"Epidemi pembantaian massal, momok penembakan sekolah yang satu ke penembakan sekolah lainnya," ucap Murphy. "Ini hanya terjadi di sini bukan karena kebetulan, bukan karena nasib buruk, tapi sebagai konsekuensi atas kelambanan kita. Kita bertanggung jawab atas level kekejian yang terjadi di negara ini, dengan nol paralel di tempat lain," imbuhnya.

Murphy yang merupakan Senator untuk negara bagian Connecticut ini, sejak lama dikenal sebagai pendukung pengendalian senjata api di AS. Murphy kerap secara terang-terangan memperjuangkan pengendalian kepemilikan senjata api. Selama ini kalangan Partai Republik selalu menolak aturan pengendalian senjata api. Negara bagian Connecticut yang diwakili Murphy, pernah mengalami insiden penembakan brutal tahun 2012. Saat itu, penembakan brutal terjadi di Sekolah Dasar Sandy Hook yang menewaskan 20 siswanya.

Murphy memulai pidatonya di ruang sidang Senat AS dengan menyoroti bahwa penembakan brutal seperti ini 'tidak terjadi di negara lain selain Amerika Serikat'. "Sebagai orang tua, ini sungguh membuat saya ketakutan setengah mati bahwa lembaga ini tidak menganggap serius keselamatan anak-anak saya, dan tampaknya banyak orang tua di Florida Selatan yang akan menanyakan pertanyaan yang sama hari ini," ujarnya. "Kami mendoakan keluarga korban, para korban. Kami mengharapkan yang terbaik," ucapnya lagi.

Beberapa waktu lalu, Murphy mengkritik para anggota Kongres AS lainnya karena dianggap tidak bertindak tegas usai penembakan brutal di Las Vegas, AS. "Inilah saatnya bagi Kongres untuk bangkit dan melakukan sesuatu," tegasnya saat itu.

Anggota Kelompok Supremasi Kulit Putih
Pelaku penembakan brutal di sekolah Florida, Amerika Serikat (AS), Nikolas Cruz, ternyata merupakan anggota kelompok supremasi kulit putih. Disebutkan Cruz pernah ikut latihan ala militer bersama kelompok itu. Diungkapkan kelompok HAM setempat, Anti-Defamation League (ADL), bahwa Cruz merupakan anggota kelompok supremasi kulit putih bernama Republic of Florida (ROF). Kelompok itu dipimpin seorang pria bernama Jordan Jereb.

ADL telah berkomunikasi dengan Jereb, usai Cruz melakukan penembakan brutal pada Rabu (14/2) waktu setempat. Disebutkan ADL bahwa Jereb menyatakan Cruz diajak bergabung oleh salah satu anggota kelompok ROF dan pernah diajak ikut latihan ala militer di dekat Tallahassee, Florida.

Dalam situsnya, ROF menyebut diri sebagai 'organisasi hak sipil kulit putih yang berjuang untuk politik identitas kulit putih'. Kelompok ini diketahui banyak mengkampanyekan terbentuknya 'ethno-state kulit putih' di Florida. ADL menyebut kelompok ROF 'meminjam konsep paramiliter dari pergerakan milisi ekstremis antipemerintah'. Namun Jereb menegaskan kelompoknya tidak memerintahkan ataupun mendukung aksi keji Cruz itu.

Dalam wawancara dengan media lokal Daily Beast, Jereb menyebut Cruz terlihat seperti 'pemuda kulit putih yang wajar, namun terpinggirkan'. "Saya tidak tahu secara pasti apa yang dia yakini. Saya tahu dia menyadari secara penuh bahwa dirinya bergabung dengan organisasi proto-fasis paramiliter separatis kulit putih," ucap Jereb.

Kepada Daily Beast, Jereb menyebut Cruz sebagai anggota sel di Clearwater, Florida, yang berjarak 300 kilometer sebelah barat daya Parkland. Menurutnya, Cruz pernah berlatih ala militer di sana. "Dia mungkin memanfaatkan latihan itu untuk melakukan apa yang dia lakukan kemarin (14/2). Tidak ada orang yang saya kenal yang memberitahunya untuk melakukan itu, dia hanya emosi," tandasnya. (Detikcom/h)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Kapolrestabes Medan Tinjau Lokasi MTQ Nasional di Jalan Williem Iskandar
Pemilik 623 Gram Ganja Dituntut 9 Tahun Penjara di Tanjungbalai
Punya Paspor Dinas, WNI Bebas Visa Masuk Yunani
DPRDSU Gagal Tandatangani Nota Kesepakatan KUA PPAS P-APBD 2018
PP Muhammadiyah Minta KPU Beri Tanda Caleg Eks Napi Korupsi
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU