Home  / 
Ombudsman Nilai Novel Tak Kooperatif Saat Diperiksa soal Teror
* Kondisi Novel Membaik Pasca Operasi Mata Kiri
Rabu, 14 Februari 2018 | 16:44:50
Jakarta (SIB) -Ombudsman menilai pemeriksaan penyidik KPK terhadap Novel Baswedan dalam kasus teror air keras dinilai belum maksimal. Ombudsman menyebut Novel tidak kooperatif ketika diperiksa polisi.

"Dari pengakuan polisi sendiri, Pak Novel amat irit bicara dan dari pihak Pak Novel selalu 'nanti serahkan saja ke pihak TGPF', kesan saya bahwa (Novel) tidak kooperatif," ujar komisioner Ombudsman Adrianus Meliala kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (13/2).

Adrianus mengatakan beberapa pihak menduga teror yang terjadi berkaitan dengan pekerjaan Novel sebagai penyidik KPK. Menurutnya, Novel ataupun KPK seharusnya terbuka kepada penyidik kepolisian.

"Artinya kalau (motif teror) menyangkut tugas-tugasnya (Novel) itu harusnya ada dua pihak yang amat kooperatif dong. Yang pertama adalah Novel, kedua KPK," ujar Adrianus.

"Nah, kedua pihak ini kelihatannya tadi tidak kooperatif dalam rangka memberikan informasi berkaitan dengan tugas-tugasnya (Novel)," imbuh Adrianus.

Dia pun menilai hal itu sebagai salah satu penghambat penyelidikan polisi sehingga polisi tidak bisa maksimal mendalami soal siapa pelakunya. Untuk itu, Adrianus menyarankan polisi kembali memeriksa Novel.

"Sehingga tidak ada salahnya pihak Polri meminta keterangan kembali dari pihak Novel," kata Adrianus.

Dalam beberapa kesempatan, Novel memang ingin kasusnya tidak diselidiki Polri. Novel lebih percaya Presiden Joko Widodo (Jokowi) membentuk tim gabungan pencari fakta (TGPF) untuk mengungkap pelaku di balik teror yang dialami Novel.

Cuma 6 Baris
Ombudsman menyebut berita acara pemeriksaan (BAP) Novel Baswedan terkait kasus teror penyiraman air keras hanya beberapa lembar. Isi BAP itu juga disebut sumir atau ringkas saja.

"(Pertanyaan penyidik di BAP) misalnya, 'bapak apakah sehat?' Dibilang sehat, ya mana mungkin sehat sih. 'Bisa tidak jelaskan tentang kronologi?', (jawaban Novel) cuma 6 baris. 'Siapakah yang ditemui terakhir?', jadi (keterangan Novel) sumir-sumir," ujar komisioner Ombudsman Adrianus Meliala.

"Asumsi saya sumir karena mana ada BAP korban 2 lembar untuk kasus seserius itu. Maka singkatnya Polri merasa perlu untuk memformalkan agar keterangan Novel bisa dipakai untuk dasar penangkapan," imbuh Adrianus.

Menurut Adrianus, dalam suatu BAP biasanya polisi mengejar keterangan korban atau saksi dalam pemeriksaan tersebut. Namun, dalam BAP Novel ini, polisi terlihat tidak mengejar pernyataan Novel dikarenakan beberapa hal.

"Biasanya Polri kan ngejar. Polisi juga nggak enak kan ngejarnya, (karena) pasti kan ada dokter di situ," sebut Adrianus.

Sebelumnya, Adrianus menyampaikan ketebalan BAP Novel itu hanya beberapa lembar. Hal itu disebut Adrianus menunjukkan tidak maksimalnya pemeriksaan Novel oleh polisi.

"(BAP) dua sampai tiga lembar, tipis sekali. Maka bukan suatu BAP yang mendalam begitu, maka kemudian hendak diperkaya dengan BAP baru," ujar Adrianus.

Membaik
Kondisi Novel Baswedan disebut baik-baik saja pasca menjalani operasi tambahan pada mata kirinya, Senin (12/2). Penyidik senior KPK itu pun telah dicek kondisinya oleh tim dokter.

"Hasil kontrol setelah operasi adalah kondisi kedua mata secara umum dalam keadaan baik. Suplai darah ke jaringan mukosa/mata baik dan diharapkan jaringan dapat tumbuh dengan baik," ungkap Kabiro Humas KPK Febri Diansyah.

Febri menyebut, kontrol perlu dilakukan kembali besok sore dan seminggu lagi. Untuk menunjang perawatan matanya, Novel diberi obat tetes mata dan mengonsumsi antibiotik.

Operasi yang dilakukan Senin (12/2) dijelaskan Febri merupakan operasi tambahan untuk menutup area tengah selaput mata kiri yang pertumbuhannya kurang baik.

"Dan juga terdapat operasi tambahan yaitu operasi penggantian implan dikarenakan saat pemindahan jaringan selaput gusi, implan harus ikut pindah posisi dan diganti untuk menjaga/pemeliharaan saluran glaukoma," ucap Febri.

Selain itu, dia juga menunjukkan foto Novel bersama anak laki-lakinya yang masih balita. Mata kiri Novel tampak ditutup perban.

Walau demikian, dari foto itu tampak tidak ada hambatan bagi Novel untuk beraktivitas. Novel yang mengenakan baju pasien rumah sakit berwarna biru ini, terlihat seperti bercanda.

Novel disiram air keras pada 11 April 2017, namun pelaku penyerangannya hingga kini belum juga ditemukan. Sejak itu, Novel harus menjalani perawatan di Singapura dan sudah menjalani beberapa kali operasi untuk memulihkan kondisi matanya. (detikcom/h)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Pengurus DPW Doakan Jokowi Menang Sumut Dilantik, Tuani Lumbantobing Ketua
CSIS: Prabowo Alami Stagnasi Elektoral
Bawaslu Jadwalkan Panggil Kepala Daerah di Riau Pendukung Jokowi
Sandiaga Resmikan Posko Pemenangannya di Rumah Keluarga Soeharto
Tensi Pilpres 2019 Makin Panas Karena Medsos
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU