Home  / 
Maruarar Sirait: Tidak Mungkin Terjadi Politik Dua Kaki di PDI-P
Jumat, 14 September 2018 | 17:05:03
Maruarar Sirait
Jakarta (SIB) -Ketua DPP PDIP Maruarar Sirait berpendapat soal isu Partai Demokrat yang dua kaki dalam Pilpres mendatang, merupakan dinamika politik yang harus dihormati, karena mungkin partai Demokrat memiliki khas tersendiri. Tetapi yang pasti, dalam tubuh PDIP, tidak mungkin terjadi karena tidak pernah diajarkan seperti itu.

"Menurut saya, Demokrat punya kekhasan sendiri, yang harus kita hormati, walaupun hal itu tidak mungkin terjadi dalam partai kami," kata Maruarar Sirait kepada wartawan, Kamis (13/9) di kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.

Menurut Ara, merujuk pengalamannya mengurus partai berlambang Kepala Banteng (PDIP) selama 2 periode di tingkat I Jawa Barat, maupun di tingkat pusat, soal kebijakan partai pada awalnya boleh berbeda tetapi setelah musyawarah, akhirnya harus sepakat, tidak boleh mendua.

Soal Calon Gubernur di Pilkada Jabar dan calon Gubernur di Jatim misalnya, awalnya punya dinamika, namun setelah partai mengambil keputusan akhirnya ditemukan kata sepakat.

Ara menceritakan, PDIP di luar pemerintahan selama 10 tahun (2004-2014) merupakan sebuah dinamika. Setelah diskusi mengenai ideologis, realita politik dan idealisme, ditentukan bagaimana posisi PDIP sebagai oposisi.

Meskipun beberapa kali ditawari untuk masuk kabinet, pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhono (SBY), tetapi PDIP tetap konsisten, bertahan di luar pemerintahan dan buahnya seperti sekarang ini.

Sesuai hasil beberapa survei, pada Pemilu tahun 1999 sesudah reformasi PDIP tampil sebagai pemenang. Pemilu tahun 2004 Partai Golkar, tahun 2009 Partai Demokrat dan tahun 2014, kembali dimenangkan PDIP. Dari kenyataan itu dapat dilihat tidak ada partai yang menang dua kali berturut-turut. 
Itu dapat diartikan, jauh lebih berat mempertahankan kepercayaan rakyat daripada merebut kemenangan.

Saat ini, kata Maruarar Sirait, PDI Perjuangan sebagai satu-satunya partai di Indonesia yang kemungkinan bisa menang 2 kali berturut-turut tergantung keputusan rakyat pemilih.

Kadernya tidak ada yang korupsi, sikap atau pilihan politiknya tepat dan simpatik. Pilihannya yang tampil sebagai pemimpin adalah orang-orang yang bisa mengambil keputusan yang benar dan tepat.

Saat pemilihan Cawapres pasangan Capres Joko Widodo (Jokowi) belum lama ini terjadi  dinamika yang luar biasa.

Dia sendiri awalnya mendukung Mahfud MD, dengan alasan kita memerlukan orang yang  nasionalis dan bisa diterima semua pihak, mengingat Jokowi juga perlu dibantu dari kalangan aktivis, kelas menengah, perkotaan dan lain sebagainya.  

Tetapi setelah partai mengambil keputusan, Maruarar sebagai kader partai harus loyal dan dirinya bekerja untuk Capres Jokowi dan Cawapres Kyai Haji Ma'ruf Amin.

Sebagai Caleg dari Dapil Bogor dan Cianjur Jawa Barat atas keputusan partai, Ara akan mempelajari kekurangan supaya bisa mendapat kesempatan kembali untuk kepentingan masyarakat.

Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Syarief Hasan membenarkan, Partai Demokrat menentukan pilihan mendukung Capres Prabowo Subianto-Sandiaga Uno adalah pada menit menit terakhir. Artinya, partai koalisi lainnya, PKS dan PAN sudah melakukan sosialisasi terlebih dahulu dan menyatakan bergabung dengan Prabowo-Sandi Uno.

Keputusan Demokrat diambil 24 Juli 2018, setelah Prabowo bertandang ke kediaman SBY.    Setelah didalami, tentang koalisi maka pada tanggal 30 Juli 2018 conform, Demokrat merapat ke koalisi secara non formal dan formalnya tanggal 10 Agustus 2018.

Hingga sekarang ini tanggal 13 September, berarti belum sebulan. Artinya, untuk melakukan survei internal di seluruh kader Partai Demokrat, masih sangat terbatas. Itulah mungkin salah satu penyebab, mengapa Partai Demokrat masih mendua, soal dukungan Capres/Cawapres. Intinya, hampir 80% kader memilih Capres Prabowo-Sandi dan sisanya memilih Jokowi-KH Ma'ruf Amin.  

Dari yang lebih dari 20% itu memang kebanyakan dari Jawa Timur, Papua, NTT, Bali dan Sulawesi Utara.

Ketua DPP PAN Yandri Susanto menyatakan keliru kalau ada yang menuding Partai Demokrat main di dua kaki, karena dalam rumah yang besar kalau ada perbedaan pendapat merupakan hal yang normal.

Sebab, yang paling penting dilihat bagaimana komandan utamanya, seperti SBY, AHY dan Syarief Hasan. Apalagi sudah ada pertemuan antara Prabowo, Sandi dengan SBY dan jajaran Partai  Demokrat.

Menurut Yandri, Partai Demokrat solid dan sangat sungguh-sungguh untuk memenangkan pasangan Prabowo-Sandi karena kepentingan politik Demokrat ke depan.  

"Jadi kalau ada tudingan Demokrat setengah-setengah memenangkan Prabowo, tidaklah mungkin karena dokumen yang dibawa ke KPU saya juga melihat langsung Pak SBY yang pertama menandatangani," ujar Yandri, sambil menambahkan, jika dihitung jumlah koalisi Jokowi-KH Ma'ruf Amin di atas kertas memang lebih banyak, tetapi berdasarkan pengalaman tahun 2014 lalu, banyaknya jumlah partai pendukung belum bisa dijamin akan tampil sebagai pemenang. (J01/h)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
#2019KitaTetapBersaudara, Pilihan Boleh Beda Persatuan Indonesia yang Paling Utama
Mahir Melukis, Narapidana Bebas dari Penjara
Kakek 83 Tahun Lawan Perampok Bersenjata
Pegawai Supermarket Dipecat Gara-gara Jual 15.000 Apel
Gara-gara Badai Florence, 3,4 Juta Ayam dan 5.500 Babi Mati
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU