Hotel Tapian Nauli
Home  / 
Komisi I DPR Setuju Marsekal Hadi Jadi Panglima TNI
* Marsekal Hadi Bicara Tentang Konflik yang Bisa Rongrong Pemerintah
Kamis, 7 Desember 2017 | 09:35:44
SIB/Ant/Muhammad Adimaja
UJI KELAYAKAN: Calon Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto menjalani uji kelayakan dan kepatutan calon Panglima TNI di Komisi I, Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (6/12). Marsekal Hadi Tjahjanto diajukan Presiden Joko Widodo sebagai Panglima TNI menggantikan Jenderal Gatot Nurmantyo yang memasuki masa pensiun.
Jakarta (SIB) -Marsekal Hadi Tjahjanto telah menjalani fit and proper test calon Panglima TNI di Komisi I DPR. Marsekal Hadi mendapat persetujuan DPR untuk 'naik jabatan'.

"Setelah melaksanakan proses uji kepatutan dan kelayakan, Komisi I DPR memberikan persetujuan terhadap Marsekal TNI Hadi Tjahjanto menjadi Panglima TNI," kata Ketua Komisi I DPR Abdul Kharis Almasyhari di ruang rapat Komisi I DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (6/12).

Marsekal Hadi menjalani fit and proper test kemarin pagi. Awalnya tes digelar terbuka, kemudian ditutup saat tanya-jawab.

Persetujuan Komisi I DPR akan segera dibawa ke sidang paripurna untuk disepakati sebagai keputusan DPR. Kemudian akan dilakukan pelantikan.

Panglima TNI Jenderal Gatot berharap pelantikan Marsekal Hadi digelar secepatnya. Jenderal Gatot mengaku ikhlas melepas tongkat estafet kepada Marsekal Hadi.

Dalam fit and proper test tersebut, Marsekal Hadi Tjahjanto memaparkan visi-misi kepada segenap Komisi I DPR. Hadi bicara banyak hal, salah satunya soal potensi bahaya perebutan pemerintahan yang sah.

Hadi awalnya bicara soal Indonesia sebagai negara kepulauan yang majemuk. Dia memandang, dengan konstruksi negara Indonesia yang seperti ini, potensi separatisme berbau SARA akan terus terjadi.

"Potensi separatisme serta konflik komunal berbasis suku, agama, ras, termasuk antargolongan, akan selalu ada. Lebih jauh di era reformasi demokrasi, politik yang sering kali mengarah pada liberalisasi berpotensi menjadi liberal, dilema," ujar Hadi di ruang rapat Komisi I DPR, kompleks parlemen, Senayan, Jakarta.

Jika kondisi tersebut tak dikelola dengan tepat, kata Hadi, bukan tidak mungkin konflik komunal itu akan meningkat menjadi konflik vertikal. Konflik vertikal itulah yang disebutnya sebagai bentuk rongrongan terhadap pemerintahan yang sah.

"Berbentuk rongrongan terhadap legitimasi pemerintahan yang sah atau pemberontakan," ucapnya.

Menanggapi potensi rongrongan terhadap negara, Hadi punya cara sendiri menghadapinya saat menjadi pimpinan tertinggi TNI nanti. Dia akan bertindak sesuai dengan doktrin TNI. Ada empat doktrin yang disebutkannya.

"TNI sebagai kekuatan penyerang, TNI sebagai kekuatan pertahanan, TNI sebagai kekuatan pendukung, TNI sebagai instrumen kekuatan negara yang dapat digunakan untuk kepentingan apa pun yang menjadi keputusan politik negara," urai Hadi.

Selain itu, TNI di bawah Hadi juga akan melaksanakan berbagai fungsi yang memang ditugaskan kepada mereka. TNI disebut akan menjalankan fungsi penangkal yang mampu mewujudkan daya tangkal setiap bentuk ancaman baik yang berasal dari dalam maupun luar negeri.

Lalu TNI akan menjalankan fungsi penindak yang mampu menggerakkan untuk menghancurkan kekuatan musuh serta fungsi pemulih yang dapat beroperasi bersama instansi pemerintah lainnya untuk mengembalikan kondisi keamanan negara yang telah terganggu akibat kekacauan keamanan.

Fungsi pemulih ini, dikatakan Hadi, juga termasuk dalam konteks hubungan internasional melalui peran aktifnya di bawah mandat PBB sebagai bagian dari politik luar negeri. Pria yang kini menjabat KSAU itu tetap memastikan TNI akan mengikuti cara-cara demokrasi.

"Dalam melaksanakan tugas dan fungsi tersebut, perlu saya tegaskan bahwa kesemuanya semata kehendak rakyat melalui koridor konstitusi dan kaidah-kaidah demokrasi yang berlaku," ucap Hadi.

Ancaman Terorisme
Berbagai materi disampaikan Hadi Tjahjanto dalam uji kepatutan dan kelayakan itu. Hadi juga bicara soal ancaman terorisme.

Menurut Hadi, ancaman teroris saat ini sangat luas, bahkan menyerang negara adidaya di dunia ini. Oleh karenanya Hadi memandang terorisme merupakan musuh bersama untuk diperangi.

"Hal tersebut telah menjadikan terorisme sebagai ancaman global dan ditempatkan sebagai musuh bersama yang harus diperangi," kata Hadi.

Menurut Hadi, teroris saat ini sudah menjadi 'alat'. Terorisme, kata Hadi, dipakai untuk melancarkan proxy war atau perang antar-dua negara yang melibatkan pihak lain. Dia memberi contoh negara yang terlibat proxy war.

"Pada perkembangan selanjutnya, terorisme juga digunakan sebagai alat pengkodisian wilayah. Beberapa kasus seperti di Suriah dan Irak, terorisme terbukti berujung pada proxy war atau hybrid war," ulas Hadi. Selain itu, Hadi juga mengaitkan perkembangan teknologi informasi dengan serangan teroris saat ini. Menurut Hadi, berbagai media sosial membuat jaringan teroris semakin berkembang pesat.

"Melalui berbagai media sosial dan jaringan media internet lainnya, host dari kelompok teroris telah mampu secara cepat menyebarkan pengaruh dan bahkan mengaktifkan sel tidur ataupun simpatisannya di seluruh dunia demi mendukung kepentingannya," jelas Hadi.

Singgung Agresivitas China
Dalam pemaparan alur pikir terkait visi misinya, Marsekal Hadi juga bicara soal manuver China di dunia.

"Kemajuan Tiongkok yang sangat cepat adalah suatu yang patut dicermati. Dalam waktu singkat Tiongkok telah mengubah konstelasi politik global dengan kekuatan ekonominya, termasuk melalui pengembangan militernya," kata Marsekal Hadi.

"Tiongkok berupaya mengemas kebangkitan fenomenal dengan slogan yang diviralkan pemerintahnya, yakni China Offensive," sambungnya.

Marsekal Hadi menyoroti manuver China di Laut China Selatan. Menurutnya slogan China Offensive dibarengi dengan manuver agresif di Laut China Selatan.

"Pada praktiknya Tiongkok bersikap ofensif dan agresif terutama dalam memenuhi ambisinya untuk menguasai Laut China Selatan. Saat ini Tiongkok bahkan telah membangun pangkalan udara militer di Suvi. Melalui ketiga pangkalan, Tiongkok diperkirakan akan mampu menyelenggarakan perang di seluruh wilayah Laut China Selatan," ulas Hadi.

DIARAK
Usai menjalani sesi uji kepatutan dan kelayakan, Hadi keluar ruangan. Hadi lalu disambut para sahabatnya saat masih di Akabri, angkatan 1986.

Cipika-cipiki dan peluk hangat menyerbu Hadi yang sedang diliputi rasa bahagia ini. Senyum terus mengembang di wajah sang Kepala Staf Angkatan Udara yang akan menggantikan Jenderal Gatot Nurmantyo ini.

Tak lama berselang, 'Fraksi Balkon' lantas menggendong Hadi. Hadi tak menolak sehingga dirinya diarak oleh sahabat satu letingnya.

Hadi diarak tepatnya dari depan pintu toilet gedung Nusantara II DPR lantai 2 hingga menuju depan eskalator. Sorak sorai mewarnai arak-arakan Hadi.
"Panglima TNI!" seru sahabat satu leting Hadi.

Sesampainya di depan eskalator, Hadi diturunkan. Hadi masih menerima ucapan selamat dan hangat peluk dari rekannya yang setia mengikuti uji kepatutan hingga selesai.

Sesampai di bawah, Hadi masih melakukan sesi foto. Tak lama berselang, Hadi akhirnya beranjak dari lokasi menggunakan mobil. Senyum masih tampak mengembang dari wajah Hadi saat kaca mobilnya masih terbuka. (detikcom/h)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Drainase Nagori Pinang Ratus Butuh Pengerukan
Jalan Nasional Jurusan Medan-Kuta Cane Berlubang dan Rawan Kecelakaan
Dianggap Melanggar Perjanjian, Warga Perdagangan Akan Lakukan Demo Tangkahan Pasir
Ketua DPRD Hadiri Peringatan Hari Jadi Desa Sukamulia Secanggang
Pemkab Karo Sosialisasi Tata Cara Pemberian Tambahan Penghasilan PNS
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU