Hotel Tapian Nauli
US XII
Home  / 
Anak Perwira Polisi yang Serang Polres Dharmasraya Pernah Ingin ke Suriah
* Tito: Pelaku Terkait ISIS
Selasa, 14 November 2017 | 10:51:28
SIB/Merdeka.com
HANGUS: Garis kepolisian tampak menyegel kantor Polres Dharmasraya yang kondisi seluruh bangunannya hangus dibakar.
Jakarta (SIB)- Pelaku penyerang Mapolres Dharmasraya Sumbar, EFA, pernah mengutarakan niatnya hijrah ke Suriah. Hal itu terungkap setelah polisi memeriksa ayah EFA yang merupakan perwira Polsek Plepat, Jambi.

"Pernah cerita kepada orangtua perempuannya bahwa dirinya ingin berjihad ke Suriah," kata Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Martinus Sitompul ketika dikonfirmasi, Senin (13/11).

EFA adalah warga Muaro Bungo, Jambi. Pria 24 tahun itu tinggal di rumah kontrakan bersama istri dan anaknya. Sehari-hari, EFA bekerja sebagai penjual es tebu di Jalan Diponegoro, Jambi.

"Kegiatan sehari-hari dari EFA adalah berjualan es tebu," ujar Martinus.

Menurut Ayah EFA, lanjut Martinus, anaknya meninggalkan rumah sejak Sabtu (11/11) malam dengan berjalan kaki. Tak ada pesan yang dititipkannya.
"EFA tidak meninggalkan pesan apa-apa kepada orangtua maupun istrinya," sambung Martinus.

Penyerangan di Mapolres Dharmasraya terjadi hari Minggu (12/11) pukul 02.45 WIB. Akibatnya, gedung utama Mapolres Dharmasraya terbakar.
Saat dilakukan pemadaman, petugas menemukan dua orang pelaku dan mereka sempat melawan dengan melepaskan busur panah. Polisi mengambil tindakan dengan menembak mati dua pelaku itu.

Terkait ISIS
Dua pelaku pembakaran kantor Polres Dharmasraya yang ditembak mati oleh polisi diduga memiliki keterkaitan dengan jaringan teroris ISIS.
Hal itu disampaikan Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian kepada wartawan usai melakukan pertemuan tertutup dengan Kapolda Maluku dan jajarannya, Senin (13/11).

"Yang bersangkutan (pelaku) kita duga sementara masuk dalam jaringan terorisme, khususnya jemaah Anshor Al Daullah yang mendukung ISIS," ungkap Tito.

Dia menjelaskan, salah satu pelaku berinisial EF diduga bersentuhan dengan paham radikal setelah yang bersangkutan menetap di Sumedang. EF sendiri diketahui adalah anak seorang anggota Polri berpangkat Ipda.

"Dari keterangan orangtuanya, anaknya ini pernah ke Sumedang, di sana dia kawin dan kita duga di Sumedang itulah dia kena paham radikal," ujarnya.
Tito mengungkapkan, kedua pelaku ditembak mati oleh polisi setelah sempat melakukan perlawanan. Saat itu, kedua pelaku diduga membawa panah dan kemudian menyerang polres lalu membakarnya.

"Keduanya dicurigai membawa panah diduga pelaku pembakaran dan kemudian mereka menyerang petugas saat itu dan petugas melumpuhkannya. Keduanya tertembak dan mati di tempat," terangnya.

Menurut Tito, paham radikal yang dipelajari pelaku sangatlah berbahaya karena pihak yang bertentangan dengan mereka akan dianggap sebagai musuh.
"Bagi mereka menyerang kantor kepolisian adalah wajib karena bagian dari toghut, istilahnya dianggap musuh mereka," jelasnya.

kantor darurat
Tak ada yang tersisa dari Mapolres Dharmasraya. Aksi pembakaran yang dilakukan dua orang membuat 20 ruangan Mapolres hangus terbakar. Agar pelayanan masyarakat tetap berjalan, Kapolres Dharmasraya AKBP Rudy Yulianto mendirikan kantor darurat dengan memanfaatkan lokasi kosong di sekitaran Mapolres, seperti lapangan tenis dan badminton.

"Kalau pelayanan terganggu pastilah ya. Tapi, kami akan usahakan secepat mungkin layanan pulih. Kita akan bangun semacam kantor darurat dulu, agar masyarakat tetap bisa mendapatkan pelayanan," kata Rudy kemarin.

Kapolres juga telah berkoordinasi dengan Bupati, Ketua DPRD dan unsur Forkompimda lainnya terkait langkah selanjutnya usai Mapolres Dharmasraya habis dibakar. Dia belum bisa memastikan terkait rencana pemindahan lokasi Mapolres.

"Intinya, kita manfaatkan dulu lahan yang ada untuk kantor darurat," terang Roedy.

Sementara itu, Ketua DPRD Dharmasraya Masrul Maas tak menyangka dengan kejadian yang berlangsung Minggu dini hari kemarin.

"Kok tiba-tiba ada teroris. Padahal di sini damai-damai saja. Tidak juga perkumpulan yang aneh-aneh," sebutnya ketika mendatangi Kapolres Dharmasraya.
Salah penyebab mungkin, kata Maas, karena Kabupaten Dharmasraya berada di daerah perbatasan langsung dengan provinsi lain. Sehingga warga lalu lalang di jalan lintas Sumatera tidak terkontrol. "Pelakunya juga bukan orang sini toh," katanya.

Hingga kemarin malam, Mapolres Dharmasraya dijaga ketat petugas kepolisian. Sedikitnya, satu peleton anggota Brimob lengkap dengan senjata laras panjang disiagakan.

"Selain anggota Polres, kami juga minta bantuan pengamanan sama Brimob. Sekitar 25 orang lebih atau satu peleton lah," kata Rudy.

Menurut Roedy, pihaknya mengaku telah melakukan persiapan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP). Petugas juga telah memastikan gedung utama Polres yang habis dilahap si jago merah tidak menunjukkan tanda-tanda akan terjadi kebakaran lanjutan. (detikcom/Kps/Merdeka.com/f)





Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Menpar Tinjau Kesiapan Bandara Internasional Silangit
Takut Ditangkap, Taipan Arab Saudi Pindahkan Harta ke Luar Negeri
Presiden Jokowi Belum Putuskan Robert Pakpahan Jadi Dirjen Pajak
Novanto Tegaskan Dirinya Masih Ketua DPR
Kereta Kencana dari Solo Ikuti Geladi Kirab Kahiyang-Bobby di Medan
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU