Hotel Tapian Nauli
US XII
Home  / 
AS Tetapkan JAD Asal Indonesia sebagai Organisasi Teroris
* Diduga Terlibat Kelompok ISIS, 8 WNI Dideportasi Malaysia
Kamis, 12 Januari 2017 | 10:29:42
Washington DC (SIB)- Pemerintah AS telah menetapkan sebuah organisasi pro-ISIS asal Indonesia yang melakukan serangan di Jakarta tahun lalu sebagai organisasi teroris.

Kementerian Luar Negeri AS, Selasa (10/1) mengatakan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang dibentuk pada 2015 beranggotakan puluhan simpatisan ISIS.
Pemerintah AS mengatakan, JAD melakukan serangan di Jakarta pada Januari tahun lalu yang mengakibatkan empat warga sipil dan empat penyerang tewas.

Sejumlah pejabat AS mengatakan, serangan tersebut didanai seorang anggota ISIS yang kini berada di Suriah.

Implikasi dari penetapan ini, lanjut Kemenlu AS, antara lain termasuk larangan bagi warga AS melakukan kontak dan bisnis dengan JAD serta memmbekukan semua aset atau properti yang terkait JAD di wilayah AS.

JAD dikaitkan dengan sejumlah serangan dan rencana serangan teror di Indonesia, termasuk serangan bom molotov di sebuah gereja di Samarinda, Kaltim yang menewaskan seorang balita.

Kelompok ini juga disebut berencana melakukan serangan pada hari Natal, beruntung polisi sukses menggagalkan niatan tersebut.
Dideportasi

Sementara itu, 8 warga negara Indonesia (WNI) dideportasi oleh otoritas keamanan Malaysia melalui Pelabuhan Internasional Batam Center dengan kapal feri MV Marina Lines pada Selasa (10/1).

Mereka dideportasi karena diduga terlibat jaringan terorisme.

"Dari hasil pemeriksaan handphone rombongan itu oleh Imigrasi Singapura, ditemukan foto bergambar bendera ISIS," kata Kepala Bagian Hubungan Masyarakat dan Umum Direktorat Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM, Agung Sampurno, dalam keterangan tertulis, Rabu (11/1).
"Sampai di Batam, mereka langsung diinterogasi oleh pihak Imigrasi Kota Batam," ujar dia.

Agung menuturkan, delapan orang itu merupakan guru dan santri dari Pondok Pesantren Darul Hadist, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.

Mereka berangkat ke Kuala Lumpur, Malaysia, pada Selasa (3/1). Setelah tiba di Kuala Lumpur, rombongan WNI itu pergi ke Malaka.

Salah satu anggota rombongan menjalani pengobatan telinga di DR R Venugopal di Malaka. Lalu, pada Kamis (5/1), rombongan WNI melanjutkan perjalanan ke Perlis. Mereka menginap satu malam di Madrasah Daralquran Wal Hadis di Perlis.

Kemudian, pada Sabtu (7/1), rombongan WNI berangkat menuju Pattani, Thailand, untuk mencari madrasah dengan tujuan memahami sistem pendidikan di sana.

Rombongan WNI itu sempat menginap selama satu malam di Masjid Pakistan. Namun, saat rombongan WNI memasuki Singapura pada Senin (9/1) sekitar 03.00 waktu setempat, mereka ditolak oleh Imigrasi Singapura.

Setelah dilakukan pengecekan, ditemukan foto bergambar bendera ISIS dalam salah satu rombongan.

"Pihak Imigrasi Singapura menyerahkan rombongan WNI kepada pihak Imigrasi Malaysia dan selanjutnya pihak Imigrasi Malaysia mendeportasi kedelapan WNI ke Indonesia melalui Kota Batam," ujar Agung.

Menurut Agung, delapan orang itu telah dibawa ke Mako Brimob Kepulauan Riau untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. (Kps/AFP/h)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Gubernur Riau: Rohul Merupakan Daerah Strategis
2 Gajah Mati di Aceh Timur Berusia 10 dan 20 Tahun
Massa Koalisi Transportasi Aceh Tolak Kehadiran Angkutan Online
Banjir di Sungai Dekat Gunung Slamet, Banyak Kendaraan Hanyut
Jumlah Napi Tipikor di Indonesia 3.801 Orang, Paling Banyak di Jatim
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU