Hotel Tapian Nauli
US XII
Home  / 
Pengusaha Tambang Jautir Simbolon Bantah Lakukan Penganiayaan
Minggu, 20 Agustus 2017 | 11:11:39
Samosir (SIB)- Dugaan pemukulan kepada dua oknum pegiat Yayasan Pecinta Danau Toba (YPDT) yaitu Johannes Marbun dan Sebastian Hutabarat di Desa Silimalombu, Kecamatan Onan Runggu pada Selasa (15/8), ditanggapi pemilik usaha tambang Jautir Simbolon (JS).

Sebelumnya, pengakuan Johannes Marbun dan Sebastian Hutabarat awalnya mereka berkeliling dan memasuki areal tambang milik JS. Beberapa saat kemudian bertemu dengan JS dan bincang-bincang sambil diskusi. Tiba-tiba diskusi memanas saat keduanya (korban) menyinggung soal penolakan tentang tambang batu dimaksud, lalu keduanya mengaku dianiaya.

Sementara itu, menurut keterangan JS kepada SIB, Johannes Marbun dan Sebastian Hutabarat memasuki area tambangnya, Selasa pagi (15/8) sekira pukul 07.00 WIB dan tanpa permisi dan tidak ada satupun karyawan yang melihat dan mengetahui kedatangan mereka. Namun tiba-tiba sekuriti memberitahukan kepada JS bahwa ada dua orang laki-laki masuk ke area mesin tambang yang "area dilarang masuk sembarangan". JS pun kaget seraya menyuruh security tersebut memanggil keduanya ke base camp dan menyuguhkan kopi.

"Awalnya saya menanyakan apa maksud tujuan kedatangan Johannes Marbun dan Sebastian Hutabarat. Apakah kalian mau tanya tentang kelengkapan izin? Lalu Sebastian menjawab, kami bukan mau tanya izin. Kalau izin yang dikeluarkan pemerintah adalah penghianatan terhadap rakyat dan saya bertanggungjawab dengan ucapan ini, sebut Sebastian dengan nada keras seolah-olah dia yang mengatur negara ini," terang JS.

JS juga membantah adanya penganiayaan. "Tidak ada penganiayaan, korban mengalami luka karena jatuh tergelincir saat berlari dari area base camp saat diskusi memanas," sebut JS.

Menanggapi hal itu, Ketua DPRD Samosir Rismawaty Simarmata kepada SIB, Sabtu (19/8) melalui telepon selulernya mengatakan persoalan ini sudah dilaporkan kepada pihak kepolisian. Jadi biarlah kepolisian yang menangani.

Kapolres Samosir AKBP Donal P Simanjuntak mengatakan, pihaknya sedang melakukan penyelidikan dan mengumpulkan keterangan saksi-saksi dan alat-alat bukti. "Hingga saat ini sudah melakukan pemeriksaan terhadap empat (4) orang saksi dan proses penyelidikan tetap berlanjut," ujarnya.

JANGAN DIKAITKAN
Sementara itu, Bupati Samosir Drs Rapidin Simbolon mengatakan, mengenai dugaan tindak pidana, itu urusan kepolisian. Tunggu saja hasilnya.
Tapi ada yang perlu dikoreksi. Kedatangan kedua pegiat lingkungan dari YPDT itu tidak ada pemberitahuan dan tidak pernah menyurati Pemkab Samosir terkait keberadaan usaha tambang itu.

"Kalau terkait izin usaha tambang tersebut semuanya sudah lengkap, di antaranya izin lingkungan, eksploitasi, operasi termasuk administrasi sudah lengkap," katanya.

Dijelaskannya, mengenai usaha JS tidak ada kaitannya dengan dirinya. "Kalau dia cari hidup melalui usahanya saya rasa tidak ada masalah. Jadi tolong jangan dikait-kaitkan karena saya tidak pernah mencampuri usaha itu," sebut Bupati Rapidin.

Ditambahkannya, usaha tambang galian c tersebut sangat membantu bahan material dalam pembangunan daerah,  karena sebelumnya para kontraktor dan masyarakat belanja bahan material jenis batu dari kabupaten tetangga dan sekarang sudah bisa di Samosir dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) disetor ke Kas Daerah Kabupaten Samosir. (H04/f)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
13 Kecamatan di Medan Rawan Bencana
Tingkatkan Kualitas dan Kesejahteraan Guru PAUD
Proyek Penimbunan Jalan Provinsi Rp 10 M di Silau Laut Asahan Terancam Tak Selesai
Hakim Cecar Nazaruddin Soal Dugaan Novanto Terima USD 500 Ribu
Pengunduran Diri Ngogesa Sitepu Sebagai Cawagubsu Disahkan Golkar
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU