Hotel Tapian Nauli
US XII
Home  / 
Bank Indonesia Jamin Biaya Top Up E-Money Lebih Murah
Jumat, 22 September 2017 | 22:38:42
Jakarta (SIB)- Bank Indonesia memastikan biaya isi ulang uang elektronik atau e-money akan lebih murah dibandingkan harga pasar saat ini.  Bank sentral juga akan menetapkan batas maksimum biaya pengisian melalui transaksi antar bank atau merchant. "Selama ini,  biaya transaksi top up multichanel Rp 6.500 karena dianggap transfer.  Itu akan kami turunkan secara signifikan," kata Direktur Eksekutif Pusat Program Transformasi Bank Indonesia, Aribowo, di kantornya, Selasa (19/9).

Selama ini,  konsumen dikenakan ongkos isi ulang uang elektronik beragam dari Rp 1.500-Rp 6.500 per sekali pengisian. Kebijakan ditetapkan oleh masing-masing bank penerbit kartu,  dan merchant.  Isi ulang dapat dilakukan melalui anjungan tunai mandiri, mesin electronic data capture, serta aplikasi telepon seluler.

Bank Indonesia masih melakukan kajian untuk menetapkan batas maksimum biaya pengisian sesuai dengan kebiasaan pengisian saldo yang dilakukan masyarakat.  Nantinya, Bank Indonesia dapat menggratiskan biaya pengisian melalui bank penerbit kartu (transaksi on us) dengan batas atas total pengisian. "Top up pada angka tertentu akan dikenakan biaya.  Misalnya rata-rata isi ulang Rp 100 ribu bisa kami kasih free," kata Kepala Pusat Program Transformasi, Bank Indonesia, Ony Wijanarko. 

Sementara itu,  bagi transkasi lintas bank dan merchant (off us routing)  akan tetap dikenakan biaya transaksi dengan batas maksimum.  "Tarif boleh berbeda-beda,  tapi yang penting ada batas biar ada kompetisi."

Bank Indonesia menilai batas atas diperlukan untuk melindungi konsumen dalam penggunaan uang elektronik. Di sisi lain, aturan ini akan mendorong volume pembayaran non tunai.  Semakin banyak penggunaan uang elektronik, ongkos infrastruktur pembayaran non tunai semakin efisien. 

Sebelumnya,  berbagai kelompok masyarakat menolak rencana pengenaan biaya isi ulang. Ketua Perhimpunan Bank Nasional Kartika Wirjoatmojo mendorong isi ulang saldo melalui teknologi near field communication pada aplikasi ponsel agar bebas biaya.  Teknologi ini juga memudahkan konsumen agar tak perlu repot mencari mesin pembaca kartu atau ATM. 

Direktur Utama PT Bank Central Asia,  Jahja Setiaamadja beralasan pengenaan biaya isi ulang e-money dibutuhkan untuk ongkos perawatan infrastruktur. BCA memerlukan Rp 80 miliar per tahun untuk produksi kartu,  penyediaan alat,  dan perawatan jaringan.  Menurut Jahja,  bisnis ini tidak menguntungkan perbankan.  "Semua pakai mesin.  Memang komunikasi  tidak bayar?" (T/l)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Pesawat Bertenaga Listrik Meluncur pada 2020?
Unik, RS di China Punya Robot Suster
Teknologi E-Voting Laris untuk Pemilihan Kepala Desa
Apple Bakal Tinggalkan Pembaca Sidik Jari Demi Sensor Wajah
OnePlus Ketahuan Koleksi Data Pengguna Tanpa Permisi
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU