Hotel Tapian Nauli
US XII
Home  / 
Investor Jepang Jajaki Kerjasama dengan UNITA
Tapanuli Diproyeksikan Jadi Pengekspor Bawang Merah dan Beras Berkualitas
Senin, 7 Agustus 2017 | 09:42:05
SIB/Posma Simorangkir
TINJAU LAHAN : Saat meninjau lahan pertanian Kampus UNITA, Ketua Forum Masyarakat Indonesia-Jepang Parlindungan Purba, menelepon pejabat Kementerian Pertanian yang menangani tanaman bawang untuk mengatensikan kegiatan pembibitan bawang merah yang dilakukan Fakultas Pertanian UNITA bekerjasama dengan Balitbang Lembang. Sementara delegasi investor Jepang didampingi Ketua Forum Masyarakat Tapanuli-Jepang Poltak Silitonga SH dan Purek II Arta J Hutahayan MSi, tampak mengamati tanaman bawang merah di kampus itu.
Tarutung (SIB)- Delegasi investor Jepang berkunjung ke Kampus Universitas Sisingamangaraja XII Tapanuli (UNITA) di Kampus Bumi Pendidikan, Desa Silangit, Kecamatan Siborongborong, Kabupaten Tapanuli Utara, Jumat (4/8) dalam rangka menjajaki kerjasama bidang pertanian.

Rombongan yang terdiri dari Yuji Hamada (mantan Konsul Jepang di Medan), Fumihito Yoshitsugu dan Kenichi Okada (perusahaan iklan internasional, Dentsu Grup) serta Hidehumi Kondo (pengusaha beras). Delegasi dipimpin Ketua Forum Masyarakat Indonesia-Jepang, Parlindungan Purba, yang Senator asal Sumut, didampingi Ketua Forum Masyarakat Tapanuli-Jepang, Poltak Silitonga SH.

Delegasi diterima Pembantu Rektor II Arta J Hutahaean M.Si dan Ketua Prodi Menagemen, Ester Mawar Siagian SE MM.

Parlindungan Purba menegaskan kunjungan tersebut untuk menjajaki kerjasama yang dapat dikerjakan secara khusus bidang pertanian yang nantinya membawa manfaat mensejahterakan masyarakat daerah kabupaten sekitar Tapanuli melalui kampus UNITA.

"Rombongan ini terdiri dari Dentsu Grup sebagai perusahaan yang bergerak di bidang periklanan dan marketing dan Kondo sebagai pengusaha beras. Saya sangat berharap  bahwa nantinya banyak yang dapat diperbuat untuk masyarakat Tapanuli secara umum dari kerjasama itu," ujarnya.

Ia memberikan apresiasi kepada UNITA yang melaksanakan kerjasama dengan Balitbang Lembang dalam pengembangan bawang merah dengan benih biji yang nantinya dapat membantu petani Tapanuli untuk menghasilkan produksi bawang merah berkualitas.

"Apa yang telah dikerjakan UNITA saat ini, maka ke depan Tapanuli bisa menjadi sentra produksi bawang merah. Dulu kita mengenal bawang Samosir, bawan Muara, Balige dan Tarutung. Kejayaan itu dapat kembali mucul," ucapnya.

Berkaitan dengan itu pula, maka menurutnya kerjasama yang dijajaki untuk dijalin UNITA dengan investor Jepang melalui Forum Masyarakat Indonesia-Jepang akan menambah komoditi yang dihasilkan masyarakat Tapanuli. "Beras Jepang sangat enak dan harganya cukup tinggi. Apabila dapat dikembangkan di Tapanuli sudah tentu dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat karena dapat diekspor ke Jepang. Pengusahanya sudah ada bersama kita sekarang," ucapnya.

Komoditi lainnya yang berpeluang untuk dikembangkan melalui kerjasama nantinya yakni nenas dan umbi talas. Diharapkan produksi pertanian Tapanuli dapat semakin berkualitas sehingga dapat diekspor. "Melalui kerjasama nantinya kita memproyeksikan Tapanuli menjadi pengekspor bawang merah dan beras berkualitas," sebutnya.

Dijelaskannya bahwa kerjasama percontohan lebih efektif dilaksanakan dengan UNITA karena berbagai fasilitas yang telah dimiliki seperti lahan, sumber daya manusia (SDM) dan berbagai keperluan pendukung lainnya.

Sementara itu Pembantu Rektor II Arta J Hutahaean M.Si dalam sambutannya menjelaskan UNITA didirikan DR GM Panggabean pada tahun 1986 untuk tujuan membawa pendidikan agar dapat membebaskan masyarakat Tapanuli dari kemiskinan saat itu. "UNITA saat ini memiliki lima fakultas yaitu Pertanian, Hukum, Ekonomi, Teknik dan FKIP (Keguruan). Kami sudah melakukan kerjasama dengan berbagai pihak untuk meningkatkan mutu pendidikan dan membawa manfaat kepada daerah ini dan masyarakat," ujarnya.

Disampaikan bahwa saat ini UNITA menjalin kerjasama dengan Balitbang Lembang untuk pengembangan bawang merah dengan benih biji yang lebih menguntungkan dibandingkan dengan benih umbi. "Biasanya untuk satu hektar lahan, maka kebutuhan benih umbi bawang merah mencapai 1,5 ton, namun dengan benih biji cukup 1,5 kg. Ini sangat menghemat dari segi biaya transportasi benih," ujarnya.

Ia juga berharap dengan kerjasama yang akan dijalin dengan investor dari Jepang akan dapat mengembangkan produksi pertanian dengan jenis komoditi yang lain. "Kami membutuhkan transfer teknologi karena Jepang sudah menerapkan teknologi pertanian yang sudah jauh lebih maju," ucapnya.

Pada kesempatan itu delegasi investor Jepang dan Parlindungan Purba dibawa mengunjungi lahan pengembangan bawang merah dengan benih biji di lahan Agro Study Display Project (ASDP) Fakultas Pertanian di Kampus UNITA.

Rombongan mengaku kagum dengan pengembangan bawang merah tersebut yang dikerjakan dalam skala besar. "Ini menjadi prioritas. Saat launching nanti tolong saya diundang agar saya bawa pejabat Kementerian Pertanian untuk melihat langsung lokasi dan pekerjaan besar ini," ucap Parlindungan.

Secara spontan ia menghubungi langsung melalui selular pejabat Kementerian Pertanian yang mengurusi tanaman bawang untuk memberitahukan apa yang sedang dikerjakan UNITA untuk mengembangkan bawang merah dengan benih biji.

Menurutnya hal tersebut perlu diketahui langsung Kementerian Pertanian agar mendapat perhatian. "Nanti di Jakarta akan saya jelaskan lebih rinci," pungkasnya.

Rombongan juga bertemu Ketua Umum Yayasan UNITA Ny. DR GM Panggabean/R br Hutagalung menyampaikan rencana kerjasama delegasi investor Jepang dengan UNITA ini. (BR7/d)
    

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Paradigma Baru Pengawasan Menurut PP Nomor 12 Tahun 2017
Touring Merdeka Honda Jalan Medan - Parapat Semarakkan Hari Kemerdekaan RI
Gandeng PMI, WAC Kirim Bantuan Tiga Ton Beras ke Pengungsi Sinabung
Temuan Bangkai Pesawat Tanpa Awak, Warga Garut Geger
Bea Cukai Sita Rokok Ilegal Bernilai Rp 2,7 Miliar
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU