Home  / 
Sri Mulyani: Defisit Transaksi Berjalan Bukanlah Dosa
Kamis, 8 November 2018 | 15:30:54
Singapura (SIB) -Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut defisit transaksi berjalan atau current account deficit bukanlah sebuah "dosa". Hal itu diungkapkannya ketika disinggung mengenai defisit transaksi berjalan Indonesia yang saat ini menyentuh angka 3 persen. 

"Indonesia memiliki defisit transaksi berjalan yang terkendali dan dapat dipertanggungjawabkan" ucap Sri Mulyani yang berbicara sebagai panelis di forum "Bloomberg New Economy Forum" di Hotel Capella, Singapura, Rabu pagi (7/11). 

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu melanjutkan tentunya dengan defisit transaksi berjalan yang saat ini 3 persen, Indonesia harus lebih berhati-hati dan lebih disiplin dalam memilah-milah program pembangunan yang dicanangkan. 

"Biaya atau financing cost meningkat dan semakin mahal serta liquidity semakin mengetat (tightening), pemerintah perlu mengakses kelayakan proyek-proyek yang diagendakan,"  ujarnya.

Sri Mulyani yang dipuji oleh moderator Clive Crook sebagai sosok Menteri Keuangan yang enerjik dan kompeten juga memberikan komentarnya ketika ditanya mengenai penyebab anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS hingga 8 persen pada tahun ini. 

"Perekonomian Indonesia sedang dalam kondisi yang baik, pertumbuhan ekonomi solid, utang publik rendah, dan inflasi juga terkendali, apa yang salah dengan rupiah?" tanya Crook. 

Menkeu berusia 56 ini memulai dengan menuturkan pencapaian Indonesia yang berhasil pulih dari Krisis Moneter Asia 1998 dan luput dari dampak Krisis Ekonomi Global 2008. 

"Saat ini Indonesia adalah emerging economy yang terus melesat. Kita berhasil menurunkan angka kemiskinan, menurunkan koefisien Gini. Indonesia melakukan hal-hal yang tepat untuk memperkuat ekonomi misalnya terus menjalankan pembangunan infrastruktur serta memberikan ruang kepada sektor swasta untuk berkembang," 

Sri Mulyani dengan berapi-api menyampaikan penjelasannya. Sri Mulyani menyampaikan bahwa melemahnya nilai tukar Rupiah di antaranya disebabkan oleh efek kenaikan suku bunga acuan oleh Bank Sentral AS atau The Fed serta capital flow yang meninggalkan negara berkembang seperti Indonesia menuju ke Amerika Serikat. 

Sri Mulyani tidak ketinggalan mengeluh menyuarakan "frustasinya" bahwa keputusan Indonesia menaikan Suku Bunga Acuan BI lebih disebabkan oleh kebijakan ekonomi dalam negeri AS, tidaklah melulu karena kondisi ekonomi tanah air atau angka inflasi. 

"Tentunya the Fed harus lebih memperhatikan dampak kebijakannya seperti menaikan suku bunga acuan yang bisa merembet ke negara-negara lain terutama negara berkembang" 

Pernyataan SMI sendiri juga diamini oleh Direktur Pelaksana Bank Sentral Singapura Ravi Menon yang menyebut bahwa Indonesia adalah contoh ekonomi yang dikelola dengan sangat baik namun tetap terkena imbas "hukuman" dari kebijakan ekonomi AS. 

Ikut duduk sepanel dengan Sri Mulyani dan Ravi Menon di forum prestisius ini adalah mantan Gubernur Bank Sentral AS Janet Yellen. (Kps/f)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Sekdaprovsu Buka Sosialisasi E-Formasi Pemprovsu, Sistem Transparan Lindungi Pegawai
Timses Jokowi Balas PAN: Narasi Ekonomi Prabowo-Sandi Cuma Jargon
Jaksa Kembalikan Berkas Nur Mahmudi ke Polisi
Kebakaran di Kementerian Pertahanan, 11 Mobil Pemadam Dikerahkan
3 Bulan Ditahan KPK, Idrus Marham Pamer Bikin Buku
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU