Hotel Tapian Nauli
US XII
Home  / 
WNI di Suriah Ungkap Kebohongan ISIS, BNPT: Memang Itu Kebenarannya
* Kemlu Koordinasi Pulangkan WNI yang Ungkap Hoax ISIS
Senin, 19 Juni 2017 | 11:01:39
Jakarta (SIB) -Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Suhardi Alius meminta pengakuan WNI yang merasa dibohongi kelompok radikal Islamiq State of Syria and Iraq (ISIS) disebarluaskan.

Dia ingin masyarakat Indonesia menyadari bahwa selama ini ISIS hanya memperdaya dan memanfaatkan WNI yang bergabung dengan mereka.

"Viralkan! Saya minta media memviralkan pemberitaan tersebut karena kita melihat itu kan ternyata betul bahwa motivasi orang berangkat itu ada juga yang karena kesejahteraan, mereka mau hidup tenang, biaya hidup murah, kemudian kerjaan mudah, ternyata kan dibohongi juga," kata Suhardi melalui sambungan telepon, Jumat (16/6).

Menurut Suhardi, WNI yang bergabung di ISIS adalah korban propaganda palsu tentang hidup sejahtera dan berdasar kekhilafahan yang dilakukan kelompok radikal itu melalui internet. Ia prihatin karena banyak WNI yang akhirnya gigit jari saat berada di tengah kelompok ISIS.

"Ngapain di sana, di sini (Indonesia, red) sudah bagus kok. Intinya motivasinya ada dua, masalah kesejahteraan, yang kedua ideologi yang mereka yakini mau hidup di sana lebih islami ternyata di sana yang didapatkan melihat penyiksaan, kekerasan sehari-hari," tutur Suhardi.

"Kita melihatnya dari sisi masih banyak warga kita yang menjadi korban pemberitaan di media sosial ISIS yang tidak benar," sambung Suhardi.

Suhardi memberi contoh satu kisah WNI yang diiming-imingi pekerjaan sebagai pengemudi tank oleh ISIS jika bersedia hijrah ke lokasi konflik. Ternyata, WNI tersebut menganggur sesampainya di wilayah kekuasaan ISIS.

"Ada yang dari Malang, dijanjikan jadi supir tank di sana ternyata tidak benar. Masyarakat kita itu jadi sasaran-sasaran (tipu daya, red) seperti itu," ungkap Suhardi.

Jenderal bintang tiga ini mengingatkan masyarakat agar tidak mudah termakan janji-janji surga ISIS semisal disuruh menjual seluruh harta benda di Indonesia sebagai modal hijrah dan biaya perjalanan akan diganti setibanya di wilayah ISIS. Karena mencari kesejahteraan di daerah yang sedang berkonflik, sukar.

"Jangan sembarangan menerima janji-janji seperti itu. Nanti sudah jual semua hartanya di sini, katanya sampai sana mau di reimburse, mana direimburse, di sana saja tidak ada pekerjaan," ujar Suhardi.

"Daerah konflik, daerah pertempuran kok bisa-bisanya bilang ada gaji besar, nanti sejahtera," imbuh Suhardi.

Masih kata Suhardi, keluar dari perangkap ISIS bukanlah hal yang mudah. Ia mengambil gambaran 16 WNI yang menerima tawaran untuk bergabung dan nasibnya kini berakhir menderita.

"Kalau sudah masuk dalam perangkap seperti itu kan susah keluarnya lagi, seperti yang sekarang ini 16 orang itu, ternyata mereka menderita. Kasihan, yang keluar baru perempuan-perempuan, yang laki-laki itu nggak tahu kita nasibnya, kan ditahan," tutur Suhardi.

"Ayo diajak berfikir secara logika," pungkas dia.

Koordinasi Pulangkan WNI
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia berupaya untuk memulangkan 16 WNI yang mengungkap kebohongan ISIS di Suriah. Juru bicara Kemlu Arrmanatha Nasir mengatakan KBRI sedang melakukan koordinasi dengan aparat setempat terkait pemulangan mereka.

"KBRI sedang melakukan koordinasi secara intensif dengan aparat keamanan di Camp tersebut terkait upaya pemulangan (16 WNI di Suriah)," ujar Tata, sapaannya saat dikonfirmasi, Minggu (18/6).

Tata juga menyebut KBRI Ankara dan KBRI Baghdad telah berhasil mengetahui lokasi WNI tersebut. Mereka diketahui berada di sekitar Camp Ain Issa Syria.

"KBRI Baghdad dan KBRI Ankara telah berhasil mengetahui posisi 16 WNI tersebut yang saat ini berada di sekitar Camp Ain Issa Syria," ungkap Tata.

Sebelumnya diberitakan, seorang perempuan bernama Nur (19) merupakan WNI yang mengungkap kebohongan ISIS. Berawal dari dia memutuskan untuk meninggalkan Indonesia dan hijrah ke Raqqa sekitar 22 bulan silam.

Nur masuk ke daerah yang diklaim kelompok ISIS sebagai ibu kota negara Islam. Ia mengaku pindah ke Suriah karena melihat foto dan video yang diunggah oleh ISIS ke internet tentang negara Islam atau Daulah Islamiyah.

Setibanya di sana, dia mengungkapkan bahwa apa yang diunggah di internet sangat berbeda dengan kenyataan yang dilihatnya. Setelah hampir dua tahun berlalu, Nur bersama 15 warga Indonesia lain memutuskan meninggalkan Raqqa.

"Semua bohong ... ketika kami memasuki wilayah ISIS, masuk ke negara mereka, yang kami lihat sangat berbeda dengan apa yang mereka katakan di internet," kata Nur kepada wartawan AFP. (detikcom/q)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Polres Binjai Musnahkan 6,5 Kg Ganja dan 18 Gram Sabu
Timur Tumanggor Camat Percut Seituan yang Baru
Tangkap Ikan di Perairan Indonesia, Warga Thailand Dituntut Bayar Denda Rp200 Juta
Berkas Partai Perindo Lengkap, Kader Diminta Terus Konsolidasi
160 Hektar Lahan Disiapkan Dukung Program 1000 Desa Organik di Sumut
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU