Hotel Tapian Nauli
US XII
Home  / 
Jokowi Ingin Dorong Bisnis Offline ke Online
Jumat, 22 September 2017 | 22:37:59
Jakarta (SIB)- Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa transisi industri dari non digital ke digital, offline ke online, tidak bisa dibendung. Oleh karena itu, pemerintah akan membantu bisnis-bisnis offline bertransformasi ke bisnis online.

Negara-negara lain juga mengalami hal sama. "Oleh sebab itu, yang paling penting adalah menyiapkan bagaimana yang offline masuk ke online," ujar Presiden Joko Widodo usai membuka Indonesia Business and Development Expo 2017, Rabu (20/9).

Sebagaimana diketahui, makin pesatnya pergesaran dari bisnis ke offline ke online terlihat salah satunya dari makin sepinya retail atau mal. Sebagai contoh, lembaga riset Savills Indonesia sempat merilis survei bahwa di semester 1 2017, tingkat kekosongan mal di Jakarta naik 0,5 persen dari yang sebelum 10,3 persen menjadi 10,8 persen.

Di sisi lain, bisnis digital terus menanjak angkanya. Lembaga riset CHGR mencatat Indonesia sudah memiliki kurang lebih 2000 startup di tahun 2016. Di 2020, CHGR memprediksi angka tersebut naik 6,5 kali lipat menjadi 13 ribu.

Presiden Joko Widodo mengatakan, ada sejumlah cara untuk mendorong transformasi dari bisnis offline ke online, non digital ke digital. Misalnya, dengan mengedukasi masyarakat-masyarakat dunia usaha terkait pentingnya transisi ke bisnis online.

Langkah lainnya bisa dimulai dari hulu seperti melengkapi pendidikan di SMK dan Perguruan Tinggi. Menurut Presiden Joko Widodo, sudah harus ada jurusan atau pendidikan yang berkaitan dengan e-commerce atau bisnis online seperti jurusan logistik, jurusan online management, dan sebagainya.

"Tadi saya juga menegaskan ke Ibu Menteri BUMN (Rini Soemarno) dan Menteri Koordinator Perekonomian agar BUMN ikut mengedukasi masyarakat untuk masuk dari offline ke online," ujar Presiden Joko Widodo. Presiden Joko Widodo menambahkan bahwa langkah deregulasi juga bisa menjadi solusi mendorung transisi ke digital dan online.

Presiden Joko Widodo juga mengingatkan bahwa mereka yang ingin mengubah bisnisnya dari offline ke online juga harus memperhatikan perubahan yang terjadi di pasar. Ia berkata, pola kerja, pola konsumsi, pola produksi berubah ketika industri bertransformasi dari non digital ke digital, offline ke online.

Misalnya, sekarang marak apa yang disebut sebagai sharing economy atau ekonomi berbagai. Jadi, ketersediaan supply tidak menjadi segala-galanya lagi kerena layanan sebuah usaha justru mengacu pada kemampuan berbagi. "Itu sebuah revolsi pada sisi supply. Gojek, Grab, Uber, AirbNb, Expedia contohnya. Dulu orang harus beli mobil, sekarang tinggal pesan di smartphone datanglah mobil. Dulu orang harus beli rumah, sekarang bisa sewa rumah lewat AirBnB," ujar Presiden Joko Widodo.

Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution berkata bahwa masih banyak kekurangan yang harus ditangani untuk memperlancari transisi dari bisnis offline ke online. Ketersediaan talent, kata ia, menjadi salah satu perhatian. "Gak usah programmer, yang bisa codinbg juga masih kurang kita. Jadi, harus push pendidikannya," ujarnya.

Hal senada disampaikan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara. Ia berkata, ada tujuh masalah yang harus diselesaikan untuk memperlancar transisi dari bisnis offline ke online. "Ada tujuh issue yang harus ditangani mulai dari sumber daya manusia atau talent, pendanaan, logistik, perlindungan konsumen, perpajakan, keamanan siber, serta infrastruktur," katanya. (T/l)


Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Jelang Tengah Malam, Mahasiswa Masih Bertahan di Depan Istana
Bertemu 4 GM PLN Sumut, Gubsu Optimis Tol Listrik Sumbagut-Sumsel Selesai Akhir 2017
Kini Ganti Paspor Cukup Bawa e-KTP dan Paspor Lama
Kasus e-KTP, Andi Narogong Disebut Gonta-ganti Mobil hingga 23 Kali
RI Promosi Investasi Danau Toba Senilai Rp 21 Miliar di Inggris
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU