Hotel Tapian Nauli
Home  / 
212 Angkat Rizieq Jadi Imam, PBNU: Tak Mewakili Umat Islam RI
* GP Ansor: Tak Perlu Mengada-ada
Minggu, 3 Desember 2017 | 11:14:45
SIB/Ant/Akbar Nugroho Gumay
AKSI REUNI 212: Massa mengikuti aksi reuni 212 di kawasan Monas, Jakarta, Sabtu (2/12). Aksi yang diselenggarakan sebagai bentuk reuni kegiatan 2 Desember 2016 itu diisi dengan pembacaan zikir, salawat serta salat berjamaah.
Jakarta (SIB) -Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menanggapi pengangkatan Habib Rizieq Syihab menjadi Imam Besar Umat Indonesia berdasarkan kongres 212. Menurutnya, kongres tersebut tak merepresentasikan umat Islam di Indonesia.

"Kalau untuk imam, ya cukup imam di jemaahnya saja. Kalau ada yang mengangkat imam, yang mengangkat imam jemaah sendiri, yang pasti kuorum tak merepresentasikan umat Islam di Indonesia," ujar Ketua Pengurus Harian Tanfidziyah PBNU, Robikin Emhas saat dihubungi, Sabtu (2/12).

"Mereka hanya sebagian kecil di antara umat Islam yang ada, sehingga tak perlu ada klaim dengan menisbatkan seseorang menjadi imam," lanjutnya.

PBNU tak mempersoalkan jika alumni aksi 212 melakukan kongres. Namun, ia meminta kongres tak mencampuradukkan agama dengan politik.

"Betapa rendah kedudukan agama bila dijadikan aspirasi politik hanya untuk menangguk keuntungan politik elektoral. Apalagi sekadar dikonversi dengan perolehan suara dalam politik elektoral lima tahunan," terangnya.

Kongres 212 juga meminta pemerintah menghentikan kriminalisasi terhadap ulama. Menurut Robikin, setiap warga negara yang terbukti melanggar hukum, harus diproses dan ditindak.

"Hukum berlaku untuk semua. Begitu juga akses keadilan harus terbuka bagi setiap warga negara (justice for all), tanpa terkecuali. Konsekuensinya, penegakan hukum (law enforcement) harus dilakukan. Sehingga setiap warga negara yang diduga melanggar hukum berdasarkan alat bukti yang cukup harus siap diproses secara hukum," paparnya.

Tak Perlu Mengada-ada
Sementara itu, Ketum Gerakan Pemuda Ansor Yaqut Cholil Qoumas menganggap konsep imam besar mengada-ada.

"Umat yang mana? Kalau yang dimaksud umat Islam Indonesia, saya ini dan seluruh kader Ansor juga Islam, tapi tidak merasa dan tidak mau diimami oleh Rizieq Syihab. Lagian, imam besar ini sejenis apa? Mana ada konsepsi Islam yang menyebut imam besar? Nggak perlu mengada-adalah," ujar Yaqut saat dimintai konfirmasi.

Menanggapi permintaan kongres 212 agar pemerintah menyetop kriminalisasi terhadap ulama, termasuk kepada Rizieq, GP Ansor meminta Rizieq menghadapi kasus hukum yang sedang dijalaninya.

"Apalagi jika penyebutan imam besar ini ditujukan untuk menekan aparat negara menghentikan kasus hukum Rizieq Syihab. Hemat saya, kalau mau kasus hukumnya selesai, ya dihadapi saja. Apalagi nggak merasa bersalah kan? Nggak perlu bikin sebutan neko-neko, malah malu sendiri nanti," jelas Yaqut.

Belum Berpendapat
Sedangkan Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid belum mau berpendapat soal pengangkatan Habib Rizieq Syihab sebagai Imam Besar Umat Indonesia. Dia justru meminta untuk menanyakan langsung ke Rizieq.

"Itu perlu ditanyakan ke Habib Rizieq apakah dia bersedia atau tidak. Saya belum berpendapat (setuju atau tidak)," kata Hidayat usai Reuni 212.

Pengangkatan Habib Rizieq sebagai Imam Besar Umat Indonesia disampaikan oleh Ketua Presidium Alumni 212 Slamet Maarif di depan peserta Reuni 212.
Menurutnya, pengangkatan Rizieq merupakan kesepakatan seluruh alumni 212.

"Inti dari maklumat kami semua peserta kongres menguatkan kembali komitmen seluruh alumni 212, Habib Rizieq sebagai imam besar umat Indonesia. Oleh karenanya, meminta dengan sangat kepada pemerintah menghentikan kriminalisasi kepada kita seluruh kasus yang dimanipulasi," kata Slamet di panggung Reuni 212.

Amien Rais, yang hadir dalam Reuni 212 juga sempat menyinggung soal Rizieq sebagai imam besar. Kata dia, Rizieq merupakan imam besar.

"Diingatkan, habib kita imam besar, masalah jihad kalau kita ingin dibimbing Allah kita harus berjihad," ujar Amien.

PUTIHKAN MONAS
Sebelumnya, massa reuni 212 terus berdatangan di kawasan Monas, Jakarta Pusat. Mereka datang dari berbagai daerah.

Banyak massa yang juga membawa serta keluarganya. Mereka mengenakan berbagai atribut di Reuni 212. Mayoritas massa Reuni 212 yang hadir mengenakan baju warna putih. Membeludaknya massa membuat kawasan Monas berwarna putih.

Salah satunya Ati, seorang ibu rumah tangga asal Bogor yang datang bersama keluarga. "Pingin berpartisipasi saja tahun kemarin juga ikut. Ini datang sama keluarga," kata Ati.

Hal senada disampaikan Sutrisna. Warga asal Bandung ini mengaku datang bersama rombongan. Dia berangkat dari Bandung sejak, Jumat 1 Desember 2017. "Ini sama rombongan dari Bandung. Berangkat dari kemarin sore," ujar Sutrisna. (detikcom/h)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Drainase Nagori Pinang Ratus Butuh Pengerukan
Jalan Nasional Jurusan Medan-Kuta Cane Berlubang dan Rawan Kecelakaan
Dianggap Melanggar Perjanjian, Warga Perdagangan Akan Lakukan Demo Tangkahan Pasir
Ketua DPRD Hadiri Peringatan Hari Jadi Desa Sukamulia Secanggang
Pemkab Karo Sosialisasi Tata Cara Pemberian Tambahan Penghasilan PNS
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU