Home  / 
Harga Tomat di Tingkat Petani Naik di Karo
Rabu, 13 Juni 2018 | 17:30:59
SIB/Dok
PANEN TOMAT: Salah seorang petani tomat saat memanen buah tomatnya di perladangannya di Desa Korpi.
Tanah Karo (SIB)- Harga tomat di tingkat petani di Kabupaten Karo naik menjadi Rp 6.500 per kilogram. Padahal harga sebelumnya hanya kisaran Rp 1.200 per kilogram.

Di tingkat pengecer, harganya sudah Rp 8.000 perkilogramnya. Bahkan ada pedagang yang menjual tomat hingga Rp 10.000 per kilogram. Hal ini cukup menggembirakan para petani sayuran di daerah itu, meski akhir-akhir ini mereka juga harus mengeluarkan biaya ekstra tinggi.

Sejumlah petani tomat di Desa Gurusinga, Kecamatan Berastagi, Karo menyebutkan, harga penjualan tomat  kepada pembeli kini rata-rata sudah mencapai Rp 6.500 per kilogram. Harga tersebut relatif tinggi jika dibandingkan harga pada musim panen sebelumnya yang hanya tembus Rp 1.200 per kilogram.

"Saat ini harga tomat terbilang sangat baik, pedagang yang membeli dengan kami Rp 6.500  per kilogram. Harga tersebut adalah untuk tomat yang berkualitas baik dengan ukuran yang besar, sementara untuk tomat yang berkualitas standar dengan ukuran kecil harganya berkisar rata-rata Rp 5.000 hingga Rp 6.000 per kilogram," ujar Mak Akbar, Selasa (12/6) di perladangannya Desa Korpri Kecamatan Berastagi.

Malahan, katanya, jika sedang anjlok harga tomat dari tingkat petani bisa mencapai kisaran Rp 900 hingga Rp 1.200 per kilogram. "Alhamdulillah, harga tomat pada musim panen sekarang cukup tinggi dan menggembirakan, meskipun belum balik modalnya karena masih panen perdana kalau kita bandingkan pada Maret kemarin jauhlah lebih untung pada bulan inilah," kata Mak Akbar.

Di tempat terpisah, sejumlah petani sayuran di beberapa desa seperti Desa Kaban, Kecamatan Simpang Empat, Desa Peceren, Kecamatan Berastagi mengatakan, pertumbuhan tomat pada musim penghujan beberapa waktu lalu rentan terganggu faktor cuaca.

Menurut Johan Tarigan petani tomat di Desa Kaban, pada musim hujan ini produktivitas tanaman tomat mengalami penurunan jumlah panen, petani biasanya hanya bisa panen sebanyak 7 kali. Berbeda dengan musim kemarau terjadi peningkatan panen hingga 10 kali.

"Kalau saat di musim hujan beberapa bulan lalu sangat berpengaruh sekali bagi tanaman tomat. Belum lagi jika terkena embun, tanaman tomat rentan terkena penyakit daun kehitaman. Lalu helai demi helai daunya menguning. Oleh karena itu, para petani pada musim tanam tahun ini terpaksa harus mengeluarkan biaya ekstra tinggi," ungkap Tarigan di perladanganya di Desa Kaban kepada wartawan, Senin (11/6).

Lebih lanjut dikatakan, beberapa bulan terakhir ini, petani tomat terpaksa mengeluarkan pengeluaran biaya tinggi karena sejumlah faktor. Di antaranya karena pengaruh tingginya biaya pemeliharaan tanaman pada musim hujan. Di samping itu, pada musim hujan buahnya pun agak berkurang. (BR2/h)


Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Diskusi Gugat Kongres, Mengurai Kusutnya Konstitusi IPPAT
Erry Nuradi dan Bobby Nasution Ramaikan Gerakan #2019 Kita Tetap Bersaudara dan Selamanya
Aksi Iriana Jokowi Gendong Bocah Papua di Punggung Curi Perhatian
Trump: Kesimpulan CIA Soal Pembunuhan Khashoggi Terlalu Prematur
Upacara Keagamaan di India Diguncang Bom, 3 Orang Tewas
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU