Home  / 
Moratorium Proyek Picu Anjloknya Saham BUMN Konstruksi
Kamis, 22 Februari 2018 | 22:08:27
Jakarta (SIB) -Pasca jatuhnya pier head proyek tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu) berimbas kepada saham emiten infrastruktur, khususnya perusahaan yang berada di bawah naungan Kementerian BUMN. Saham perusahaan pelat merah sektor infrastruktur yang terdaftar di bursa rata-rata anjlok.

Ada tiga saham sektor infrastruktur BUMN yang mengalami penurunan dan satu saham bergerak datar pada perdagangan Selasa, 21 Februari 2018. Ketiga saham tersebut yakni PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) yang turun 40 poin atau 1,99 persen ke posisi Rp1.970 per saham. Pada perdagangan sehari sebelumnya masih bertengger di Rp3.110 per saham.

Kemudian saham PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) turun 20 poin atau 0,81 persen ke posisi Rp2.460 per saham, di mana sehari sebelumnya masih di posisi Rp2.480 per saham. PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) turun 60 poin atau 1,93 persen ke posisi Rp3.050 per saham. Sedangkan PT PP (Persero) Tbk (PTPP) hanya bergerak statis atau stabil di posisi Rp3.180 per saham.

Saham Waskita yang terpantau anjlok karena perusahaan merupakan kontraktor dari proyek tol Becakayu. Sehingga direspons negatif oleh pelaku pasar. Proyek Waskita juga dinilai telah beberapa kali mengalami kegagalan.

Head of Research Ekuator Swarna Sekuritas David Sutyanto mengatakan, bukan hanya kejadian banyaknya gagal proyek infrastruktur yang membuat saham BUMN konstruksi melemah, selain itu juga karena adanya moratorium (penghentian) sementara proyek infrastruktur yang telah disampaikan oleh Presiden Jokowi.
"Jadi bukan hanya gara-gara Waskita saja, sebetulnya adanya moratorium kontrak, standar operasi prosedur (SOP), dan sebagainya. Jadi masih akan berdampak ke semua, on time project nantinya juga akan berjalan buruk, makanya berpengaruh ke saham konstruksi," kata David dilansir dari Metrotv, Rabu (21/2).

David mengaku, banyaknya proyek yang dikerjakan BUMN konstruksi pelat merah, membuat perseroan merasa terpikul banyak, apalagi dengan target waktu yang telah ditentukan.

"BUMN karya ini terlalu banyak kontraknya, maka bisa dialihkan ke lain, agar tidak terlalu banyak dipikul dan hasilnya bagus, maka efeknya juga akan bagus bagi pengembangan infrastrukstur," tegas David.

David melanjutkan penurunan saham BUMN konstruksi juga dinilai wajar karena saham mereka sudah naik tinggi.

"(Saham) Telah naik tinggi, terus ditambah kejadian proyek yang banyak kecelakaan, maka mereka pelaku pasar memanfaatkan profit taking, mumpung lagi tinggi, mereka jualan dulu. Pada akhirnya saham-saham BUMN konstruksi mengalami penurunan," jelas David.

Senada, Analis Senior PT Binaartha Parama Sekuritas Reza Priyambada mengatakan pelaku pasar melihat betul perkembangan proyek infrastruktur yang sedang dikerjakan oleh emiten BUMN konstruksi. Namun demikian, tutur Reza, penurunan tersebut hanya bersifat sesaat dan tidak lama lagi akan merekah kembali.
Penurunan yang terjadi kemarin, tambah Reza, juga karena pasar saham yang melemah. "Jadi pasar memanfaatkan berita itu untuk jual saham-saham konstruksi, sehingga banyak yang merah saham BUMN konstruksi," pungkas Reza. (A21/c)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Tim SAR Temukan 2 Titik Objek di Kedalaman 490 Meter Danau Toba
Kabar Terbaru: Posisi KM Sinar Bangun Berhasil Diidentifikasi
Pemerkosa Turis Prancis di Labuan Bajo Terancam 12 Tahun Penjara
Golok Menancap di Dada, Dadan Tewas Diduga Dibunuh
Saat Silaturahmi, Pencuri di Rumah Kosong Dibekuk
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU