Home  / 
Bertemu Sri Mulyani, PGRI Curhat Soal Pembayaran Tunjangan Guru
Rabu, 11 Juli 2018 | 17:44:45
Jakarta (SIB) -Ketua Umum Persatuan Guru Republik Indonesia(PGRI) Unifah Rosyidi mencurahkan isi hatinya kepada Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Curhat tersebut soal tunjangan guru. "Kami para guru, tenaga pendidik ini bertanya-tanya, kenapa kami berbeda dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, dosen dan juga guru dari Kementerian Agama, di mana tunjangan profesi itu dapat dibayar melekat setiap bulan? Guru ini kadang triwulan, bahkan tidak lengkap. Jadi mohon perhatian Ibu. Inilah suara hati dari teman-teman," kata Unifah di Aula Gedung Guru Indonesia, Jakarta, Selasa (10/7).

Menanggapi hal tersebut, Sri Mulyani mengatakan konstitusi Indonesia mengharapkan keberpihakan kepada sumber daya manusia. Oleh karena itu, menurut Sri Mulyani pendidikan menjadi hal yang sangat penting.

Sri Mulyani mengatakan studi dari Bank Dunia menunjukkan kualitas hasil sekolah sangat bergantung dari manajemen sekolah dan kualitas guru. "Saya berharap, bahwa tentu saya bisa mendengar apa aspirasi guru dr sisi kesejahteraan, iya. Saya dengar juga pegawai guru honorer banyak sekali, guru tetapnya ke mana? Ada yang menerima gaji, guru tetapnya tidak mengajar, yang mengajar guru honorer yang gajinya on off," kata Sri Mulyani.

Menurut Sri Mulyani banyak masalah akuntabilitas dari cara mengelola pendidikan, juga termasuk pendidikan di bawah Kementerian Agama. Sri Mulyani menilai cara mengalokasikan anggaran perlu diperbaiki. Hal tersebut harus dilakukan dengan koordinasi antara kementerian lembaga.

"Desain dari pendidikan Indonesia mau apa dan mau ke mana. Karena kalau semua orang pelaku pendidikan sibuk ingin gaji dan tidak memikirikan pendidikannya, jadi siapa yang memikirkan? Desainnya mau gimana? Kalau misal dapat 20 persen ini dipakai, strateginyanya bagaimana? Apakah gaji, perbaikan kualitas giru, sekolah, atau teknologi?," kata Sri Mulyani.

Sri Mulyani mengatakan setiap tahun anggaran untuk pendidikan naik, karena pendapatan dan belanja negara naik. Pemerintah mengalokasikan 20 persen atau Rp 444 triliun Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk pendidikan. Menurut Sri Mulyani pada 2009 anggaran pendidikan sekitar Rp 160 trilun, pada 2013 naik menjadi Rp 332, dan pada 2017 juga naik menjadi Rp 419,8 triliun.

Sri Mulyani mengatakan membentuk suatu nilai dalam pendidikan menjadi hal penting. Dia mencontohkan saat di kelas, murid melihat sikap guru, dari cara menyapa, mengajar, memberi tahu, sampai cara menilai murid.

"Kalau murid les sama saya (guru), pasti dapat nilai bagus, itu berarti sudah korupsi. Sama seperti saya kalau Menteri Keuangan mengatakan ke pengusaha, kalau baik-baik sama saya, pajaknya saya turunin. Itu korupsi, merugikan negara," ujar Sri Mulyani.

Menurut Sri Mulyani integritas adalah nilai yang tidak diperjualbelikan. Sri Mulyani berharap guru juga berkomitmen memperbaiki indeks kualitas hasil belajar mengajar. Sehingga bisa mempertanggung jawabkan betul-betul proses belajar-mengajar yang dilakukan. (T/h)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Anton Panggabean Usulkan Penambahan Honor Guru Gereja dan Imam Mesjid
Sabrina Ajak Seluruh Masyarakat Bersama Lestarikan Lingkungan Hidup
Hari Ini, 6 PJU dan 7 Kapolres Jajaran Poldasu Dilantik
Sejumlah Anggota DPRD Medan dan Staf Diperiksa BPK
Terimakasih Polisi
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU