Hotel Tapian Nauli
Home  / 
Apa Salahku, Bapak Menteri?
* (Monolog Imajiner Danau Toba kepada Menteri Pariwisata, Bapak Arief Yahya) * Oleh Dr RE Nainggolan MM, Pemerhati dan Pencinta Danau Toba
Jumat, 24 November 2017 | 09:59:02
RE Nainggolan
Berpuluh tahun aku dirundung kesedihan, menangis tanpa suara. Bagaimana tidak, dengan segala keindahan dan misteri pesona yang kumiliki, aku seperti tak berarti. Aku memang senantiasa dijadikan inspirasi, mengilhami berbagai tulisan indah, puisi dan syair lagu yang melegenda, digubah dalam lagu dengan beragam bahasa, baik dalam bahasa daerah seperti Karo, Simalungun dan Toba, maupun dalam Bahasa Indonesia dan bahasa asing.

O Tao Toba, Raja ni Sude Tao (wahai Danau Toba, raja segala danau).

Sangana kita gawah-gawah ku Danau Toba (waktu kita berjalan-jalan ke Danau Toba).

Bagas pe Danau Toba, Bagas pe Uhur Ho Mangidah Botou Haholongan (dalam Danau Toba, lebih dalam lagi hatiku kepadamu, sayang).

Danau indah nan permai, oh Danau Toba, tiada banding di dunia.

Aku menjadi inspirasi goresan puisi sastrawan legendaris, Sitor Situmorang, "Alogo dohot Aek ni Tao Toba".  Alogo dohot aek ni tao on, di bagasan parningotan hutangihon, situriak uju sihaetehon (angin dan air danau ini, dalam kenangan kudengarkan kisah-kisahnya di masa kecil).

Aku juga tertera dalam buku pelajaran anak sekolah. Di permukaan, semua seperti memperhatikan dan mencintai aku. Namun yang sesungguhnya kurasakan adalah terabaikan dan terlupakan berpuluhan tahun, seperti harta pusaka yang tiada bernilai.

Pesonaku seperti nyala lilin yang meredup pelan dan kemudian padam. Entah ke mana para pengunjung dari negeri-negeri yang jauh, yang dulu datang berbondong-bondong untuk melihatku. Aku dibiarkan kotor dan tak terurus, menjadi tempat penampungan sampah dan limbah. Orang bahkan mulai menganggapku sebagai sumber kuman, bakteri, dan penyakit karena ulah manusia yang tak bertanggung jawab.

Akan tetapi, keajaiban datang, bagaikan matahari yang bersinar terang di tengah badai. Bapak Joko Widodo, Presiden ke-7 negara tercinta ini mengajak semua orang untuk kembali menolehkan pandangan ke arahku. Di bawah komandonya, gelombang kepedulian dan perhatian seperti tak berhenti menghampiriku. Tidak sekadar memerintahkan, Presiden sendiri berkali-kali datang, membawa para menteri dan pejabat teras negeri. Dalam berbagai kesempatan, beliau selalu menegaskan bahwa aku harus diperhatikan, dan dibangkitkan kembali sebagai salah satu dari 10 objek wisata utama Indonesia.

Aku disebut sebagai Bali Baru bahkan ada yang mengatakan aku akan menjadi Monaco of Asia.

Tidak hanya soal keindahanku, orang juga mulai tertarik untuk mengetahui asal kelahiranku yang merupakan sebuah fenomena alam paling dahsyat dalam era modern bumi. Aku terlahir dari meletusnya Gunung Toba, yang menurut para ahli, nyaris saja melenyapkan seluruh spesies di muka bumi. Saat ini aku terus menerus diperjuangkan agar menjadi anggota UNESCO Global Geopark (UGG).

Akan tetapi, aku kembali merasa sedih, gundah dan gulana. Peristiwa demi peristiwa yang kualami, sepertinya membuat aku mulai bertanya-tanya dalam hati. Ada apa gerangan Pak Menteri Pariwisata, yang seolah-olah sering melupakan aku? Padahal Bapak Menteri sering mendatangiku, apakah itu bersama dengan Presiden RI Bapak Joko Widodo, dengan Bapak Luhut Binsar Pandjaitan, ibu dan bapak menteri lain.

Ketika Bapak meluncurkan video Wonderful Indonesia, yang berhasil menjadi juara pertama dalam berbagai kompetisi internasional, aku bertanya-tanya mengapa wajahku sama sekali tidak diikutkan dalam video yang membanggakan itu? Apakah karena aku masih dianggap kotor dan belum terurus?

Dalam Karnaval Kemerdekaan yang kedua kalinya di Balige, aku meminta beberapa orang yang mencintai aku untuk menanyakan hal itu kepada Bapak, sekaligus memohon agar Bapak mengikutkanku dalam berbagai even promosi untuk masa yang akan datang.

Saat itu Bapak berjanji untuk mempertimbangkan permohonan itu karena aku merupakan salah satu dari 10 destinasi utama pariwisata. Tentu saja aku lega karena sangat percaya akan komitmen Bapak.

Akan tetapi.... Aku sangat terpukul. Dalam acara China International Travel Mart (CITM) di Kunming, Yunnan, Tiongkok pada 17-19 November 2017 yang lalu, yang dihadiri oleh Kementerian Pariwisata RI, dengan stand yang cukup besar, aku melihat teman-temanku, seperti Raja Ampat, Sulawesi Selatan, Manado, Borobudur, Bali, dan lain-lain, terpampang dalam foto-foto besar yang mencolok. Tak terasa air mataku menetes, seperti tak bisa percaya, karena wajahku sama sekali tak terlihat di sana. Satu foto kecil pun, atau bahkan satu paragraf pun tak ada keterangan tentang aku, dalam acara yang demikian megahnya.

Kubayangkan, andai ada aku di sana, berapa banyak orang yang akan tertarik datang, terlebih di musim liburan akhir tahun ini. Semua tahu, selama ini banyak wisatawan Tiongkok yang tertarik mengunjungiku, termasuk karena warga etnis Tiongkok juga banyak bermukim di sekitarku.

Padahal, sehari sebelumnya, 16 November 2017, Presiden dalam Rapat Kabinet Terbatas Pengembangan 10 Bali Baru di Istana Bogor, berkali-kali menyebut bahwa aku, Danau Toba, harus diperhatikan dan dikembangkan dalam berbagai segi, baik lingkungan, infrastruktur, dan pemasarannya.

Mengapa Bapak selalu melupakanku, dalam berbagai peristiwa yang besar, padahal Bapak kerap menyatakan cinta kepadaku. Apa salah dan dosaku?

Kendatipun demikian, aku tetap percaya dan berharap bahwa Bapak Menteri masih mencintai aku. Jika boleh memohon kepada Bapak, sepuluh jari sebelas dengan kepala, jangan pernah lupakan aku dalam berbagai kegiatan dan aktivitas promosi dan pemasaran yang Bapak lakukan di masa yang akan datang.

Aku menghormati perhatian dan kerja keras Bapak untuk mengembangkan pariwisata di negeri ini, serta dengan berbagai cara Bapak mengupayakan agar negeri ini semakin dikenal dan dikunjungi oleh wisatawan mancanegara. Semoga Bapak tetap sehat dan semakin sukses.

Hormatku yang tulus dan setinggi-tingginya kepada Presiden, Bapak Joko Widodo, yang dengan penuh perhatian membangun kawasan di sekitarku, apakah itu infrastruktur, seperti jalan tol, Bandara Internasional Silangit, pembangunan dermaga, jalan, pembentukan otorita pariwisata Danau Toba, dan lain-lain. Demikian juga Bapak Luhut Binsar Pandjaitan, dan para menteri lainnya, yang juga memberi perhatian besar untukku dan kawasan sekitarku. Sekali lagi, terima kasih.

O tao toba, Raja ni sude na tao. Tao na samurung na lumobi ulimi.

Molo huida rupami sian na dao. Tudos tu intan do denggan jala uli.

(Oh, Danau Toba, raja segala danau. Danau yang teristimewa dan terindah.

Jika kupandang wajahmu dari kejauhan, keindahanmu tampak laksana intan). (f)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Drainase Nagori Pinang Ratus Butuh Pengerukan
Jalan Nasional Jurusan Medan-Kuta Cane Berlubang dan Rawan Kecelakaan
Dianggap Melanggar Perjanjian, Warga Perdagangan Akan Lakukan Demo Tangkahan Pasir
Ketua DPRD Hadiri Peringatan Hari Jadi Desa Sukamulia Secanggang
Pemkab Karo Sosialisasi Tata Cara Pemberian Tambahan Penghasilan PNS
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU