Hotel Tapian Nauli
US XII
Home  / 
Jenazah dr Letty Dimakamkan, Adiknya Menangis Histeris
* dr Helmi Diancam 20 Tahun Penjara
Sabtu, 11 November 2017 | 11:59:01
Jakarta (SIB)- Usai disalatkan, jenazah dr Letty Sultri (46) langsung dibawa ke TPU Kemiri, Rawamangun, Jakarta Timur, untuk dimakamkan. Selama proses pemakaman, adik bungsu dr Letty terus menangis histeris.

Jenazah tiba di TPU Kemiri, Jumat (10/11) sekitar pukul 12.40 WIB. Isak tangis keluarga mengiringi jenazah menuju pemakaman. Adik bungsu dr Letty, Maya, nampak paling terpukul.

Maya sejak awal tiba dari Bengkulu ke rumah duka hingga ke pemakaman terus menangis. Tangis Maya semakin menjadi ketika jenazah sang kakak dimasukan ke liang lahat dan ditutup dengan tanah.

"Ya Allah, jangan tinggalin saya, Ya Allah," teriak Maya sambil menangis tersedu-sedu.

Selain Maya, terlihat pula seorang pria menangis histeris saat prosesi pemakaman. Pria tersebut diketahui merupakan salah satu kerabat dr Letty.
Lantunan doa terus dipanjatkan selama pemakaman Letty. Keluarga terlihat menaburkan bunga ke pusara almarhumah.

Ramah dengan Pasien
dr Letty tewas setelah ditembak oleh dr Helmi, suaminya sendiri, saat praktik di Klinik Azzahra Medical Centre, Jakarta Timur. Semasa hidupnya, dr Letty dikenal ramah dalam menangani pasien.

"Orangnya sih pendiam, cuma ramah karena kan beliau menangani medical check up TKI dan TKW di kliniknya. Sama karyawan atau orang sekitar juga ramah," kata Joko, salah satu karyawan biro perjalanan umrah dan haji yang ada di sebelah klinik Azzahra Medical Centre di Jl Dewi Sartika, Cawang, Jakarta Timur , Jumat (10/11).

Joko bertemu terakhir kali dengan dr Letty pada Senin (6/11) lalu.Dia tak menduga dr Letty akan meninggal dengan cara yang tak terduga.

"Terakhir ketemu itu Senin, nggak ada kecurigaan apa-apa karena dia (dr Letty) biasa berangkat atau pulang sendiri. Pas itu masih nyapa. Nah pas kejadian ya nggak menduga kok bisa sadis begitu," tutur Joko.

Polisi Sebut dr Helmi Sudah Rencanakan
Polisi menyebut dr Ryan Helmi (41) telah merencanakan pembunuhan terhadap istrinya, dr Letty Sultri. Ini dibuktikan dengan persiapan senjata api dari rumahnya.

"Dia sudah mempersiapkan senjata api dari rumahnya," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono kepada detikcom, Jumat (10/11).
Kamis (9/11) kemarin, Helmi berangkat dari rumahnya dengan menggunakan ojek online. Sebelum tiba di klinik Azzahra, Jl Dewi Sartika, Cawang, Jaktim tempat Letty berpraktik, Helmi menyiapkan peluru.

"Dalam perjalanan mendekati Klinik Azzahra dia memasukan peluru ke senpi, karena sebelumnya belum dia isi peluru senpinya itu," ujar Argo.
Helmi datang ke klinik itu untuk menemui istrinya. Dia berharap agar bisa berbicara dengan istrinya sebelum Pengadilan Agama Jakarta Timur memutus cerai rumah tangga keduanya.

"Karena istrinya ini kan sudah ajukan cerai dan kalau tidak salah 21 November ini akan diputus, sehingga dia ke situ dengan harapan bisa ngomong sama istrinya," sambungnya.

Setibanya di lokasi, Helmi terlibat percekcokan dengan Letty. Emosi Helmi memuncak, hingga akhirnya dia menembak Letty sebanyak 6 kali tembakan hingga tewas.

Pakai Obat Penenang
Polisi telah melakukan tes urine terhadap dr Ryan Helmi, hasilnya positif mengandung benzodiazephine.

"Hasil tes urinenya positif benzo. Untuk jenis obatnya masih kami dalami," kata Direktur Reskrimum Polda Metro Jaya Kombes Pol Nico Afinta, Jumat (10/11).
Benzodiazepine adalah obat yang dikategorikan sebagai obat psikoaktif. Obat ini biasanya digunakan untuk mengatasi gejala gangguan psikologi seperti gangguan kecemasan (anxiety disorder) dan insomnia.

Sementara Helmi sendiri mengakui bahwa dia meminum obat penenang. Ia mengklaim konsumsi obat penenang sesuai resep dokter.

"Iya saya memang pakai obat penenang, alganax," kata Helmi kepada petugas semalam.

Diancam Hukuman 20 Tahun
Tindakan Helmi diancam dengan hukuman maksimal 20 tahun penjara.

"Tersangka dikenai pasal 340 dan 338 KUHP (tentang pembunuhan berencana)," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Kamis (9/11).

Hingga saat ini Helmi masih menjalani proses pemeriksaan di kepolisian.

Polisi juga akan melakukan tes kejiwaan pada Helmi untuk memastikan kondisi mentalnya. Saat dibawa ke ruang pemeriksaan di Gedung Reskrimum Polda Metro Jaya, Helmi memalingkan muka ketika wartawan menyoroti wajahnya.

"Saya nggak mau ada wartawan ah," kata Helmi sambil bersembunyi di balik badan anggota yang mengawalnya.

Helmi tampak kusam. Baju kemeja yang dikenakannya tampak lusuh. Ia terus menundukkan wajah saat diikuti wartawan.

Helmi dijerat dengan pasal 338 KUHP tentang pembunuhan dan pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana. Untuk diketahui pasal 338 berbunyi: "Barang siapa dengan sengaja menghilangkan nyawa orang lain, karena bersalah telah melakukan "pembunuhan" dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima belas tahun."

Sedangkan Pasal 340 mengandung aturan: "Barang siapa yang dengan sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain diancam karena pembunuhan dengan rencana, dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh tahun."
Keluarga dr Letty Sultri yakin dr Ryan Helmi sama sekali tidak mengalami gangguan jiwa. Mereka punya alasan sendiri soal ini.

"Pelaku saya lihat normal-normal saja," kata Afifi, kakak kandung dr Letty, saat diwawancarai di rumah duka di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur, Jumat (10/11).

"Kalau orang gangguan jiwa, tahu sendiri, kalau gila pasti nembak sembarangan. Ini nggak lo, ini tepat sasaran dan mematikan. Tiga lubang di perut dan tiga di dada. Saya lihat fotonya," tegasnya.

Afifi menyebut dr Letty ditembak dari jarak dekat oleh pelaku. Dia yakin pelaku sehat karena telah merencanakan aksi ini dengan matang.

Kenal dari FB
Keluarga mengatakan dr Letty Sultri (46) mengenal dr Ryan Helmi dari Facebook. Keduanya membina rumah tangga sudah lima tahun.

"Sudah (menikah) 5 tahun dan saya dengar-dengar ini kenalannya dia lewat FB. Dia dokter juga, adik saya juga dokter," kata kakak Letty, Afifi Bahtiar.

Afifi mengatakan sejak tiga bulan lalu, adiknya Letty memang sedang mengurus proses cerai dengan Helmi karena kerap mengalami KDRT. Sayangnya sebelum proses cerai selesai, Letty sudah terlanjur menjadi korban.

"Kan saat ini masih proses bercerai mungkin dalam bulan ini nunggu hasil sidang ketok palu. Sidang sudah 2 kali ini. klarifikasi saja sebelum ini, sudah ada kejadian KDRT adik saya setelah kejadian itu makanya itu minta cerai. Di visum juga sama dokter tapi adik saya belum menceraikan mungkin ada pertimbangan apa gitu," jelasnya.

"3 bulan yang lalu (mengurus proses cerai), dan kejadian terakhir itu baru dia minta cerai dan akhirnya pembunuhan ini," katanya.

Afifi mengaku langsung terbang dari rumahnya di Bengkulu setelah mendengar kabar adiknya tewas ditembak iparnya Helmi. Dia pun langsung memastikan kabar tewasnya adiknya itu ke keluarganya yang ada di Jakarta.

"Saya baru datang dari Bengkulu tadi, saya mendapatkan kabar itu, lalu saya konfirmasi kepada adik saya, iya katanya dia langsung menuju ke tempat kejadian, saya telepon semua keluarga," ujarnya sedih.

Dia mengaku kaget ketika tahu adiknya dibunuh iparnya. "Saya pertamanya belum tahu kenapa kabarnya ditembak. Ditembak siapa, saya belum tahu kan akhirnya hubungi semua ternyata ditembak mantan suaminya," urainya pilu.

Kini, dia berharap Helmi diproses hukum. Dia berharap Helmi bisa dipenjara seumur hidup untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

"Ya terus terang saja, istri saya kan pengacara nggak usah hukum mati lah. Yang penting penjara seumur hidup saja lah biar dia rasakan itu gimana di dalam penjara itu," katanya.

Keluarga Bantah dr Letty Berdamai dengan Suami Soal KDRT
Keluarga dr Letty Sultri membantah pernyataan adanya perdamaian dengan suami soal kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Keluarga justru menunggu tindak lanjut dari polisi.

"Kami pihak keluarga membantah adanya perdamaian antara almarhumah dr Letty Sultri dengan suaminya setelah almarhumah melaporkan kasus KDRT-nya ke polisi pada 19 Juni 2017 setelah pembuatan proses BAP," kata Gulfan Afero selaku pihak keluarga dr Letty, Jumat (10/11).

Gulfan mengatakan, KDRT bukanlah delik aduan. Sehingga meski ada perdamaian antara kedua belah pihak, permasalahan tersebut harus tetap diselesaikan.

"Keluarga mengharapkan pihak kepolisian dapat mengungkap tuntas kasus ini, hingga pelaku dapat berkeliaran bebas setelah melakukan KDRT dan kasusnya sudah dilaporkan yang akhirnya berakibat terbunuhnya dr Letty," ujarnya.

Selain itu, keluarga dr Letty juga mempertanyakan soal suami dr Letty yang bebas berkeliaran meski telah dibuat BAP.

"Almarhumah belum mencabut laporan atas kasus KDRT yang dilaporkannya. Oleh karena itu pihak keluarga ingin mendapatkan kejelasan bahwa Almarhumah telah mencabut laporannya," terang Gulfan. (detikcom/l)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Kepala LAN RI Dr Adi Suryanto MSi : PP No 11/2017, Membawa Transformasi Baru Terhadap Tata Kelola ASN
Lemhannas Minta Pemerintah Perluas Kewenangan UKP Pancasila
Benny Pasaribu: Untuk Memenuhi KEJ, Wartawan Indonesia Perlu Memahami Norma Keagamaan
Gubsu Ajak Semua Elemen Dukung Pelestarian Hutan Tropis
Dalang Pembunuh Massal Top AS Charles Manson Meninggal
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU