Hotel Tapian Nauli
US XII
Home  / 
Taruna Tewas Diduga Dianiaya Senior, Ketua STIP Dinonaktifkan
* Lima Orang Ditetapkan Sebagai Tersangka
Kamis, 12 Januari 2017 | 10:31:11
Jakarta (SIB)- Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta Capt Weku Frederik Karuntu dinonaktifkan terkait dengan meninggalnya Amirullah Adityas Putra. Amirullah diduga tewas akibat penganiayaan.

"Sebagai tindak lanjut dari kejadian tersebut, Kemenhub juga telah mengambil langkah cepat dengan membebastugaskan Ketua STIP Capt Weku F Karuntu dan menunjuk pelaksana tugas Ketua STIP," kata Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Perhubungan Bambang S Ervan dalam keterangannya, Rabu (11/1).

Keputusan penonaktifan ini, menurut Ervan, diambil untuk mempermudah pelaksanaan tugas tim investigasi internal yang telah dibentuk. Menhub sudah memerintahkan Kepala Badan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Perhubungan membentuk tim investigasi internal.

"Tim investigasi internal saat ini telah dibentuk dan diketuai oleh Sekretaris BPSDM Perhubungan Edward Marpaung," sambung Ervan.

Terkait dengan tewasnya Amirullah, Menhub menyampaikan belasungkawa. Amirullah merupakan taruna STIP tingkat I Angkatan Tahun 2016 Jurusan Nautika, yang tewas pada Selasa, (10/1).

"Menhub Budi menyesalkan terjadinya tindakan kekerasan di sekolah tersebut yang menewaskan taruna karena Kementerian Perhubungan telah berulang kali menyampaikan peringatan kepada para pengelola sekolah untuk melaksanakan standar prosedur (protap) pengawasan dan pencegahan terjadinya kekerasan di sekolah-sekolah di bawah pembinaan Kementerian Perhubungan," tutur Ervan.

Selain itu, Kemenhub akan bertanggung jawab terhadap seluruh proses, mulai dari rumah sakit sampai pemakaman. Kemenhub telah menyerahkan penanganan kasus ini kepada kepolisian untuk diproses sesuai dengan hukum yang berlaku.

"Menhub Budi menginstruksikan kepada Kepala BPSDMP agar lebih meningkatkan pengawasan dan pembinaan, baik secara edukasi maupun peningkatan moral taruna-taruni sekolah tinggi di bawah pembinaan Kemenhub, untuk mencegah terulangnya kasus ini ke depan," terang Ervan.
Kecolongan

Ketua STIP nonaktif Weku Frederik Karuntu mendatangi rumah duka Amirullah Adityas Putra. Weku datang untuk mengucapkan bela sungkawa kepada keluarga Amirullah.

"Saya ucapkan duka cita dan bela sungkawa yang mendalam kepada keluarga Amir," ujar Weku di rumah duka, Jalan Warakas 3 Gang 16, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Weku menyebut kejadian yang menimpa Amirullah, adalah kecolongan. Dia mengaku sudah berupaya semaksimal mencegah bentrokan antar taruna di STIP.

"Kita kecolongan. Padahal, untuk sistem pengamanan, kita sudah lakukan, yaitu memisahkan senior dengan junior. Itu juga ada CCTV dan pengawasan tambahan, kita dibantu aparat TNI dan Polri," imbuhnya.

Weku mengaku pasrah dinonaktifkan dan siap mengikuti perintah Menhub.

"Saya pasrah. Sebagai pelaksana amanat Kemenhub, saya siap mengikuti perintah. Saya sudah melakukan usaha yang terbaik. Saya juga ingin melakukan perubahan, tapi sesuai perintah, saya harus diganti," ujarnya.

DITETAPKAN TERSANGKA
Sementara itu, Kapolres Jakarta Utara Kombes Awal Chaeruddin mengatakan, selain Amirullah, ada lima korban lain yang diduga juga dianiaya. Polisi menetapkan lima orang sebagai tersangka, namun salah satunya tidak ikut menganiaya Amirullah.

Korban Amirullah telah diautopsi di RS Polri, Jakarta Timur, dan kemudian dibawa ke rumah duka.

Awal Chaeruddin menyampaikan kronologis tewasnya Amirullah:
Seorang pelaku atas nama Sisko Mataheru (19) meminta 6 juniornya, termasuk Amirullah, berkumpul di gedung Dormitory 4 kamar M205 lantai 2.
Di lokasi itu, ada 4 pelaku lainnya, yaitu Willy Hasiholan (20), Iswanto (21), Akbar Ramadhan (19), dan Jakario (19). Kelima pelaku itu lalu menganiaya 6 korban, termasuk Amirullah.

"Korban Amirullah ini dianiaya 4 orang pelaku bernama Sisko Mataheru, Willy Hasiholan, Iswanto, Akbar Ramadhan, sementara pelaku Jakario tidak terlibat penganiayaan korban Amirullah, melainkan korban lain bernama Ahmad Fajar," ujar Awal Chaeruddin.

Kemudian ketika pelaku Willy hendak menganiaya, Amirullah terjatuh ke arah tubuhnya dan tidak sadarkan diri. Saat itu, mereka mencoba mengangkat Amirullah ke tempat tidur tak jauh dari TKP.

"TKP-nya itu semacam ruang ganti baju, di situ banyak lemari pakaian para taruna yang digunakan untuk loker ganti baju," kata Awal.

Para pelaku lalu memberikan minyak angin ke Amirullah, tetapi dia tidak kunjung siuman. Mereka lalu melapor ke taruna tingkat IV dan menceritakan peristiwa itu.

Tim dokter STIP memberikan pemeriksaan terhadap korban. Tidak lama kemudian Amirullah dinyatakan meninggal dunia oleh pihak STIP.

Polsek Cilincing dan Polres Metro Jakarta Utara yang menerima laporan dari pihak STIP  menuju ke lokasi dan melakukan olah tempat kejadian perkara.
Selesai melakukan olah TKP, polisi membawa sejumlah barang bukti. Sedangkan jenazah Amirullah dibawa ke RS Polri.

Pihak keluarga kemudian mendatangi RS Polri dan menunggu hasil autopsi.

Selesai diautopsi jenazah Amirullah didoakan oleh pihak keluarga beserta perwakilan dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub) di ruang transit jenazah RS Polri.

Dimakamkan
Jenazah Amirullah Adityas Putra dimakamkan di TPU Budi Darma, Cilincing, Jakarta Utara.

"Tadi pulang dari RS Polri sekitar jam 13.00 WIB. Sampai rumah langsung dibawa ke TPU Budi Darma, Cilincing, sekitar jam 14.00 WIB," tutur Matkasan (69), kakek almarhum Amirullah di rumah duka.

Di rumah duka, sejumlah taruna STIP teman Amirullah tampak datang. Tampak juga karangan bunga dari Menteri Perhubungan, Kepala BPSDM Perhubungan, dan civitas akademika STIP. (detikcom/ r)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
13 Kecamatan di Medan Rawan Bencana
Tingkatkan Kualitas dan Kesejahteraan Guru PAUD
Proyek Penimbunan Jalan Provinsi Rp 10 M di Silau Laut Asahan Terancam Tak Selesai
Hakim Cecar Nazaruddin Soal Dugaan Novanto Terima USD 500 Ribu
Pengunduran Diri Ngogesa Sitepu Sebagai Cawagubsu Disahkan Golkar
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU