Home  / 
Harimau Bonita Masih Berkeliaran, 2 Bulan Siswa SD Libur
* Menteri LHK Tugaskan Tim Patroli Tembak Bonita
Jumat, 16 Maret 2018 | 14:59:38
Pekanbaru (SIB) -Siswa sekolah dasar di Desa Tanjung Simpang Kanan, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, sudah 2 bulan diliburkan sejak harimau yang diberi nama Bonita menyerang Jumiati hingga tewas. Hingga saat ini tidak ada siswa yang berani berangkat ke sekolah.

"Jadi sejak warga yang pertama dimangsa harimau, sekolah di kampung ini diliburkan. Tidak ada yang berani ke sekolah, walau sekolah itu berjarak 100 meter dari rumah warga," kata Kepala Dusun Sinar Danau, Sarayo (41), Kamis (15/3).

SD di Desa Tanjung Simpang Kanan tersebut merupakan kelas jarak jauh dari SD negeri, yang berada di pusat desa. Siswa yang bersekolah di SD tersebut berjumlah 34 orang dari kelas I sampai kelas IV. SD tersebut diliburkan karena kekhawatiran warga akan harimau Bonita yang kerap memasuki perkampungan.

"Kadang terlihat harimau itu duduk di bangunan sekolah. Beberapa jam nanti harimaunya pergi. Jangankan anak-anak, kita orang tua saja sudah ketakutan," ujar Sarayo.

Siswa SD tersebut diminta tetap belajar di rumah mereka selama sekolah diliburkan. Selain SD, ada sekolah madrasah sore yang diliburkan.

"Biasanya kan sore hari ada belajar anak-anak mengaji juga. Jadi pengajian sore hari di tempat sekolah itu juga libur," ungkapnya.

Sekolah yang diliburkan akibat ancaman harimau Bonita ini juga sudah disampaikan warga kepada pemerintah desa, kecamatan, hingga ke kabupaten. "Sudah kami kasih tahu semuanya kalau sekolah jarak jauh kami diliburkan gara-gara harimau," tutur dia.

Tugaskan Tim Patroli
Sementara itu, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya, memberi perhatian pada konflik harimau dengan warga Indragiri Hilir (Inhil) yang menewaskan dua orang. Siti memerintahkan tim patroli dibentuk untuk menembak bius harimau Bonita.

"Memang tidak ada cara lain karena harimaunya jalan-jalan. Maka harus ada tim patroli yang siap tembak bius," ucap Siti kepada wartawan di Kantor Kementerian LHK, Jakarta.

Setelah tim patroli menemukan harimau Bonita, maka mereka harus menembak bius. Siti meminta Harimau itu harus dipastikan dalam keadaan hidup.

"Jadi kalau ada harimaunya ketahuan langsung tembak bius dan dirawat di konservasi," ucap Siti.

Siti menjelaskan, keberadaan satwa liar di lingkungan perumahan menjadi perhatian tersendiri. Baginya, banyak konflik terjadi khususnya di perkebunan yang telah menjadi habitat satwa liar seperti harimau atau orang utan.

"Sisa pekerjaan keras yang harus diselesaikan, pertama masalah gambut, kedua soal sawit, ketiga soal penegakan hukum, dan keempat soal habitat satwa liar yang sekarang sudah kelihatan mulai memberikan dampak kepada masyarakat," ucap Siti.

Saat ini, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBSDA) Riau, beserta beberapa lembaga terkait membentuk tim terpadu untuk menangani konflik ini. Ada dua posko yang dibentuk agar memudahkan penangkapan harimau Bonita.

Posko pertama dibangun di lokasi perkebunan dari PT Tabung Haji Indo Plantation (THIP) di kebun Eboni. Posko kedua di Dusun Sinar Danau.

"Posko siaga ini mulai diaktifkan kemarin sampai dengan tujuh hari ke depan," kata Kepala BBKSDA Riau, Suharyono. (detikcom/h)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Jutaan Pria di Tiongkok dan India Terancam Tidak Bisa Menikah
Nasir Pastikan Cabut Aturan Linearitas Pendidikan Tinggi
Polri Bantah Intimidasi Bos First Travel Selama Penyidikan
Musornaslub KONI Tetapkan PON 2024 di Aceh-Sumut
Lahan Sawah di Sumut Tiap Tahun Menyusut
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU