Home  / 
UI: Harga Rokok Rp70 Ribu Ampuh Mengurangi Perokok
Jumat, 20 Juli 2018 | 16:48:03
Jakarta (SIB)  -Harga rokok yang tinggi dapat menjadi cara paling ampuh untuk memaksa masyarakat berhenti merokok. Demikian hasil studi Komisi Nasional Pengendalian Tembakau dan Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS-UI).

Berdasarkan hasil penelitian terhadap 1.000 responden pada Mei lalu itu menyimpulkan harga yang dianjurkan ialah Rp70 ribu per bungkus.

Anggota tim peneliti PKJS-UI Renny Nurhasanah mengatakan responden penelitian tersebut terdiri atas 40,4 persen perokok aktif, 50,1 persen responden nonperokok, dan 9,5 persen responden mantan perokok. Prevalensi perokok pada responden laki-laki sebesar 60,67 persen, sedangkan responden perempuan 6,90 persen. Sebanyak 51,32 persen responden dengan tingkat pendidikan rendah dan 48,41 persen responden dengan tingkat pendidikan menengah ialah perokok aktif.

Ia mengungkapkan sebanyak 66 persen dari 404 responden perokok menyatakan akan berhenti membeli rokok apabila harga rokok naik menjadi Rp60 ribu per bungkus. Sementara itu, sebanyak 74 persen dari 404 responden perokok mengatakan akan berhenti merokok apabila harga rokok naik menjadi Rp70 ribu.

"Hal ini menunjukkan dukungan yang positif dari para perokok sendiri untuk menaikkan harga rokok secara signifikan bila dibandingkan dengan harga rokok sekarang, yaitu rata-rata Rp17 ribu per bungkus," ujar Renny, dilansir dari Metrotv,  Rabu (18/7).

Dari penelitian itu juga diketahui, prevalensi perokok aktif pada responden dengan penghasilan keluarga kurang dari Rp2,9 juta sebesar 44,61 persen dan berpenghasilan antara Rp3 juta hingga Rp6,9 juta ialah 41,88 persen. Angka itu lebih tinggi bila dibandingkan dengan responden dari keluarga berpenghasilan lebih dari Rp7 juta yang prevalensinya sebesar 30,91 persen.

Di Indonesia, sebagian besar perokok atau 57,9 persen menghabiskan satu hingga dua bungkus rokok per hari dengan rata-rata belanja rokok Rp24.261. Oleh karena itu, menurut Renny, tidak mengherankan jika Badan Pusat Statistik menyebutkan bahwa rokok menyumbang kemiskinan.

Temuan kajian PKJS UI sebelumnya juga membuktikan bahwa keluarga perokok meningkatkan prevalensi stunting (kerdil) dan tingkat inteligensia yang rendah pada anak mereka. Hal tersebut mengancam rencana pemerintah untuk menghasilkan Generasi Emas 2045. (A21/f)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Bacaleg DPRD SU Jan Rismen Saragih Suarakan Pemekaran Kabupaten Simalungun
Kapolres Tes Urine Mendadak Personil Satres Narkoba Polres Simalungun
Partai Golkar Simalungun Gelar Rapat Koordinasi Atur Strategi Perolehan Suara di Pileg dan Pilpres 2019
Seratusan Pengemudi Angkutan Online Unjukrasa ke Kantor DPRD P Siantar
Kelompok Tani di Sumut Dapat Bantuan Hibah Sapi dan Kambing
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU