Home  / 
Pria Bersamurai Serang Gereja St Lidwina Sleman
* MUI: Penyerangan Gereja Tidak Cerminkan Ajaran Nilai Agama * PKS Kutuk Penyerangan
Senin, 12 Februari 2018 | 11:10:34
SIB/Ant/Andreas Fitri Atmoko
PENYERANGAN GEREJA DI YOGYAKARTA: Petugas kepolisian melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) kasus penyerangan di Gereja Katholik St. Lidwina, Jambon, Trihanggo, Gamping, Sleman, DI Yogyakarta, Minggu (11/2). Polisi berhasil mengamankan satu tersangka dan masih melakukan penyelidikan terkait kasus penyerangan gereja yang melukai sejumlah umat serta merusak sejumlah fasilitas gereja dengan senjata tajam.
Jakarta (SIB) -Seorang pria tak dikenal membawa samurai masuk ke dalam Gereja St Lidwina, Bedog, Sleman, Yogyakarta, Minggu (11/2) pagi. Pria ini menyerang membabi buta orang-orang yang berada dalam gereja termasuk Romo Edmund Prier SJ yang tengah memimpin ibadah Minggu pagi tadi.

Pria yang akhirnya diketahui seorang mahasiswa bernama Suliyono (23), ini juga melukai empat orang lainnya. "Umat sedang menyanyi dalam acara kemuliaan, lalu ada seorang membawa pedang dan melukai beberapa orang sebelum berjalan ke altar," ujar Heni, saksi dalam kejadian tersebut.

Seorang saksi lainnya, Danang Jaya, warga Nogotirto, Gamping, Sleman kepada Antara mengatakan peristiwa ini terjadi saat Misa masih berlangsung. Pelaku yang membawa samurai sepanjang satu meter itu langsung mengamuk dan merusak benda-benda yang ada di dalam gereja seperti patung dan perabot lainnya.

Ia mengatakan pelaku kemudian menyerang umat yang ada di dalam gereja sehingga menimbulkan kepanikan di dalam gereja. "Pelaku kemudian mendatangi dan menyerang Romo yang sedang memimpin misa," katanya.

Pelaku yang mengenakan baju hitam dan membawa satu ransel di tangan kanannya terus mengancam jemaah dengan pedang di tangan kirinya. Jemaah mencoba untuk menghentikan aksi Suliyono dengan melempar benda-benda yang ada di gereja. Pelaku berusaha menghindar dari lemparan tersebut dan tetap mengacungkan pedangnya.

Pelaku masuk dari pintu gereja bagian barat langsung menyerang korban yang bernama Martinus Parmadi Subiantoro. Pelaku masuk ke gedung utama gereja sambil mengayun ayunkan senjata tajam sehingga para jemaat juga membubarkan diri. Selanjutnya pelaku berlari ke arah koor dan langsung menyerang Romo Prier yang sedang memimpin misa.

Pelaku terus menyerang jemaat yang masih berada di dalam gereja dan mengenai korban bernama Budi Purnomo. Suliyono tetap mengayun-ayunkan senjata tajamnya ke patung Yesus dan patung bunda Maria yg berada di mimbar gereja.

Polisi yang dihubungi kemudian mendatangi Gereja St Lidwina. Saat itu pelaku masih berada di dalam gereja. Polisi mencoba bernegosiasi dengan pelaku agar menyerahkan diri.

"Beberapa saat kemudian datang polisi berpakaian preman dan langsung meminta pelaku menyerah. Namun karena pelaku tidak mau menyerah maka langsung dilumpuhkan dengan tembakan pada kakinya," kata Danang.

Ia mengatakan meski pelaku sudah ditembak kakinya namun tetap berusaha menyerang anggota polisi tersebut. "Petugas polisi tersebut sampai jatuh dan hampir terkena sabetan pedang," katanya.

Setelah dilumpuhkan dengan tembakan, massa yang ada di luar gereja langsung masuk dan menangkap pelaku kemudian beramai-ramai membawanya keluar gereja.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian DIY Ajun Komisaris Besar Yulianto menyatakan, korban berjumlah 5 orang dan sedang dirawat di Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada. Menurut Yulianto, walaupun kejadian tersebut terjadi di gereja, aksi itu bukan sebuah teror melainkan kasus penganiayaan. "Kalau teror kan pake bom. Ini orang bacok jadi termasuk kasus penganiayaan," tutur Yulianto.

Umat Diharap Tenang
Pasca insiden tersebut, semua pihak diharapkan tenang dan berfikir jernih. Tindak kekerasan dan aksi intoleran tidak hanya menyasar pada satu agama, karena itu semua pihak diharapkan bersatu dan lebih hati-hati menyikapi situasi agar tidak terpancing.

Ketua Gereja Santa Lidwina, Sukatno, menyampaikan umat saat ini sudah berfikir jernih dan tidak terpancing. Umat memandang pria yang melakukan penyerangan hanya ingin mengacau kedamaian.

"Umat kan sudah cerdas, jadi tidak terpengaruh," ujar Sukatno.

Sukatno menuturkan umat tidak terpancing dengan aksi penyerangan yang dilakukan oleh orang tidak dikenal. Umat memandang apa yang dilakukan oleh orang tidak dikenal tersebut hanya ingin mengacaukan kedamaian.

"Umat biasa-biasa saja, itu kan hanya orang yang ingin mengacau kedamaian saja," tegasnya.

Menurut Sukatno, untuk menenangkan psikologi umat, pihaknya mengundang Kapolres Sleman untuk memberi penguatan. Sehingga umat bisa merasa nyaman beribadah.

"Untuk menguatkan psikologi umat, tadi sudah menyampaikan ke Kapolres meminta bantuannya memberikan penguatan kepada umat. Saat jemaat kumpul beliau nanti akan memberikan penguatan ke umat," katanya.

Setelah gereja nantinya dibersihkan, akan kembali digunakan untuk beribadah. Kemungkinan hari Sabtu dan Minggu depan, sudah untuk ibadah kembali.

"Ya, nanti kalau sudah bisa dibersihkan. Mungkin Sabtu dan Minggu bisa untuk ibadah kembali," katanya.

Publik harus bersatu
Publik perlu terus mendukung dan mengawasi kepolisian untuk mengusut kasus-kasus kekerasan. Jangan sampai publik kehilangan kepercayaan terhadapan kepolisian, bahkan hukum itu sendiri, akibat tidak tanggapnya aparat penegak hukum.

Dewan pembina MAARIF Institute yang juga penulis buku Membela Islam, Membela Kemanusiaan, Fajar Riza Ul Haq, mengatakan, akhir-akhir ini kita mendengar beberapa aksi bernuansa kekerasan dan intoleran terhadap semua kelompok agama.

"Dengan bermunculannya kasus-kasus kekerasan dan intoleransi yang memakan korban dari semua kelompok agama ini, seharusnya membuat publik sadar dan bersatu," kata Fajar.

Menurut Fajar, kasus-kasus seperti ini bukan hanya sebatas aksi intoleransi dan kekerasan terhadap kelompok-kelompok agama.

"Saya kira ada faktor lain yang harus sama-sama diwaspadai oleh semua umat beragama dan menjadi perhatian pemerintah. Jangan sampai umat yang majemuk ini termakan hasutan dan adu-domba dan kepentingan politik sesaat," kata Fajar.

Tidak Cerminkan Ajaran
Sementara itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyesalkan penyerangan terhadap pastor dan jemaat Gereja Santa Lidwina, yang sedang menjalankan misa pagi. MUI menyebut aksi tersebut tidak mencerminkan nilai agama.

"MUI sangat menyesalkan terjadinya penyerangan terhadap Gereja St Lidwina Bedog, Yogyakarta pada saat umat Kristiani melaksanakan ibadah misa pagi di gereja. Tindakan tersebut sama sekali tidak mencerminkan ajaran nilai-nilai agama," ujar Wakil Ketua Umum MUI Zainut Tauhid kepada wartawan.

"Apa pun motifnya tindakan tersebut patut dikutuk dan tidak bisa ditoleransi," sambungnya.

MUI meminta aparat kepolisian untuk bertindak mengusut motif penyerangan tersebut. Sehingga tidak ada prasangka yang bisa menganggu kehidupan antarumat beragama.

"MUI meminta kepada aparat kepolisian RI untuk segera bertindak cepat dan mengusut tuntas motif pelakunya. Dan segera memberi keterangan kepada masyarakat agar tidak timbul fitnah dan prasangka buruk di masyarakat yang dapat mengganggu harmoni kehidupan antarumat beragama," ujarnya.

Dia juga berharap agar masyarakat bisa menjaga situasi tetap kondusif. Jangan sampai menyebarkan berita palsu (hoax) yang membuat gaduh dan keamanan nasional.

"MUI meminta kepada masyarakat untuk tetap menjaga situasi yang kondusif dengan tidak menyebarkan opini, berita hoax dan berbagai isu yang justru dapat membuat gaduh dan mengganggu keamanan nasional," pesan Zainut.

Zainut juga menyampaikan simpati kepada para korban penyerangan tersebut. "MUI menyampaikan simpati yang mendalam atas beberapa korban dari serangan tersebut, semoga diberikan kesabaran dan kesembuhan seperti sedia kala," ucapnya.

PKS Kutuk Penyerangan
Ketua Fraksi PKS Jazuli Juwaini juga mengutuk penyerangan tersebut. Jazuli mengatakan tindakan itu tidak dapat dibenarkan terjadi di negara ini.

"Aparat kepolisian yang telah berhasil meringkus pelaku diharapkan melakukan penyelidikan secara serius motif di balik penyerangan serta menuntut hukuman yang setimpal terhadap pelaku," ujar Jazuli kepada wartawan.

Anggota Komisi I itu mengatakan penyerangan terhadap orang lain merupakan tindakan kriminal. Apalagi hal itu dilakukan pada saat umat beragama sedang menjalankan ibadah.

"Kita tegas tidak bisa mentoleransi perilaku yang demikian karena jelas bertentangan dengan hukum dan konstitusi negara," ujarnya.

Jazuli kemudian menyoroti perlindungan pemerintah dan aparat kepolisian terhadap kehidupan umat beragama. Pasalnya bukan kali ini saja kekerasan terhadap tokoh agama terjadi.

"Penyerangan terhadap pemuka dan umat beragama ini tidak hanya terjadi kepada umat Kristiani. Sebelumnya di Jawa Barat juga terjadi penyerangan serupa terhadap kiai dan tokoh/ulama dari ormas Islam, bahkan hingga merenggut nyawa Ustaz Prawoto dari Persis," ujar Jazuli.

Jazuli berharap agar seluruh masyarakat bersikap tenang, dan jangan sampai terprovokasi. Dia berharap upaya adu domba itu tidak merusak persaudaraan dan hubungan antarumat beragama.

"Jangan sampai masyarakat terpancing atau tersulut emosi yang justru merusak keharmonisan kehidupan berbangsa dan bernegara. Kita jaga bangsa ini agar tetap kondusif," ajak Jazuli.

Dia pun berharap kasus penyerangan itu bisa diusut tuntas kepolisian. Jangan sampai kasus serupa terjadi lagi.

"Dalam dua kasus penyerangan ulama sebelumnya misalnya, apakah yang melakukan kekerasan terhadap para ustaz (yang diduga orang gila itu) apakah bener-benar gila atau pura-pura gila?" tanya Jazuli.

"Lalu siapa pula pelaku penyerangan gereja di Yogya. Kenapa beruntun begini? Ini yang harus dijawab oleh polisi secara transparan dan objektif agar masyarakat clear, tidak bertanya-tanya dan curiga serta agar suasana kondusif tetap terjaga, pungkas Jazuli. (detikcom/d)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Pengurus DPW Doakan Jokowi Menang Sumut Dilantik, Tuani Lumbantobing Ketua
CSIS: Prabowo Alami Stagnasi Elektoral
Bawaslu Jadwalkan Panggil Kepala Daerah di Riau Pendukung Jokowi
Sandiaga Resmikan Posko Pemenangannya di Rumah Keluarga Soeharto
Tensi Pilpres 2019 Makin Panas Karena Medsos
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU