Home  / 
Ketua KPK: Hasil Penyelidikan, Fredrich Yunadi Lakukan Rekayasa
Sebelum Kecelakaan Novanto, Pengacara Telah Pesan 1 Lantai RS
Jumat, 12 Januari 2018 | 11:33:23
SIB/Ant/Rivan Awal Lingga/aww/18
KPK GELEDAH KANTOR FREDRICH YUNADI: Tim Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan penggeledahan di kantor tersangka dugaan menghalangi proses penyidikan atau Obstruction of Justice (OJ), Fredrich Yunadi di Jakarta, Kamis (11/1). KPK menduga Fredrich dan dokter Rumah Sakit Medika Permata Hijau Bimanesh Sutarjo, melakukan tindak pidana berupa merintangi atau menggagalkan penyidikan dalam perkara kasus KTP Elektronik dengan tersangka Setya Novanto.
Jakarta (SIB) -Ketua KPK Agus Rahardjo menyebut Fredrich Yunadi melakukan rekayasa berkaitan dengan sangkaan perintangan penyidikan. Dalam kasus itu, Fredrich sudah menjadi tersangka.

"Ya kan kalau dari penyelidikan kita kan yang bersangkutan memang merekayasa. Ya jadi ya kita proses hukum lebih lanjut aja," ujar Agus di DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (11/1).

"Bagaimana pun, penasihat hukum tidak boleh melanggar kode etik dan tidak boleh melanggar aturan hukum yang berlaku," imbuh Agus.

Kabar terakhir, Fredrich dipanggil KPK untuk menjalani pemeriksaan pada Jumat (12/1). Namun, Fredrich meminta agar pemeriksaan di KPK dilakukan setelah Peradi memeriksanya terkait dugaan pelanggaran kode etik.

Namun, KPK mengimbau Fredrich tetap memenuhi panggilan. Hal itu demi memperlancar proses hukum yang sedang berjalan.

"Kita hargai proses pemeriksaan kode etik. Kalau di Peradi mau melakukan pemeriksaan kode etik, di IDI juga sudah melakukan. Itu domain organisasi profesi masing-masing," kata Kabiro Humas KPK Febri Diansyah saat dimintai konfirmasi terpisah.

Sebagai informasi, Fredrich merupakan tersangka kasus dugaan merintangi penyidikan atau obstruction of justice. Selain Fredrich, dr Bimanesh Sutarjo ditetapkan sebagai tersangka.

Keduanya disangka memanipulasi data rekam medis Novanto. Manipulasi itu dilakukan untuk menghindari panggilan KPK atas Novanto.

Booking 1 Lantai RS
Pengacara Setya Novanto disebut KPK telah melakukan pemesanan 1 lantai RS Medika Permata Hijau sebelum Novanto kecelakaan. Namun rupanya yang berhasil didapatkan hanya 3 kamar inap VIP.

"Sebelum kecelakaan tersebut kami mendapat informasi ada pemesanan atau rencana booking kamar sampai dengan satu lantai untuk VIP. Meskipun tidak semuanya bisa didapatkan, ada 3 (kamar) yang didapatkan pada akhirnya," kata Kabiro Humas KPK Febri Diansyah.

Pemesanan kamar disebut Febri dilakukan oleh pengacara Novanto saat itu, Fredrich Yunadi. KPK pun telah memiliki bukti yang cukup atas dugaannya itu.

"Sudah ada koordinasi sebelumnya. Diduga FY (Fredrich Yunadi) sudah datang ke rumah sakit untuk berkoordinasi dengan pihak rumah sakit dan kami sudah mengumpulkan bukti-bukti yang cukup bahwa ada dugaan kerja sama untuk menghalang-halangi penyidikan perkara," ujar Febri.

KPK Bawa 3 Koper
Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sudah menggeledah kantor mantan pengacara Setya Novanto, Fredrich Yunadi. KPK membawa 3 koper dan 1 kardus dari dalam gedung.

Belasan penyidik KPK itu keluar dari kantor Fredrich pukul 16.39 WIB. Koper dan kardus yang mereka bawa kemudian ditempatkan di 4 unit mobil penyidik.

Ketua tim kuasa Fredrich, Supriyanto Refa, yang juga ada di dalam gedung saat penggeledahan mengatakan, penggeledahan yang dilakukan KPK berdasarkan penetapan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

"Jadi kami tadi melihat secara administrasi sudah terpenuhi," kata Supriyanto di Kantor Fedrich di Jalan Sultan Iskandar Muda No 15 C-D, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

Supriyanto juga mengatakan, KPK membawa 27 item yang berkaitan dengan surat kuasa. Selain itu, ada juga 3 handphone yang dibawa penyidik KPK.

"27 Item itu umumnya surat kuasa, surat menyurat yang tadi juga kami anggap ada hubungannya ada juga yang nggak ada hubungannya. Tapi KPK menganggap disita dulu nanti kalau sudah selesai dikembalikan," ujarnya.

"Handphone aja tadi diambil, ada 3 itu karyawan punya," lanjut Supriyanto. (detikcom/f)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Bamsoet Pastikan Kasus Penembakan di DPR Bukan Teror, Tapi Peluru Nyasar
Panitia Nasional Tinjau Venue Perayaan Natal 2018 di Medan
Korupsi Alat Kontrasepsi Rp 72 M, Pejabat BKKBN Dibui 2 Tahun
Gubsu Serahkan Tali Asih Rp 2,5 M kepada 10 Atlet Berprestasi di Asian Para Games 2018
Jokowi Beri Beasiswa kepada 5.144 Mahasiswa Korban Gempa Lombok
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU