Home  / 
Peternak Ayam Bisa Merugi Gara-gara Isu Telur Palsu
Rabu, 21 Maret 2018 | 13:07:15
Jakarta (SIB) -Pikiran Rofi Yasifun sejak beberapa hari ini resah. Sebabnya, peternak ayam layer asal Blitar ini merasakan penurunan penjualan cukup drastis.
Dia menduga, anjloknya telur yang rutin dikirimkan ke Jakarta ini akibat maraknya isu telur ayam palsu yang beredar di media sosial.

Peternak yang juga Ketua Paguyuban Peternak Rakyat Nasional (PPRN) Kabupaten Blitar ini, rutin jadi pengepul telur ayam dari ratusan peternak dari beberapa kecamatan. Rofi berujar meski terasa, belum ada data yang pasti penurunan penjualan telur di Blitar.

"Kalau saya biasanya sehari telur ke Jakarta 9-13 ton sekali kirim 9-13 ton. Sekarang berkurang sampai 4 ton. Ada volume yang berkurang, kita sih menduga karena isu telur ayam palsu itu," ucap Rofi, Minggu (18/3).

Menurut dia, selain merasakan penurunan penjualan, beberapa hari terakhir dirinya sibuk menerima telepon dari para agen telur di Jakarta. Mereka menanyakan soal isu telur palsu asal China tersebut.

"Banyak pedagang di Jakarta telepon saya, katanya banyak ibu rumah tangga takut beli telur. Jelas ini mengganggu, mereka tanya apakah benar ada peredaran telur palsu. Mereka tanya kok kuning telurnya digoyang enggak pecah, diklaim mengandung karet. Banyak yang komplain distributor ke saya," jelas Rofi.

Dituturkannya selain membuat penurunan penjualan, jika isu ini terus meluas, dikhawatirkan akan membuat harga telur anjlok yang berimbas pada kerugian peternak.

"Posisi harga telur di on farm (kandang) Rp 16.000-17.000/Kg. Di pasar sampai pedagang di Jakarta hingga ke konsumen Rp 20.000/Kg. Ini menghawatirkan. Karena banyak koar-koar banyak telur dari Blitar ini palsu," kata Rofi.

Sementara itu, Sekjen Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar), Leopold Halim, menjelaskan dirinya cukup resah karena harus diakui banyak konsumen yang menelan mentah-mentah isu tersebut.

"Kalau kita peternak tahu itu palsu, masalahnya orang awam kan banyak enggak ngerti. Ini bikin resah kita, apa sih tujuannya bikin begituan (isu). Orang jadi takut makan telur, banyak ibu-ibu takut kasih makan anaknya telur, padahal telur ayam sumber protein yang murah," tukasnya.

Halim memaparkan, secara logika, kalaupun ada telur palsu sekalipun, harganya dipastikan akan lebih mahal dari telur ayam asli.

"Di China katanya ada telur palsu, itu katanya. Tapi secara logika, enggak mungkin. Saya sudah lihat videonya, telur yang dipecah itu ukurannya beda-beda, kalau itu telur dibuat pakai alat, itu pasti ukurannya seragam," tandasnya. (detikfinance/h)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Agama Harus Beradab
Ketua Gapensi Sumut TM Pardede Tantang Serahkan Data Utang Proyek di Nisbar, “Kami Laporkan ke KPK”
Jutaan Pria di Tiongkok dan India Terancam Tidak Bisa Menikah
Nasir Pastikan Cabut Aturan Linearitas Pendidikan Tinggi
Polri Bantah Intimidasi Bos First Travel Selama Penyidikan
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU