Home  / 
Harga Kopi Ateng ‘Sigarar Utang’ di Simalungun Mulai Anjlok
Kamis, 12 Oktober 2017 | 22:01:15
SIB/Jheslin M Girsang
JEMUR KOPI: Petani, Jumi Boru Saragih menjemur biji kopi ateng di Sondiraya Kecamatan Raya, Simalungun.
Simalungun (SIB) -Petani kopi ateng di Raya Kabupaten Simalungun mengeluh. Pasalnya, harga biji kering kopi ateng berangsur-angsur anjlok dalam beberapa minggu terakhir.  

"Minggu lalu, harganya masih Rp 23 ribu. Hari ini, saya jual Rp 21 ribu perkilo," tutur Jon Erwin Saragih, seorang petani kopi di Raya, Rabu (11/10).

Ia mengutarakan, harga biji kering kopi ateng pernah turun drastis, bahkan Rp 16 ribu sekilo. Ia pun berharap, fluktuasi harga seperti itu tidak akan terjadi. 

Bila Rp 16 ribu perkilo dinilai tidak menguntungkan petani. Harga jual tidak sebanding dengan biaya pengelolaan dan perawatan tanaman.

"Kita ingin harga kopi di atas Rp 23 ribu perkilo. Itu baru menguntungkan," urainya.

Petani lainnya, ibu Nora juga merasakan dampak penurunan harga kopi ateng. Penyebab anjloknya harga itu belum diketahui pasti, namun ia berharap harga kembali normal pada kisaran Rp 23 ribu sekilo.

Disebut kopi ateng karena pohon kopinya pendek-pendek tapi mampu berbuah lebat. Petani lokal menggunakan istilah 'ateng' mungkin teringat pelawak terkenal bertubuh pendek.

Kopi ateng biasanya dapat dipanen sekali dalam dua minggu. Cepatnya masa panen tersebut menyebabkan para penduduk lokal menyebut kopi ini adalah kopi "sigarar utang", yang artinya untuk membayar utang. (D05/h)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Tak Punya Rumah dan Kehujanan, Tetap Berusaha Selesaikan PR
Aneh, Polisi Hanya Dipersenjatai Ketapel
Gagal Kurus, Siap-siap Dipecat
Berprestasi, Diberi Hadiah Daging Babi
Ketahuan! Beruang Curi Makan Siang Perawat
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU