Hotel Tapian Nauli
US XII
Home  / 
Selesai Dibangun, Embung di Dairi Belum Difungsikan Sudah Rusak
* Kepala Inspektorat: Inspektorat Tidak Bisa Turun Dua Kali ke Lapangan
Selasa, 24 Oktober 2017 | 10:53:59
SIB/Dok
RETAK: Bangunan embung di Dusun VI Desa Parbuluan V, Kecamatan Parbuluan, tidak dapat difungsikan petani. Terlihat dinding bangunan embung retak. Foto dipetik beberapa minggu lalu.
Sidikalang (SIB) -Bangunan pemerintah   sudah selesai dikerjakan tetapi tidak dapat difungsikan masyarakat seperti bangunan embung di Dusun VI Desa Parbuluan V Kecamatan Parbuluan Dairi. Bangunan itu dinilai sia- sia.

Hal itu disampaikan Anggota DPRD Dairi Markus WS Purba kepada wartawan, Jumat (20/10) di Sidikalang. Disebutnya, seharusnya hasil akhir bangunan pemerintah harus dapat dimanfaatkan masyarakat. Tetapi berbeda dengan bangunan embung di Sigalingging Desa Parbuluan V, sejak selesai dikerjakan rekanan tahun 2016 lalu, tidak pernah difungsikan petani. Sesuai informasi, begitu selesai dikerjakan rekanan, beberapa bulan kemudian embung dipenuhi air, tetapi beberapa hari kemudian air habis dari embung, karena lantai dan dinding bocor, ucapnya.

Lanjut Markus, embung  tidak dapat difungsikan petani akibat rusak, diduga pembangunan asal jadi, sehingga hasilnya tidak sesuai yang diharapkan. Pekerjaan itu diduga tidak sesuai standar, karena belum dipakai sudah rusak. Menurutnya, mulai dari perencanaan hingga konstruksi tidak matang, dan hasilnya tidak bisa difungsikan petani.

Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Dairi itu menyebut, bangunan seperti itu juga pernah ditemukan pada saat reses Anggota Dewan di Desa Sitinjo 1, juga tidak berfungsi. Embung pada saat itu kondisi kering, diduga bocor sehingga tidak dapat menampung air. Pada saat itu, Dinas Pertanian berjanji akan memperbaiki. Bila kedua bangunan itu tidak diperbaiki akan menjadi bangunan sia- sia.

Dinas terkait harusnya melakukan pengawasan dan pengecekan pada saat pembangunan. Ia menilai dinas terkait lebih mengutamakan asal ada kegiatan, tidak mengutamakan kualitas pekerjaan. Bila bangunan itu tidak berfungsi dan tidak ada perbaikan, bangunan tersebut akan menjadi rongsokan dan polusi pada tanah.
Berita sebelumnya, Bangunan embung di Dusun VI Desa Parbuluan V Kecamatan Parbuluan Dairi, tidak dapat difungsikan petani. Embung yang sejatinya untuk menampung air saat musim hujan, ternyata tidak bisa menyimpan air.  "Sejak selesai dibangun tahun 2016, petani yang berada di dekat bangunan tidak pernah mengambil air dari embung tersebut,"  ucap Malau petani yang ladangnya berdekatan dengan embung, Sabtu (14/10).

Embung mengering akibat lantai dan dinding retak. Hal itu diduga akibat pengerjaan yang asal- asalan. Sampai sekarang, embung tersebut tidak berfungsi. Petani menyesalkan bangunan tersebut tidak dapat difungsikan. Harusnya embung tersebut menjadi andalan petani untuk sumber air saat musim kemarau. Musim kemarau lalu, kata Malau, petani yang berada dekat bangunan kewalahan mencari air untuk pemupukan tanaman. "Petani di daerah ini, rata- rata bercocok tanam cabai, kentang, sayur- mayur dan jeruk, yang membutuhkan air banyak saat untuk memupuk dan penyemprotan," ucapnya.

Kepala Dinas Pertanian Dairi Herlina boru Tobing tidak dapat dikonfirmasi, Senin (23/10). Satpam dinas tersebut mengatakan, kepala dinas tidak ada di kantor. Sementara itu, Kepala Bidang Tanaman Pangan Siska Tampubolon mengatakan, terkait bangunan embung sudah di bidang Sarana dan Prasarana sejak tahun 2017. Memang sebelumnya, kegiatan itu di bidang tanaman pangan. "Saya tidak mengetahui tentang kegiatan itu, sebab saya menjabat kabid pada awal tahun 2017," ucapnya.  Namun, Kabid Sarana Prasarana juga tidak dapat dikonfirmasi langsung maupun melalui telepon.

Sekretaris Daerah Sebastianus Tinambunan saat diminta tanggapan terkait embung tersebut melalui telepon mengatakan, telepon dulu Kadis Pertanian, apa penyebab embung tersebut tidak dapat difungsikan petani. "Kita belum memiliki datanya. Dicari dulu penyebabnya. Untuk lebih lanjutnya konfirmasi ke Inspektorat saja," kata Sebastianus.

Kepala Inspektorat Dairi Edward Hutabarat mengaku belum turun ke lapangan untuk melakukan kontrol. Termasuk embung temuan Anggota Dewan pada saat reses waktu lalu di Sitinjo dan kegiatan lainnya. Untuk menindaklanjuti kegiatan yang terindikasi bermasalah, kata Edward, harus membentuk tim melalui rapat dengan Sekda dan Asisten II dengan mengundang pejabat pembuat komitmen (PPK) dan Pimpro.

Pihaknya pernah turun ke lapangan pada November 2016, dimana kegiatan tersebut belum selesai dikerjakan. "Inspektorat tidak bisa turun dua kali ke lapangan, kecuali ada aduan masyarakat," ucapnya.(B05/c)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Anggun Raih 2 Penghargaan Sekaligus dalam Bama Music Awards di Hamburg Jerman
Barang-barang John Lennon yang Dicuri Ditemukan tapi Polisi Tak Bisa Tangkap Tersangkanya
Kendall Jenner Model Termahal Setahun Berpenghasilan Rp28,6 Miliar
Animator Sohor Jepang Ditangkap Kasus Pornografi Anak
Foto Bagian Sensitif Madonna Saat Remaja Dilelang
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU