Hotel Tapian Nauli
US XII
Home  / 
Bareng Niko Panji, Pansus Angket KPK Cek Safe House di Depok
* Niko Tantang Novel Baswedan: Tolong Muncul dan Duduk di Pansus
Sabtu, 12 Agustus 2017 | 12:48:36
Jakarta (SIB) -Pansus Angket KPK mengecek safe house yang disebut Niko Panji Tirtayasa sebagai rumah sekap. Pansus didampingi Niko saat melihat isi rumah.

Pengecekan safe house dilakukan pimpinan Pansus Agun Gunandjar Sudarsa, Taufiqulhadi dan Masinton Pasaribu. Sementara anggota Pansus Angket yang ikut mengecek yakni Mukhamad Misbakhun, Eddy Kusuma Wijaya dan Arteria Dahlan.

Ada tiga kamar pada ruang utama rumah yang beralamat di Jl TPA Depok itu. Kondisinya menurut Niko lebih baik dibandingkan saat dirinya menghuni pada tahun 2014.

"Ternyata benar kondisi rumahnya seperti ini, bukan safe house tapi rumah sekap," ujar Taufiqulhadi.

Istilah rumah sekap disebut Niko saat memberikan keterangan di Pansus Angket KPK di DPR. Saksi kasus perkara suap pilkada untuk terpidana Akil Mochtar, ini menyebut rumah sekap disiapkan KPK untuk para saksi.

"Pertama di kawasan Kelapa Gading, Boulevard Raya, ada satu kantor advokat terkenal, itu jalannya belakang ya, Pak. Itu (kejadian ditempatkan di rumah sekap) Oktober 2013," ujar Niko di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (25/7).

KPK sendiri meluruskan keterangan Niko, yaitu sebenarnya bukan rumah sekap, melainkan rumah aman atau safe house. Penggunaan safe house itu untuk melindungi saksi dari intervensi berbagai pihak.

Perlindungan saksi itu tertera dalam Pasal 15 huruf a Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK. Perihal penggunaan safe house pun diatur pula dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2014 tentang Perlindungan Saksi dan Korban, tepatnya dalam Pasal 12 A.

"Rumah aman ini, sesuai namanya, ditujukan untuk melindungi saksi dari intimidasi, ancaman, atau teror dari pihak lain sehubungan dengan kesaksian yang akan diberikannya dalam proses hukum. Intinya agar saksi memberikan keterangan secara jujur dan sebenar-benarnya," ujar Kabiro Humas KPK Febri Diansyah.

Tolong Muncul
Niko Panji Tirtayasa  'menantang' Novel agar berani muncul dan memberikan keterangan di Pansus Angket KPK.

Saat mengecek safe house bersama Pansus Angket KPK, Depok, Niko menegaskan dirinya tak tahu-menahu istilah 'rumah aman' tersebut. Dia juga mengklaim tidak mengetahui perkara yang ditangani KPK hingga akhirnya Niko menjadi saksi.

"Saya bukan sebatas saksi, (hanya) masyarakat biasa dan nggak tahu duduk permasalahan yang terjadi itu kita cuma diarahkan oleh oknum KPK, kita sebut saja Novel. Tolonglah muncul jangan bilang dia sakit, muncullah kita duduk sama-sama di Pansus. Gara-gara beliau, saya diperiksa seperti saya yang menyiram (kasus teror Novel, red)," kata Niko.

Niko menuding Novel mengarahkan sejumlah saksi di rumah yang pernah ditempatinya kepada Niko sekitar 2014. Istilah 'rumah sekap', menurut Niko, didasari pengawalan ketat terhadap dirinya.

"Kenapa saya bilang rumah sekap? Walaupun saya di dalam, saya ada pengawalan. Tapi pengawal ini tidak tahu apa saya siapa, saya saksi apa, dia tidak tahu.
(Dia) hanya mengantar saya ke KPK dan pulang lagi ke sini dan saya dibatasi untuk bicara ke pihak pengawalan dari kepolisian," sambung Niko.

Tak Selalu Permanen
Sementara itu, KPK menyebut, safe house sifatnya tak selalu permanen.

"Jadi tidak selamanya akan digunakan, misalnya setahun, 2 tahun, 5 tahun, atau sifatnya permanen," kata Kabiro Humas KPK Febri Diansyah kepada wartawan di kantornya, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan.

Febri mengatakan ada beberapa pertimbangan yang mendasari kenapa safe house sifatnya tak permanen. Ada aspek keamanan, aspek jaringan pihak yang mengancam, aspek teknis rumah, serta aspek waktu

"Tapi ada pertimbangan-pertimbangan tertentu karena kalau safe house digunakan secara permanen, misalnya di tengah jalan (lokasinya) diketahui, artinya bukan rumah aman lagi," ujar Febri.

"Saya tidak tahu persis namanya safe house tentu saja tertutup. Kalau itu masih digunakan, namun dalam praktik yang kita lakukan kita mempertimbangkan sejumlah hal ketika menentukan safe house," terang Febri. (detikcom/d)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Paradigma Baru Pengawasan Menurut PP Nomor 12 Tahun 2017
Touring Merdeka Honda Jalan Medan - Parapat Semarakkan Hari Kemerdekaan RI
Gandeng PMI, WAC Kirim Bantuan Tiga Ton Beras ke Pengungsi Sinabung
Temuan Bangkai Pesawat Tanpa Awak, Warga Garut Geger
Bea Cukai Sita Rokok Ilegal Bernilai Rp 2,7 Miliar
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU