Hotel Tapian Nauli
US XII
Home  / 
Buwas Sempat Bangga Sita 3,4 Ton Sabu Ternyata yang Masuk RI 250 Ton
* BNN Luncurkan Program Alih Profesi bagi Pengedar Ganja di Aceh
Kamis, 12 Oktober 2017 | 11:37:53
Jakarta (SIB)- Komjen Budi Waseso (Buwas) mengaku sempat berbangga ketika Badan Narkotika Nasional (BNN) yang dipimpinnya berhasil menyita 3,4 ton sabu. Namun ternyata angka itu masih jauh dari jumlah sabu yang berhasil diselundupkan ke Indonesia.

"Sempat dulu 9 November, saya bersama Presiden RI berhasil nyita 3,4 ton sabu," kata Buwas dalam Seminar Nasional 'Pembangunan Alternatif untuk Aceh Bersih Narkoba' di Hotel Kartika Chandra, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (11/10).

Buwas mengaku awalnya bangga akan sitaan tersebut. Angka itu merupakan total sitaan sabu BNN pada 2016.

"Sudah bangga tadinya, ternyata pas ditelusuri ke negara yang memproduksi, jumlah yang masuk ke Indonesia sekitar 250 ton. Tadinya saya nggak percaya, tapi ternyata memang demikian. Jadi masih banyak yang belum terpantau," kata Buwas.

Menurut Buwas, angka penyelundupan narkoba yang fantastis itu disebabkan pengawasan yang kurang ketat. Buwas pun membandingkan pengawasan itu dengan di negara lain.

"Pengawasan di Indonesia masih kurang ketat. Kita belum terlalu serius. Contoh waktu saya ke Amsterdam, itu mau keluar-masuk bandara aja ribet sekali. Saya bawa obat sakit kepala aja bolak-balik dicek. Di Indonesia? Dengan mudahnya 1,2 juta pil ekstasi bisa masuk. Ini apa namanya kalau tidak ada kesengajaan?" ucap Buwas.

Buwas juga menyebut Indonesia seperti laboratorium percobaan narkoba jenis baru karena laku. Buwas ingin penyalahgunaan narkoba seperti itu diberantas hingga tuntas.

"Indonesia ini menjadi laboratorium percobaan buat narkoba-narkoba jenis baru. Karena di sini apa aja laku. Kita ini seperti lapangan uji coba. Apa aja di sini masuk. Jenis narkoba selalu masuk tiap tahunnya," kata Buwas.

Alih Profesi
Komjen Budi Waseso juga menyebut narkoba yang paling banyak disalahgunakan adalah ganja. Buwas juga menyebut salah satu wilayah di Indonesia dengan kualitas ganja terbaik adalah di Aceh.

Namun, menurut Buwas, hal itu bukanlah sesuatu yang harus dibanggakan. Dia menyebut BNN tengah merancang konsep untuk menanggulangi persoalan itu.

"Jenis narkoba yang paling banyak disalahgunakan adalah ganja, sebesar 44 persen. Tanaman ganja tumbuh subur di Indonesia, bahkan disebut wilayah Aceh merupakan wilayah di mana tanaman ganja tumbuh subur dan berkualitas, diakui secara internasional," kata Buwas.

Hadir pula dalam acara itu Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo dan Wakil Gubernur Aceh Nova Iriansyah.

Buwas menyebut konsep menanggulangi ganja di Aceh adalah dengan memberdayakan pengedar untuk beralih profesi. Guna mewujudkan itu, Buwas membutuhkan bantuan dari kementerian dan lembaga terkait.

"Pada dasarnya berangkat dari ide untuk memberdayakan para pengedar untuk beralih profesi. Saat ini, sejak 2016 sampai 2018, kami sedang dalam tahap pembangunan kepercayaan atau trust building di wilayah yang dimaksud. Rencananya, 2019 sampai 2024 tahap implementasi program serta tahap pengembangan agrowisata pada 2025," kata Buwas.

"Tentu ini tidak akan berhasil apabila tidak didukung seluruh kementerian/lembaga di Indonesia, termasuk komponen kewilayahan di Aceh," sambung Buwas.

Sebagai contoh, Buwas menyebut suatu daerah di Vietnam yang dulu terkenal akan tanaman ganja tapi kini sudah diberantas. Caranya, menurut Buwas, membuat masyarakatnya beralih profesi dari pengedar ganja menjadi petani.

"Perekonomiannya pun bagus. Masyarakat sudah beralih profesi menjadi petani dan para anak-anak mudanya pun menjalani kegiatan yang lebih produktif dan positif," ucap Buwas. (detikcom/f)


Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Jelang Tengah Malam, Mahasiswa Masih Bertahan di Depan Istana
Bertemu 4 GM PLN Sumut, Gubsu Optimis Tol Listrik Sumbagut-Sumsel Selesai Akhir 2017
Kini Ganti Paspor Cukup Bawa e-KTP dan Paspor Lama
Kasus e-KTP, Andi Narogong Disebut Gonta-ganti Mobil hingga 23 Kali
RI Promosi Investasi Danau Toba Senilai Rp 21 Miliar di Inggris
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU