Home  / 
Dorong Ekspor, Pemerintah Susun Daftar Komoditas Unggulan
Rabu, 5 September 2018 | 21:24:51
Jakarta (SIB) -Pemerintah berencana menyusun komoditas unggulan yang akan ditingkatkan untuk mendorong kinerja ekspor. Langkah ini dilakukan sebagai upaya menekan defisit transaksi berjalan (CAD) di tengah pelemahan mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD).

Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah meminta kepada menteri terkait untuk menyusun komoditas potensial untuk ekspor. Setidaknya dalam dua hari ke depan daftar tersebut akan diberikan kepada Presiden Jokowi.

"Membuat rincian dari rencana penindakan ekspor dengan matriks komoditi apa tujuannya, apa dan sebagainya ya. Mereka minta diberi waktu dua hari. Jadi kita sudah punya daftarnya itu dalam beberapa hari ke depan," kata Darmin, di Kemenko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, seperti dilansir Metro TV, Selasa (4/9).

Menurut Darmin menteri yang ditugaskan di antaranya adalah Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasiun Jonan, dan Menteri Pariwisata Arif Yahya.

Dirinya menambahkan beberapa produk yang potensial yaitu komoditas pertambangan seperti batu bara, dan Sumber Daya Alam (SDA) yang terkait dengan perkebunan. Selain itu ada beberapa industri manufaktur yang diharapkan bisa mendorong ekspor nasional dalam jangka pendek.

"Makanya saya bilang yang ditugaskan Mendag, Menperin, Menteri Pariwisata, dan (Menteri) ESDM. Ini kan bicara jangka pendek. Mana yang bisa didorong jangka pendek, bukan kalau tiga atau lima tahun lagi. Artinya itu yang mesti mereka identifikasi satu per satu," jelas dia.

Meski demikian, lanjutnya, pemerintah tetap berhati-hati karena perdagangan internasional saat ini masih dipenuhi ketidakpastian. Salah satu penyebabnya adalah kebijakan Amerika Serikat (AS) yang membuat banyak negara harus mencari pasar ekspor baru.

"Tergantung di mana pasarnya. Kalau pasarnya di Amerika Serikat, lupakan saja ya kan. Tapi kalau ke negara lain kenapa tidak? Ya enggak harus nontradisional. Sebenarnya ekspor kita yang sekarang itu agak melambat itu adalah ke Amerika, kalau ke yang lain enggak," pungkasnya. (A20/h)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
#2019KitaTetapBersaudara, Pilihan Boleh Beda Persatuan Indonesia yang Paling Utama
Mahir Melukis, Narapidana Bebas dari Penjara
Kakek 83 Tahun Lawan Perampok Bersenjata
Pegawai Supermarket Dipecat Gara-gara Jual 15.000 Apel
Gara-gara Badai Florence, 3,4 Juta Ayam dan 5.500 Babi Mati
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU