Home  / 
Ketua Dewan Pers:
Pers Indonesia Harus Bisa Menjadi Wasit yang Adil dalam Pemilu Serentak Tahun 2019
Jumat, 9 November 2018 | 17:02:52
Jakarta (SIB) -Pers Indonesia harus bisa menjadi wasit dan pembimbing yang  adil, sekaligus menjadi pengawas yang teliti dan seksama  dalam pelaksanaan Pemilu serentak 17 April tahun 2019 mendatang.   

Bukan  sebaliknya  menjadi pemain yang menyalahgunakan ketergantungan masyarakat terhadap media. Bahkan banyak wartawan yang juga menjadi Caleg secara sembunyi- sembunyi  menjadi joki  politik, bekerja untuk kepentingan politik tertentu.

Ketua Dewan Pers Yoseph Adi Prasetyo  menyatakan hal itu Kamis (8/11) dalam diskusi dengan Tema,  "Menjaga Independensi Media Jelang Pilpres 2019" di Press Room, Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta.  

Turut sebagai narasumber, anggota Komisi I DPR RI, Effendi Simbolon dan pengamat politik Boni Hargens. 

Yoseph Adi Prasetyo membenarkan, bahwa setiap warga negara  dijamin  hak politiknya, sesuai dengan hak asasi  manusia.

"Maju sebagai Caleg boleh saja, karena dijamin oleh Undang-Undang. Tetapi untuk kepentingan  pekerjaan dan profesi wartawan dituntut netral. Biarlah pilihan itu nanti  ditentukan dalam  bilik suara  pada  saat pencoblosan," kata Joseph seraya menambahkan, untuk melayani kepentingan publik di dalam penyiaran,  penulisan termasuk berita yang diupload di online  seyogianya  mewakili  kepentingan publik.

Terkait dengan itu,  Dewan Pers sudah mengeluarkan surat edaran yang  isinya  meminta  seluruh wartawan yang menjadi Caleg, calon anggota DPD, juga menjadi tim sukses atau joki politik supaya  segera nonaktif sebagai wartawan atau mengundurkan diri dari profesi wartawan. 

Sebab,  bekerja sebagai wartawan  harus  untuk kepentingan  publik. Ketika dia bekerja untuk kepentingan kelompok,  golongan apalagi kepentingan pribadi maka sebetulnya dia sudah kehilangan legitimasinya untuk bekerja menjadi wartawan.

"Kita masih bisa melihat bagaimana  ada  pasangan Tim Sukses itu masih menulis editorial, masih muncul di siaran pagi dan membawakan editorial. Kami sudah menyampaikan semacam teguran,  kepada pemimpin redaksinya," ujar Joseph tanpa mengungkap  nama secara jelas  namun disebut terdapat dalam   media-media cukup ternama  dan terkemuka.

Menurutnya, kalau dia membawakan editorial, membawa satu  opini di acara televisi dan dia mengomentari pasangan yang lain, maka orang akan mengatakan media ini tidak benar dan media ini bayes. (J01/f)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Ilmuwan Ingin Menggunakan Laser untuk Memandu Alien ke Bumi
Studi Ungkap Wanita Nigeria Kembangkan Bisnis dengan WhatsApp
Audio High Resolution Picu Peningkatan Speaker Wireless
Mirip Manusia, Robot Berteknologi AI Gantikan News Anchor
BPPT Kurangi Dosis Teknologi Asing untuk Perkapalan
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU