Home  / 
Marak Penyebar Hoax Ditahan, Aktivis Buruh Takut Mengkritik
Selasa, 13 Maret 2018 | 17:32:46
SIB/Victor Ambarita
Sekjen Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia, Eduard Marpaung (kanan) memberikan keterangan pers di Sekretariat KSBSI, Jakarta, Jumat (9/3).
Jakarta (SIB)  -Maraknya penyebar hoax yang ditangkap, membuat aktivis buruh takut untuk mengkritik berbagai kebijakan pemerintah saat ini. Baik kritik secara langsung melalui demonstrasi maupun kritik melalui media sosial.

Ketika ada buruh yang berdemonstrasi untuk menyampaikan aspirasinya pun ditangkap dan masih ditahan hingga kini.

"Menurut data yang dihimpun KSBSI, sejak 2014, sudah ada 40 anggota KSBSI yang ditangkap. Heran juga mengapa media tidak mengangkat kasus ini sebagai kisah tragedi kemanusiaan yang serius," papar Eduard Marpaung, Sekretaris Jenderal Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (Sekjen KSBSI) di Sekretariat KSBSI, Jakarta, Jumat, (9/3).

Eduard membeberkan dirinya merupakan salah satu korban yang terkena tuduhan pencemaran nama baik oleh karena mengkritik melalui media sosial Facebook.

"Saya juga korban, yang terkena tudingan karena dianggap melakukan pencemaran nama baik sesudah menulis sebuah status di Facebook. Padahal, saya hanya menuliskan story telling masalah perburuhan tanpa menyebutkan nama seseorang," urai dia.

Saat ini, menurut Eduard, sulit membedakan antara hoax dan kritik.
"Perbincangan persoalan perburuhan semakin menurun. Karena buruh jadi takut mengkritik soal perburuhan. Juga, ketika berdemonstrasi mesti hati-hati sekarang. Sebab itu, perlu revolusi terhadap cara pandang kita tentang hal ini," ujar dia.

Berita hoax, menurut Eduard, kini menjadi momok yang menakutkan. Akhirnya, di media sosial pun kini terjadi perang meme.

"Banyak orang baik tidak berani lagi mengungkapkan kebenaran karena takut dituding pencemaran nama baik. Sedangkan orang jahat, sebaliknya, berani membuat berita hoax," jelas dia.

"Juga, orang-orang tidak berani lagi berkreativitas untuk membangun opini, karena akan dianggap mendeskriditkan dan menghina. Sebab itu, persoalan ini harus dilihat dengan serius," pungkas dia.

Hal lainnya, Eduard membeberkan persoalan yang tidak dibahas secara mendalam di media massa. Semisal, kebijakan digitalisasi, tarif listrik dan BBM yang tidak ada lagi jenis premium. (J03/Victor/c)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
#2019KitaTetapBersaudara, Pilihan Boleh Beda Persatuan Indonesia yang Paling Utama
Mahir Melukis, Narapidana Bebas dari Penjara
Kakek 83 Tahun Lawan Perampok Bersenjata
Pegawai Supermarket Dipecat Gara-gara Jual 15.000 Apel
Gara-gara Badai Florence, 3,4 Juta Ayam dan 5.500 Babi Mati
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU