Home  / 
Punya Hak Imunitas, TAUKP Siap Dukung Firman Wijaya
Kamis, 22 Februari 2018 | 18:03:53
SIB/Dok
BERI KETERANGAN : Juniver Girsang didamping Luhut MP Pangaribuan, Hotma Sitompoel, Assegaf sebelah kiri batik putih Firman Wijaya memberi keterangan kepada wartawan, Rabu (21/2).
Jakarta (SIB) -Ratusan pengacara yang tergabung dalam tim Advokasi Untuk Kehormatan Profesi (AUKP) siap membela pengacara Setya Novanto, Firman Wijaya yang dilaporkan Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ke Badan Reserse dan Kriminal (Bareskrim Mabes Polri) atas dugaan pencemaran nama SBY pada persidangan kasus dugaan korupsi pengadaan Elektronik Kartu Tanda Penduduk (E-KTP).

Menurut koordinator AUKP, Juniver Girsang, tim advokasi untuk kehormatan profesi menilai apa yang dilakukan Firman Wijaya dalam persidangan terkait di sebut-sebut nama SBY bertujuan untuk menggali kebenaran materiil. Apalagi, Firman Wijaya saat itu sedang menjalankan tugas profesinya.

"Apa yang disampaikan rekan kami, Firman Wijaya di dalam sidang terbuka bertujuan untuk menggali kebenaran materiil di dalam melaksanakan tugasnya sebagai advokat di dalam konteks kekuasaan kehakiman," kata Juniver Girsang, Rabu (21/2).

Juniver Girsang menegaskan profesi advokat memiliki hak imunitas (hak kekebalan hukum) di dalam menjalankan profesinya, baik di dalam maupun di luar sidang untuk tidak dapat dituntut secara perdata maupun pidana. Hal tersebut ditegaskan dalam ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam UU No 18 tahun 2003 tentang Advokat yakni pasal 14, 15 dan 16.

Selain itu, sambung Juniver, terkait profesi advokat juga dilindungi dalam KUHP pasal 50, Putusan Mahkamah Konstitusi No 26/PUU-XI/2013 serta termuat dalam Kode Etik Advokat Indonesia pasal 7 huruf g.

"Berdasarkan ketentuan-ketentuan tersebut di atas, maka seorang advokat tidak dapat dituntut, baik secara perdata maupun pidana dalam menjalankan tugas profesinya dengan itikad baik untuk kepentingan klien di dalam maupun di luar sidang pengadilan," tegas Juniver Girsang.

Menurut Juniver, laporan SBY bermula dari agenda persidangan terdakwa Setya Novanto, mantan Ketua DPR RI, dalam perkara e-KTP di pengadilan Tipikor Jakarta, 5 Februari 2018 yang silam. Pada saat itu, Firman Wijaya yang merupakan salah satu tim kuasa hukum Setnov di saat pemeriksaan saksi bertanya kepada mantan anggota DPR RI dari Partai Demokrat, Mirwan Amir selaku saksi.

Selain itu, bebernya, saksi Mirwan Amir menyampaikan kesaksiannya dibawah sumpah. Saksi menyatakan pernah melaporkan kepada SBY adanya potensi masalah terhadap proyek e-KTP. Tanya jawab dengan saksi itu merupakan satu kewajiban advokat dalam melaksanakan tugas profesinya guna mencari kebenaran materiil di muka persidangan dan karenanya, keterangan tersebut harus dianggap benar, karena majelis hakim tidak memerintahkan untuk diperiksa sebagai keterangan atau kesaksian palsu.

Terkait pernyataan Firman Wijaya kepada wartawan di luar persidangan, Juniver Girsang menegaskan bahwa apa yang disampaikan Firman Wijaya merupakan pengulangan yang mengutip sesuai yang terjadi di dalam ruang sidang sebagaimana disampaikan oleh saksi Mirwan Amir yang menyebut nama penguasa partai pemenang tahun 2008 dan oleh karenanya tidak dinyatakan sebagai fitnah dan pencemaran nama baik.

Karena itu, Juniver menilai laporan SBY ke polisi dapat dikualifisir sebagai tindakan yang berupaya untuk mencegah, merintangi atau menggagalkan secara langsung atau tidak langsung penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan di sidang pengadilan terhadap tersangka dan terdakwa ataupun para saksi dalam perkara korupsi.

Hal mana juga memiliki konsekwensi hukum melanggar ketentuan pasal 21 UU Tipikor. Karena sejatinya Firman Wijaya sedang berupaya mencari dan menemukan kebenaran materiil di dalam persidangan kasus e-KTP dengan terdakwa Setya Novanto.

"Karena itu tim Advokasi Profesi mendukung sepenuhnya rekan-rekan advokat yang sedang bersidang, menangani perkara e-KTP agar dalam menjalankan tugas dan tanggungjawabnya sebagai penasehat hukum tidak dihinggapi rasa takut demi untuk menemukan kebenaran materiil di dalam perkara tersebut," pungkasnya.
Selain Juniver Girsang, Luhut MP Panggaribuan, Hotma Sitompoel, Saor Siagian, Mohammad Assegaf, Teguh Samudera, Petrus Selestinus, Harry Pontohn Petrus Balapattyona, ratusan advokat muda juga ikut membela Firman Wijaya. (J02/f)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Polrestabes Medan Bekuk Bandar Narkoba Antar Provinsi
13 Tahanan Unit Narkoba Polres Kepulauan Seribu Kabur
Miliki Sabu, Seorang Warga Sei Kepayang Ditangkap
Polres Simalungun Ungkap 10 Tersangka Jaringan Narkoba
Perdaya Emak-emak, Seorang Pria Diamankan
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU