Home  / 
Kisah Pilu Sentra Bordir di Kudus yang Ditinggalkan Anak Muda
Kamis, 9 Agustus 2018 | 22:02:36
Kudus (SIB) -Banyak anak muda di Desa Padurenan, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah yang memilih bekerja di pabrik, ketimbang memajukan potensi desa. Diketahui, desa itu merupakan sentra bordir satu-satunya di Kudus.

Hasil bordir desa ini telah dikenal di kota setempat dan daerah sekitar. Baik itu bordir manual ataupun bordir modern. 

Dari data Koperasi Serba Usaha Padurenan Jaya, ada enam Usaha Kecil Menengah (UKM) bordir yang ada di Desa Padurenan.

"Ada enam UKM bordir yang ada di Desa Padurenan. Masih bertahan sampai sekarang," kata pengurus Koperasi Serba Usaha Padurenan Jaya, Sihabuddin, di Kudus, Selasa (7/8).

Menurutnya, keenam UKM bidang bordir itu bertahan dengan sumber daya manusia yang sudah tua. Karena anak muda di wilayahnya memilih kerja di pabrik. Anak muda memandang jika bekerja di pabrik terlihat lebih bergengsi. 

"Mereka (anak muda) lebih mentereng kalau bekerja di pabrik. Dibandingkan bekerja jadi pembordir," tandas Sihabuddin.

Bahkan, kata dia, pembordir saat ini juga beralih menggunakan alat yang modern ketimbang alat manual. Diakuinya jika saat ini dibutuhkan pembordir manual, bukan yang modern. Sebab jika pakai alat modern, tidak membutuhkan kemampuan lebih. 

"Beda dengan pembordir manual yang butuh kemampuan lebih baik," beber Sihabuddin.

Alasannya, bordir manual lebih mempunyai nilai seni tinggi. Bahkan harganya juga lebih tinggi dan laris dibanding bordir yang memakai alat modern. 

"Jumlah hasil bordir manual lebih sedikit daripada hasil bordir yang pakai mesin. Kalau pakai mesin, itu cepat," ucapnya.

Amorawati, pembordir desa itu mengatakan, perajin bordir rata rata telah memasuki usia paruh baya. Seperti yang bekerja di tempat usahanya. Ada sekitar tujuh orang yang setiap harinya menggeluti produksi bordir. 

"Tujuh orang itu mengerjakan bordirnya di rumah masing-masing," kata dia di rumahnya.

Dia melihat saat ini pasaran bordir itu bagus. Dia menyebut, bordir buatan tangan contohnya. Produksinya menyasar pasar menengah ke atas. Sebab selain bagus, juga lama membuatnya.

"Tingginya harga jual karena proses pembuatannya lama," ucap Ammorawati.

Harga kain bordir manual sekitar Rp 200 ribu hingga jutaan rupiah. Sedangkan produk bordir mesin sekitar Rp 50 ribu. Lama pembuatan untuk manual sekitar 2-3 hari per kain. Jika mesin, pembuatannya selesai dalam hitungan jam. 

Karenanya dia heran kenapa anak muda tidak mau jadi pembordir. Mereka lebih senang kerja di pabrik daripada jadi pembordir. 

"Banyak generasi muda yang tidak mau jadi pembordir. Padahal sampai saat ini pasarannya masih bagus," kata Amorawati.

Dia meyakini jika lama kelamaan tidak ada yang mau lagi menjadi tukang bordir, maka bordir khas desa itu akan hilang. Imbasnya, akan diganti bordir sistem komputer.

"Jika tidak ada yang mau ya pasti hilang. Akan berganti dengan alat yang lebih modern, yang sistem komputer," bebernya.

Oleh karena itu, dia berharap para pemuda mau mengembangkan potensi bordir Padurenan agar bisa terus berkembang. (detikfinance/f)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Bacaleg DPRD SU Jan Rismen Saragih Suarakan Pemekaran Kabupaten Simalungun
Kapolres Tes Urine Mendadak Personil Satres Narkoba Polres Simalungun
Partai Golkar Simalungun Gelar Rapat Koordinasi Atur Strategi Perolehan Suara di Pileg dan Pilpres 2019
Seratusan Pengemudi Angkutan Online Unjukrasa ke Kantor DPRD P Siantar
Kelompok Tani di Sumut Dapat Bantuan Hibah Sapi dan Kambing
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU