Home  / 
Komisi VII Ingin Regulasi Energi Terbarukan Pro Investasi
Jumat, 9 Februari 2018 | 23:06:35
Jakarta (SIB) -Komisi VII DPR-RI yang membidangi energi dan lingkungan hidup meminta pemerintah menyederhanakan regulasi energi baru terbarukan untuk lebih memihak (pro) investasi.

"Tujuannya tentu mendorong energi terbarukan ini bisa berkembang lebih cepat," kata Ketua Komisi VII DPR-RI Gus Irawan Pasaribu itu kepada wartawan dari Jakarta, Rabu (7/2). Dia sebenarnya punya penilaian regulasi terkait pengembangan pembangkit listrik EBT (Energi Baru Terbarukan) misalnya belum sepenuhnya mendukung percepatan investasi tersebut di dalam negeri. Menurutnya, baru-baru ini sebagian anggota Komisi VII DPR-RI sudah pernah mengunjungi pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) yang baru satu-satunya dioperasikan di Indonesia dalam skala besar.

Menurut Gus, energi listrik seperti ini harus terus dikembangkan. "Hanya saja kita pun harus bersikap untuk menilai kebijakan yang membuat para investor mau menanamkan modalnya untuk pembangkit listrik tenaga angin ini. Bahkan arus laut pun bisa dijadikan sebagai sumber energi terbarukan. Bukan hanya itu dasarnya, tapi juga Indonesia punya potensi besar dalam pengembangan EBT."

Dia menyatakan potensi angin (tenaga bayu) dan ombak laut berpeluang besar sebagai sumber energi listrik. "Tapi apakah kita mampu menggali dan mengembangkannya," jelas Gus Irawan Pasaribu yang juga wakil ketua Fraksi Gerindra di DPR-RI tersebut.

Menurutnya, regulasi yang pro investasi dibutuhkan agar tarif listrik EBT semakin kompetitif.  Mengingat,  harga EBT relatif mahal dibandingkan harga jual listrik dari energi fosil, seperti batubara dan gas. "Jadi kelemahannya memang ada. Biaya investasi dan tarifnya nanti akan lebih mahal," tambahnya.

Informasi yang terjadi pada negara yang sudah mengembangkan EBT seperti Singapura, untuk membangun energi terbarukan ada insentif pajak. "Begitu juga Qatar misalnya. Jadi investor yang mau menginvestasikan uangnya membangun energi yang ramah lingkungan. Pertama dapat kebijakan pajak, kedua keringanan pembiayaan, ketiga lahannya bisa saja dipinjamkan pemerintah atau difasilitasi. Afirmasinya jelas," tambahnya.

Gus Irawan yang masih menjabat sebagai Ketua DPD Gerindra Sumut itu berpendapat energi baru terbarukan selalu disuarakan Komisi VII karena kebutuhan semakin meningkat. "Tiap terjadi peningkatan kualitas hidup masyarakat, tentu energi yang kita butuhkan makin tinggi. Dulu orang memasak pun dengan kayu bakar. Kualitas hidupnya meningkat, naik jadi kompor. Lalu beranjak ke kompor gas. Nanti setelah itu meningkat lagi ke kompor listrik. Begitu tingkatannya," jelas dia.

Untuk itu, investasi EBT sangat diperlukan ke depannya, kata Gus Irawan. "Pengembangan EBT juga merupakan suatu langkah dalam rangka memenuhi perjanjian international (Paris Agreement) yang telah kita ratifikasi, yaitu penurunan emisi karbon hingga 29 persen pada tahun 2030," ungkapnya.

Gus mengatakan, perlu strategi dan kebijakan yang lebih progresif untuk menggantikan penggunaan energi fosil ke energi yang rendah karbon.  Salah satunya dengan memperhatikan externality costs dari bahan bakar fosil. Kebijakan harga bahan bakar fosil saat ini tidak memperhatikan dampak kerusakan lingkungan sehingga tidak ada perhitungan externality cost. Kedepan,  menurut Gus Irawan, akan mendorong faktor externalities  dimasukkan, sehingga bisa berkompetisi dengan bahan bakar terbarukan.

Pemerintah, kata dia, sudah harus memikirkan ekspansi pengembangan EBT. Tidak hanya tenaga angin, tetapi juga arus laut, matahari dan panas bumi. "Bahkan,  tenaga nuklir juga memungkinkan di Indonesia," tambahnya. (R5/h)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Tim Pesparani Sumut Aransir Ulang Lagu Kebangsaan Bergenre Gregorian
Axis Rilis Konten Fokus Games dan Musik
Ikut Asian Games 2018, India Tayangkan Film Raih Emas Olimpiade 1948 di London
Dihantam Badai, Backstreet Boys Batalkan Konser
Comunity of Cyclist Sidikalang Gelar Sepeda Santai
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU